09 December 2018

Inilah Penyebab dan Gejala Retensio Plasenta

Inilah Penyebab dan Gejala Retensio Plasenta

Halodoc, Jakarta - Ketika hamil, ibu wajib menjaga kondisi kesehatan, baik kesehatan tubuh ibu, maupun janin yang berada di dalam kandungan. Pasalnya, komplikasi kehamilan sangat rentan menyerang. Seperti misalnya tertahannya plasenta di dalam rahim, atau yang dikenal dengan retensio plasenta. Penting untuk ibu mengenali gejala retensio plasenta, supaya bisa mendapatkan penanganan segera.

Pada kondisi normal, plasenta seharusnya turut keluar dari rahim setelah ibu melahirkan. Artinya, setelah sang buah hati lahir, ibu tetap berkontraksi untuk mengeluarkan plasenta dari dalam rahim. Namun, pada kasus retensio plasenta, plasenta tetap tinggal di dalam rahim dalam jangka waktu 30 menit setelah ibu melahirkan. Kondisi ini membuat ibu mengalami perdarahan hebat setelah bersalin, dan jika tidak segera mendapatkan penanganan, komplikasi kehamilan ini bisa menyebabkan infeksi, bahkan berujung pada kematian.

Penyebab Retensio Plasenta

Pada dasarnya, retensio plasenta terbagi menjadi 3 jenis jika dilihat dari penyebabnya, seperti berikut ini.

  • Plasenta terjebak, yang terjadi ketika plasenta justru terlepas dari dinding rahim, tetapi tidak bisa keluar dari tubuh. Plasenta sering tersangkut karena serviks yang mulai menutup setelah sang janin keluar dari rahim.

  • Plasenta akreta, yang terjadi ketika plasenta menempel pada lapisan otot dinding rahim terlalu dalam. Ini bisa membuat ibu kesulitan ketika melahirkan secara normal.

  • Plasenta adheren, yang terjadi ketika rahim tidak mampu berkontraksi untuk mengeluarkan plasenta dari rahim. Jadi, meski ibu sudah berkontraksi, plasenta tetap tertahan pada dinding rahim.

Lalu, Apa Gejala Retensio Plasenta?

Gejala retensio plasenta yang paling utama adalah plasenta tertahan di dalam rahim hingga satu jam setelah ibu melahirkan sang buah hati. Jika tidak segera diatasi, tertinggalnya plasenta ini bisa diikuti dengan hal-hal berikut ini.

  • Rasa nyeri yang terjadi dalam waktu lama.

  • Vagina mengeluarkan cairan yang berbau tidak sedap.

  • Perdarahan hebat.

  • Kenaikan suhu tubuh.

Retensio plasenta bisa dialami siapa saja, tetapi ibu hamil dalam kondisi berikut ini akan lebih berisiko:

  • Harus melahirkan sang buah hati saat usia kehamilan masih 34 minggu, atau mengalami kelahiran prematur.

  • Ibu berusia lebih dari 30 tahun ketika mengandung.

  • Ibu mengalami persalinan dengan kondisi janin meninggal ketika masih di dalam kandungan.

  • Ibu mengalami proses bersalin dengan kala 1 atau 2 yang durasinya cukup lama.

Biasanya, dokter akan mengatasi gejala retensio plasenta dengan cara mengeluarkan plasenta dari rahim ibu menggunakan tangan. Namun, cara ini memerlukan kehati-hatian, karena risiko ibu mengalami infeksi sangat besar. Selain itu, mengatasi retensi plasenta bisa dengan penggunaan obat ergometrine yang diberikan dengan cara disuntik, atau pemberian oksitosin. Obat ini dapat membantu ibu berkontraksi, sehingga plasenta bisa keluar.

Jadi, pastikan ibu memeriksakan kondisi kehamilan secara rutin, supaya gejala komplikasi sekecil apapun bisa dideteksi dan mendapatkan penanganan dini. Jangan bingung jika ibu memiliki pertanyaan seputar retensio plasenta atau komplikasi kehamilan lainnya, karena sekarang ibu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Ibu bisa download aplikasi Halodoc melalui App Store maupun Play Store.

Baca juga: