05 December 2018

Inilah 5 Orang yang Rentan Terkena Penyakit Radang Otak

penyakit radang otak

Halodoc, Jakarta - Gangguan penyakit radang otak tentu perlu diwaspadai, karena dapat mengancam nyawa seseorang, terutama bayi dan anak-anak. Namun, tidak hanya bayi atau anak-anak, orang dewasa pun tidak terlepas dari ancaman penyakit mematikan ini.

Radang otak, atau yang dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah meningitis, merupakan terjadinya peradangan di selaput-selaput otak yang disebut meningen, yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak.

Meningitis juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi, seperti kanker. Selain itu, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh luka fisik atau obat-obatan tertentu. Di samping itu, meningitis yang disebabkan oleh bakteri lebih berbahaya dibanding virus. Bakteri ini adalah pneumokokus yang dapat mengakibatkan kematian, khususnya pada anak-anak. Bakteri pneumokokus memang dapat hidup dan diam di tenggorokan 10 persen orang sehat, baik bayi, balita, dan individu dewasa.

Siapa saja yang rentan terkena penyakit radang otak? berikut daftarnya:

  1. Usia Muda

Kebanyakan gangguan radang otak disebabkan oleh virus dan bakteri terjadi kepada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Namun, sejak pertengahan tahun 1980-an, setelah adanya vaksin untuk anak, pengidap meningitis bergeser dari usa 15 bulan sampai 25 tahun.

Menurut data, sekitar 50 persen anak yang terkena meningitis dilaporkan meninggal. Jika lolos dari maut, balita akan mengalami gejala-gejala dari sisa penyakitnya seperti lumpuh, tuli, epilepsi, lamban, dan retardasi mental.

  1. Orang yang Tinggal di Hunian Padat Penduduk

Orang yang tinggal di perumahan padat penduduk, siswa yang tinggal di asrama, penghuni pangkalan militer, atau anak-anak yang dititipkan di penitipan anak (day care), mereka rentan terhadap risiko meningitis. Hal ini karena penyebaran penyakit menjadi lebih cepat jika sekelompok orang berkumpul.

  1. Ibu Hamil

Pada wanita hamil, ada peningkatan kontraksi listeriosis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria, yang juga dapat menyebabkan meningitis. Jika ibu hamil memiliki listeriosis, bayi yang belum lahir pun akan berisiko terkena penyakit ini.

  1. Berada di Lingkungan yang Banyak Hewan

Pekerjaan yang selalu berhubungan dengan hewan, seperti peternak, juga memiliki risiko tinggi tertular listeria, yang dapat mengakibatkan meningitis.

  1. Orang dengan Sistem Kekebalan Tubuh Lemah

Dalam kategori ini termasuk:

  • Bayi yang lahir kurang bulan (prematur) dan berat lahir rendah.

  • Bayi yang hanya diberi ASI sebentar atau sedikit.

  • Orang yang sering terpapar asap rokok.

  • Orang yang sering mengalami infeksi virus di saluran pernapasan.

  • Pengidap penyakit kronis, seperti kanker, diabetes, dan HIV.

  • Pengguna obat imunosupresan juga lebih rentan terhadap meningitis.

Sekitar 25 persen orang yang terkena meningitis memiliki gejala yang berkembang selama 24 jam. Selebihnya, akan berkembang sekitar selama 1 hingga 7 hari. Terkadang, jika seseorang mengonsumsi antibiotik untuk infeksi lain, gejala dapat berkembang lebih lama.

Dampak radang otak tentu tidak sama pada tiap pengidap. Ada yang dapat sembuh total, tapi ada juga yang mengalami komplikasi. Di antara seluruh kasus radang otak yang terjadi, diperkirakan sekitar 10 persen meninggal dunia.

Risiko komplikasi yang mungkin terjadi tergantung pada banyak faktor. Di antaranya adalah usia pengidap, penyebab terjadinya infeksi, jenis dan tingkat keparahan radang otak, serta kecepatan penanganan.

Nah, untuk mendapatkan penanganan yang tepat, ada baiknya kamu segera melakukan tanya jawab dengan dokter melalui aplikasi Halodoc saat mengalami gejala radang otak. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!

Baca juga: