15 January 2019

Inilah Orang yang Rentan Mengidap Hepatitis D

Inilah Orang yang Rentan Mengidap Hepatitis D

Halodoc, Jakarta – Hepatitis D merupakan jenis penyakit yang terjadi akibat virus hepatitis D (HDV). Meski jarang terjadi, namun penyakit ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Sebab, hepatitis D termasuk dalam jenis penyakit yang serius. Serangan virus hepatitis D menyebabkan radang pada organ hati.

Seseorang berisiko tinggi terserang virus penyakit ini jika sebelumnya memiliki riwayat penyakit hepatitis B. Dengan kata lain, virus hepatitis D membutuhkan virus hepatitis B untuk dapat menjangkiti sel hati. Hepatitis B merupakan jenis penyakit hati yang ditularkan melalui kontak darah dari orang yang sebelumnya sudah terinfeksi. Biasanya, infeksi ini terjadi melalui proses transfusi atau menggunakan alat medis, seperti jarum suntik yang sudah terkontaminasi virus hepatitis B.

Baca juga: A, B, C, D, atau E, Jenis Hepatitis yang Paling Parah?

Selain itu, virus hepatitis B juga bisa ditularkan melalui air mani atau cairan tubuh lainnya, dan bisa juga ditularkan dari ibu pada bayi melalui proses persalinan. Hepatitis B termasuk jenis penyakit yang berbahaya, karena dapat menyebabkan kematian. Diperkirakan ada jutaan orang di dunia yang mengidap penyakit hepatitis B.

Selain orang yang sebelumnya sudah terinfeksi virus hepatitis B, ada kelompok lain yang juga berisiko tinggi terserang hepatitis D. Di antaranya adalah orang yang sering menerima transfusi darah, sering menggunakan jarum suntik terutama yang tidak steril, dan orang-orang yang melakukan hubungan intim tidak aman.

Untuk mencegah penyakit ini, bisa dilakukan dengan “membentengi” diri melalui pemberian vaksin, terutama vaksin hepatitis B. Dengan demikian, tubuh memiliki kekebalan tubuh dan tidak mudah terinfeksi virus hepatitis B yang bisa berkembang menjadi hepatitis D.

Baca juga: Aturan Pola Makan untuk Pengidap Hepatitis D

Gejala dan Pencegahan Hepatitis D

Kabar buruknya, infeksi hepatitis D sering muncul tanpa menimbulkan gejala sama sekali. Tak hanya itu, kondisi ini pun seringkali sulit dibedakan dengan gejala infeksi virus hepatitis lainnya, terutama gejala hepatitis B yang memiliki gejala paling mirip.

Pada dasarnya, hepatitis D memang membutuhkan virus hepatitis B untuk dapat menjangkiti sel hati. Ada dua cara penyebaran virus yang bisa terjadi. Yang pertama adalah infeksi bersamaan virus hepatitis B dan hepatitis D. Cara yang kedua adalah infeksi virus hepatitis D terjadi setelah seseorang sudah terjangkit virus hepatitis B sebelumnya.

Setelah menyerang, virus hepatitis D membutuhkan waktu (masa inkubasi) sebelum akhirnya menimbulkan gejala. Masa inkubasi yang dibutuhkan virus hepatitis D adalah sekitar 21—45 hari. Meski begitu, ada kemungkinan masa inkubasi terjadi dalam waktu yang lebih cepat. Biasanya, kondisi ini akan memicu gejala-gejala yang bersifat umum, seperti kulit dan mata menjadi kuning, mudah merasa lelah, nyeri sendi, sakit di seputar perut, hingga mual dan muntah.

Baca juga: Perlu Tahu, Begini Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis D

Infeksi virus hepatitis D juga bisa menyebabkan gejala penurunan nafsu makan, warna urine yang berubah gelap, gatal-gatal, hingga memar dan perdarahan. Cara terbaik untuk mencegah kondisi ini adalah dengan mencegah terjadinya hepatitis B. Kamu bisa memulainya dengan melakukan vaksinasi hepatitis B. Selain itu, menghindari penggunaan obat-obatan terlarang, dan selalu menerapkan kebiasaan melakukan hubungan intim dengan aman juga bisa menjadi cara terbaik untuk mencegah serangan virus hepatitis D.

Cari tahu lebih lanjut seputar penyebaran virus hepatitis D dan cara mencegahnya dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!