21 September 2018

Inilah yang Dimaksud dengan Hepatitis D

hepatitis d, penyebab hepatitis D, gejala hepatitis d

Halodoc, Jakarta – Salah satu jenis lain dari penyakit hepatitis adalah hepatitis D. Setiap jenis hepatitis memiliki metode penyebaran dan gejala yang berbeda-beda. Namun, khusus untuk hepatitis D, penyakit ini membutuhkan virus Hepatitis B untuk menjangkiti sel hati.

Penularannya dapat terjadi dengan dua acara. Pertama adalah infeksi bersamaan secara simultan hepatitis B dengan hepatitis D (koinfeksi). Sedangkan cara yang kedua adalah infeksi virus hepatitis D pada individu yang telah terinfeksi Hepatitis B sebelumnya (superinfeksi).

Hepatitis D dapat menimbulkan penyakit akut maupun kronis. Hepatitis D akut terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan gejala yang lebih hebat dibanding hepatitis D kronis. Jika infeksi hepatitis D terjadi selama 6 bulan atau lebih, infeksi yang terjadi merupakan infeksi kronis.

Pada infeksi kronis, gejala hepatitis D yang timbul akan berkembang dan bertambah parah secara perlahan. Virus biasanya menetap di tubuh selama beberapa bulan sebelum gejala pertama muncul. Semakin lama infeksi hepatitis D terjadi, risiko terjadinya komplikasi akibat penyakit ini semakin tinggi.

Hingga saat ini, masih belum diketahui obat untuk menyembuhkan hepatitis D maupun vaksin untuk mencegah infeksi hepatitis D. Namun, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin hepatitis B karena virus Hepatitis D hanya dapat menyebabkan infeksi bila terdapat virus Hepatitis B.

Pengobatan hepatitis D yang dilakukan sedini mungkin dapat mencegah terjadinya gagal hati pada penderitanya. Infeksi Hepatitis D penting dideteksi karena dapat menyebabkan gagal hati dan perburukan cepat ke arah sirosis dan kanker hati, serta meningkatnya angka kematian pada pengidap dewasa.

Gejala Hepatitis D

Infeksi hepatitis seringkali bersifat asimptomatik (tidak menimbulkan gejala) pada sekitar 90 persen pengidapnya. Selain itu, infeksi hepatitis D seringkali sulit dibedakan dari infeksi virus hepatitis lainnya secara klinis, terutama gejala infeksi virus hepatitis B.

Gejala hepatitis B dan D sangat mirip, sehingga sulit untuk menentukan virus mana yang menimbulkan gejala pada pengidapnya. Pada beberapa kasus, hepatitis D dapat membuat gejala hepatitis B menjadi lebih buruk.

Selain itu, pengidap hepatitis B dengan gejala asimptomatik dapat mengalami gejala hepatitis B akibat infeksi hepatitis D. Periode inkubasi hepatitis D, yaitu waktu yang dibutuhkan virus dari terpapar hingga menimbulkan gejala, adalah 21-45 hari. Namun, dapat juga berlangsung lebih cepat, terutama pada superinfeksi. Gejala hepatitis D yang umumnya ditemui antara lain adalah:

  1. Kulit dan mata menjadi kuning.
  2. Rasa Lelah.
  3. Mual dan muntah.
  4. Nyeri sendi.
  5. Nyeri perut.
  6. Kehilangan nafsu makan.
  7. Warna urine berubah menjadi gelap seperti teh.
  8. Gatal-gatal.
  9. Mudah bingung.
  10. Memar dan perdarahan.

Penyebab Hepatitis D

Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (HDV) yang dapat menyebar melalui cairan tubuh atau kontak langsung dengan penderita. HDV dapat ditularkan melalui:

  1. Urine.
  2. Kehamilan (dari ibu ke janin).
  3. Persalinan (dari ibu ke bayi).
  4. Cairan sperma.
  5. Cairan vagina.
  6. Darah.

Jika seseorang sudah terinfeksi HDV, orang tersebut dapat menularkan HDV ke orang lain, bahkan sebelum gejala hepatitis D muncul. Beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah terkena hepatitis D antara lain adalah:

  1. Terkena infeksi hepatitis B.
  2. Sering menerima transfusi darah.
  3. Melakukan seks anal.
  4. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik, misalnya heroin.
  5. Pasien cuci darah.
  6. Pekerja fasilitas kesehatan.

Cara pencegahan hepatitis D terbaik adalah dengan mencegah terjadinya hepatitis B. untuk menghindari terjadinya hepatitis B, kamu perlu berdiskusi dengan dokter di Halodoc. Informasi dokter bisa kamu dapatkan dengan cara Chat atau Voice /Video Call di aplikasi Halodoc. Yuk, buruan download aplikasi Halodoc sekarang!

Baca juga: