Jangan Diabaikan, Ini Akibat Kusta yang Tidak Diobati

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
kusta

Halodoc, Jakarta - Kusta, atau yang lebih dikenal dengan sebutan lepra merupakan penyakit pada kulit yang menyerang saraf perifer, selaput lendir, saluran pernapasan atas, dan juga mata. Penyakit ini akan menyebabkan luka pada kulit, melemahnya otot, kerusakan saraf, bahkan mati rasa. Penyakit kusta sendiri akan ditandai dengan sejumlah gejala, seperti:

  • Adanya lesi pucat dan menebal pada area kulit yang terkena.

  • Mati rasa terhadap adanya sentuhan, tekanan, perubahan suhu, atau rasa sakit.

  • Adanya luka yang tidak terasa sakit.

  • Rontoknya alis dan bulu mata.

  • Mengalami kelemahan otot, terutama pada otot tangan dan kaki.

  • Mengalami mata kering, bahkan dapat menimbulkan kebutaan dalam kasus yang jarang terjadi.

  • Mengalami kerusakan jaringan pada hidung, sehingga menimbulkan mimisan, atau hidung tersumbat.

Gejala yang dialami tidak akan langsung muncul. Bahkan, gejala bisa saja muncul setelah bertahun-tahun seseorang mengidap infeksi bakteri. Jika gejala yang muncul dibiarkan begitu saja, berikut komplikasi yang ditimbulkan.

Baca juga: Ketahui 3 Jenis Kusta dan Gejala yang Dialami oleh Pengidapnya

Jangan Diabaikan, Ini yang Akan Terjadi Jika Gejala Dibiarkan

Keparahan komplikasi yang ditimbulkan akan tergantung pada seberapa cepat penyakit didiagnosis dan diobati. Jika gejala yang muncul dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, berikut komplikasi yang dapat ditimbulkan:

  • Glaukoma, yaitu kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Hal ini dapat menyebabkan kebutaan.

  • Mati rasa pada area yang terkena.

  • Mengalami perubahan bentuk wajah, termasuk pembengkakan permanen dan benjolan.

  • Gagal ginjal, yaitu kondisi saat ginjal kehilangan kemampuan untuk menyaring zat sisa dari darah dengan baik.

  • Mengalami disfungsi ereksi dan kemandulan pada pria.

  • Mengalami kerusakan saraf permanen di luar otak dan saraf tulang belakang, termasuk lengan, tungkai kaki, dan telapak kaki.

  • Mengalami kerusakan permanen pada bagian dalam hidung, yang dapat menyebabkan mimisan dan, hidung tersumbat kronis

Baca juga: Jangan Dijauhi, Pengidap Kusta Bisa Sembuh Tuntas

Kerusakan saraf akibat dari kusta bahkan dapat menyebabkan hilangnya sensasi perasa. Pengidap bisa saja tidak merasakan sakit ketika tangan atau kakinya dipotong, dibakar, atau terluka. Pengidap kusta yang didiskriminasi oleh masyarakat di sekitarnya bisa saja mengalami gangguan mental, seperti depresi yang berujung pada percobaan bunuh diri.

Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, segera lah temui dokter ahli di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc. Kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan total dengan melakukan pengobatan secara rutin. Jika gejala yang muncul dibiarkan saja, pengidap bisa mengalami kecacatan, baik yang sementara maupun permanen.

Baca juga: Jangan Salah Kaprah, Begini Cara Penularan Kusta yang Harus Dipahami

Adakah Cara untuk Mencegah Penularan Kusta?

Sampai saat ini belum ada vaksinasi yang dapat mencegah penyakit kusta. Satu-satunya pengobatan yang dilakukan adalah memutus rantai penularan kusta dengan pengobatan yang tepat. Penyakit yang satu ini sangat mudah menular melalui cairan hidung yang telah terkontaminasi bakteri Mycobacterium leprae, yang menyebar ke udara ketika penderita batuk atau bersin, dan dihirup oleh orang lain.

Penyakit yang satu ini sangat berbahaya, sudah seharusnya kamu untuk lebih berhati-hati dalam melakukan upaya pencegahan. Beberapa langkah yang dapat kamu lakukan untuk mencegah penularan kusta, yaitu:

  • Menjaga daya tahan tubuh.

  • Perhatikan ventilasi rumah, jangan sampai lembap.

  • Hindari bepergian ke daerah endemik kusta.

  • Pakai masker ketika keluar rumah.

  • Jaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar tempat tinggal.

Jika sudah melakukan serangkaian pencegahan, tetapi kamu tetap mengeluhkan adanya tanda awal kusta, segera diskusikan dengan dokter agar dapat ditangani dengan baik.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Leprosy. 
WebMD. Diakses pada 2019. Leprosy.