Jangan Keliru, Ketahui Mitos Tentang Bell's Palsy

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Jangan Keliru, Ketahui Mitos Tentang Bell's Palsy

Halodoc, Jakarta – Bell's palsy adalah kelumpuhan otot wajah yang menyebabkan salah satu sisi wajah tampak melorot. Tak heran jika sebagian orang menganggap bahwa kondisi ini serupa dengan stroke, tapi, benarkah begitu? Agar kamu tak keliru dalam mengenali bell’s palsy, berikut ini mitos dan fakta yang perlu diketahui.

Baca Juga: Ketahui Bell’s Palsy, Serangan Kelumpuhan Mendadak

Mitos: Bell’s Palsy Sama dengan Stroke

Faktanya, bell's palsy dan stroke adalah dua penyakit yang berbeda. Stroke terjadi akibat adanya kelainan pembuluh darah di bagian otak, sedangkan bell's palsy adalah peradangan pada saraf wajah . Perbedaan lainnya terletak pada kondisi wajah saat terjadi kelumpuhan.

Pada kasus stroke, meski mulut dalam kondisi miring, pengidap masih bisa menutup kedua mata. Sedangkan pada kasus bell's palsy, pengidap tidak dapat menutup mata dengan sempurna saat terjadi kelumpuhan.

Mitos: Bells’ Palsy Tidak Bisa Disembuhkan

Kelumpuhan wajah akibat bell's palsy umumnya bersifat sementara, sehingga bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Hanya pengidap dengan gejala lebih parah yang membutuhkan penanganan serius, tujuannya untuk mempercepat kesembuhan dan mencegah komplikasi jangka panjang. Pengobatan bell's palsy meliputi konsumsi obat (seperti obat kortikosteroid, antivirus, pereda nyeri), fisioterapi, hingga suntik botox.

Jika pengidap sulit menutup kelopak mata, pengidap bisa menggunakan obat tetes mata pada siang hari, mengoleskan salep mata pada malam hari, menggunakan pelindung mata atau kacamata, serta menutup kelopak mata dengan perekat saat tidur.

Baca Juga: Benarkah Udara Dingin di Gunung Dapat Sebabkan Bell's Palsy?

Mitos: Gejala Bell’s Palsy Hanya Kelumpuhan Wajah

Gejala utama bell's palsy adalah kelumpuhan wajah, ditandai dengan salah satu wajah tampak melorot yang disertai dengan gangguan pada mata. Namun, bukan berarti hanya terdapat satu gejala saja. Pengidap bell's palsy juga merasakan nyeri di sekitar rahang dan belakang telinga, pusing, menurunnya kemampuan mengecap rasa, mata berair, kelopak mata berkedut, ngeces, tinnitus, dan lebih sensitif terhadap suara.

Mitos: Pengobatan Bell’s Palsy Membutuhkan Waktu Lama

Lama pengobatan bell's palsy tergantung pada tingkat keparahan. Pengidap bell's palsy dengan gejala ringan hanya membutuhkan waktu pemulihan sekitar 2 minggu sampai enam bulan.

Pada gejala yang lebih parah, proses penyembuhan bisa memakan waktu lebih lama. Pengobatan yang tepat, didukung dengan kedisiplinan pengidap menjalaninya, bisa membantu mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan.

Mitos: Tidak Ada Komplikasi Akibat Bell’s Palsy

Meski bersifat sementara, bell’s palsy yang tidak mendapat perawatan yang tepat bisa menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Komplikasi bell's palsy yang perlu diwaspadai adalah kerusakan saraf wajah permanen, gerakan otot yang muncul tanpa disengaja (di luar kendali), luka pada kornea mata (ulkus kornea), dan kehilangan kemampuan mengecap rasa.

Baca Juga: Jangan Dianggap Remeh, Bell's Palsy Sebabkan 6 Komplikasi Ini

Jadi, jangan percaya lagi informasi keliru seputar bell’s palsy, ya. Kalau kamu punya pertanyaan seputar bell’s palsy, jangan ragu berbicara dengan dokter Halodoc. Kamu hanya perlu membuka aplikasi Halodoc dan masuk ke fitur Talk to A Doctor untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!