Jangan Takut, Lawan Stigma Mengenai Gangguan Jiwa

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
stigma gangguan jiwa, kesehatan mental, penyakit kejiwaan

Halodoc, Jakarta - Orang pada umumnya akan menganggap kata “penyakit” sebagai keluhan fisik yang dialami ketika seseorang memiliki keluhan pada kesehatannya. Namun, apakah kamu tahu kalau “penyakit” di sini dapat diartikan sebagai penyakit kejiwaan. Masyarakat umum jarang sekali menemukan seseorang yang mengeluh tentang masalah kejiwaan yang dialami. Sebab, seseorang bisa saja diberi stigma buruk oleh orang-orang disekitarnya. 

Baca juga: 4 Gangguan Mental yang Terjadi Tanpa Disadari

Bahkan, seseorang dengan stigma gangguan jiwa seringkali dianggap mengada-ada atau melebih-lebihkan. Penyandang “penyakit” gangguan jiwa akan sering dipermasalahkan atas apa yang mereka alami. Banyak dari mereka yang sering kali mendapatkan ejekan, dianggap seperti sampah, bahkan dilecehkan. Sebenarnya, kondisi tersebut bisa saja tidak dialami oleh para penyandang gangguan jiwa, jika mereka mencoba untuk melawannya.

Namun, stigma menyebabkan penyandang gangguan jiwa merasa malu untuk melawannya. Bahkan, stigma dapat mencegah penyandang gangguan jiwa mencari bantuan yang sangat mereka butuhkan. Jangan takut, begini cara melawan stigma gangguan jiwa.

Fokus pada Kesehatan Mental

Kesehatan mental memiliki empat komponen, yaitu aktivitas produktif, hubungan yang sehat, beradaptasi pada perubahan, serta dapat mengatasi kesulitan. Seseorang dengan gangguan jiwa memerlukan fokus yang lebih terhadap peningkatan kesehatan jiwa, tidak melulu membahas tentang kondisi mental yang dialami, yang saat ini dicap sebagai kekurangan seseorang.

Baca juga: Jenis Gangguan Mental yang Dapat Memengaruhi Perkembangan Anak

Edukasi Diri Sendiri dan Orang Sekitar

Tak ada salahnya untuk berbagi kisah pribadi pada setiap kesempatan yang ada. Berikan pengalaman tentang perjuangan melawan penyakit mental. Seseorang yang seperti ini biasanya akan selalu belajar melalui komentar kasar yang diberikan kepadanya. Semakin sering penyandang gangguan jiwa menceritakan tentang masalah kesehatan mental yang dialaminya, maka stigma buruk tentang “penyakit” ini perlahan-lahan akan hilang. 

Kenali Gejalanya

Tak jarang seseorang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri akibat tidak tahan dengan beban mental yang dipikulnya sendiri. Penyandang gangguan jiwa akan mengalami serangkaian gejala, seperti perubahan suasana hati yang signifikan, merasa tidak cukup tidur, terlalu banyak tidur, jantung berdetak lebih cepat, serta mengalami sakit kepala. Gejala yang ditimbulkan akan membutuhkan pertolongan dengan segera.

Jangan hanya berdiam diri sampai “penyakit” yang kamu alami semakin parah dan membahayakan dirimu sendiri. Jika dirasa ada yang salah dengan kesehatan mentalmu, diskusikan segera dengan psikolog atau psikiater berpengalaman kapan dan di mana saja melalui aplikasi Halodoc. Ingat, menceritakan apa yang kamu rasakan pada orang yang tepat akan memberikan kelegaan hati dan meringankan beban yang kamu rasakan.

Baca juga: 5 Gangguan Mental yang Kerap Dialami Anak Milenial

Gangguan jiwa sendiri sebenarnya dapat muncul karena beberapa hal, termasuk cedera pada otak, gangguan fungsi pada otak, otak kekurangan nutrisi, kekurangan oksigen pada otak anak saat proses persalinan, pernah merasakan pelecehan seksual, merasa disia-siakan saat kecil, kurang bergaul dengan orang lain, serta merasa minder, rendah diri, tidak mampu, atau merasa kesepian.

Jangan merasa malu atau berkecil hati. Anggaplah bahwa gangguan jiwa tidak berbeda dengan gangguan fisik yang harus segera diobati. Bila gejala yang telah disebutkan di atas tidak kunjung hilang, bicarakan segera dengan orang-orang terdekat, karena beban akan terasa hilang setelah bercerita. Namun, jika kamu sudah tidak dapat mengontrol apa yang dirasakan, mintalah pertolongan kepada ahlinya agar kamu tidak salah langkah mengambil keputusan.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Mental health: Overcoming the stigma of mental illness.

NCBI. Diakses pada 2019. Understanding the Impact of Stigma on People with Mental Illness.