28 May 2018

Jantung Bocor ASD dan VSD pada Anak, Orangtua Perlu Tahu Ini

Jantung Bocor ASD dan VSD pada Anak, Orangtua Perlu Tahu Ini

Halodoc, Jakarta – Selama ini penyakit jantung mungkin hanya banyak terdengar dialami oleh orang dewasa. Namun, faktanya penyakit ini enggak terjadi pada orang dewasa saja. Ini karena penyakit jantung juga bisa dialami sejak bayi. Enggak percaya? Menurut data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (2014), dari 1.000 kelahiran setidaknya tujuh sampai delapan bayi dilahirkan dengan penyakit jantung bawaan (PJB).

PJB sendiri merupakan kelainan jantung, baik berupa struktur atau fungsi jantung yang tejadi sejak bayi di dalam kandungan. Nah, dari beragamnya jenis PJB, ventricular septal defect (VSD) dan atrial septal defect (ASD) yang paling sering menyerang anak-anak. Oleh sebab itu, orangtua perlu mengenal lebih dekat kedua kondisi medis ini. Tujuannya agar bisa terdeteksi sejak dini, sehingga tingkat kesembuhan jadi lebih tinggi.

 

  • VSD: Sekat Bilik Jantung Berlubang

 

Kondisi medis yang satu ini merupakan kelainan jantung dengan adanya lubang pada sekat antarbilik jantung. Lubang ini yang menyebabkan kebocoran aliran darah pada bilik kiri dan kanan jantung. Nah, kebocoran inilah yang membuat sebagian darah yang kaya oksigen kebali lagi ke paru-paru. Kata ahli, VSD enggak akan memberikan masalah berarti andaikan lubangnya kecil. Namun, lain ceritanya bila lubang yang dihasilkan cukup besar.

Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), VSD sendiri bisa menyebabkan gagal jantung, ritme jantung yang tidak teratur, atau hipertensi pulmonal. Hipertensi pulmonal sendiri merupakan kondisi tekanan di dalam pembuluh darah yang berasal dari jantung menujuju paru-paru terlalu tinggi.

Menurut ahli, pada bayi berusia dua tahun, lubang yang berukuran kecil dan tidak bergejala akan tertutup secara spontan, sehingga tidak diperlukan pengobatan. Meski bisa tertutup, terkadang penutupan spontan ini terjadi hanya pada sebagian area (lubang) saja.

Nah, masalahnya baru akan timbul pada anak yang menunjukkan tanda gagal jantung. Mereka harus segera mendapatkan pengobatan terhadap gejala gagal jantungnya. Pasalnya, kalau kondisi itu enggak terkendali bisa menyebabkan kondisi medis lainnya. Ujung-ujungnya memerlukan intervensi untuk menutup VSD tersebut.

Melansir Web MD, enggak ada ahli yang tahu pasti apa yang menyebabkan VSD. Namun, kondisi ini mungkin saja disebabkan karena malformasi jantung yang terjadi saat bayi berkembang di dalam rahim.

(Baca juga: Keyla, sembuh dari Jantung Bocor ASD dan VSD)

  1. ASD: Sekat Serambi Jantung Berlubang

ASD merupakan kondisi adanya lubang di antara dua serambi jantung. Gambarannya, hubungan antara atrium kanan dengan kiri yang tidak ditutup oleh katup. Nah, kondisi ini bisa menimbulkan masalah yang sama dengan VSD. Lubang yang memisahkan atrium kiri dan kanan ini akan membuat darah yang kaya oksigen  mengalir kembali ke paru-paru.

Melansir American Heart Association, anak-anak dengan ASD umumnya enggak memiliki gejala bila lubang yang tercipta berukuran kecil. Kondisi ini enggak akan menimbulkan gejala karena jantung tak perlu bekerja lebih keras. Namun, lain ceritanya bila lubangnya berukuran besar. Nah, bila suara jantung didengar melalui stetoskop, akan terdengar suara jantung yang abnormal (murmur jantung).  

Menurut ahli dari American Heart Association, seiring bergulirnya waktu kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan permanen pada pembuluh darah paru-paru. Selain itu, bila kebocoran jantung ASD berukuran besar dan enggak segera ditangani, aliran darah ekstra ke jantung kanan bisa merusak jantung dan paru-paru, sehingga menyebabkan gagal jantung.

Yang perlu diketahui, lubang ASD yang lebih besar biasanya memerlukan tindakan operasi agar gangguan lebih lanjut pada fungsi dantung dapat ditangani.

(Baca juga: Konsumsi 7 Makanan Ini untuk Jantung Sehat)

Faktor Risiko

Sama halnya dengan kasus VSD, sampai saat ini enggak ada ahli yang bisa memastikan penyebab utama gangguan pembentukan jantung. Namun, setidaknya ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko penyakit jantung bawaan.

  1. Merokok

Yang satu ini memang kerap menimbulkan sederet masalah kehamilan. Sekitar 60 persen kasus bayi dengan PJB dipicu oleh kandungan rokok yang memengaruhi perkembangan janin.

2.Infeksi

Infeksi seperti rubella (campak Jerman) membahayakan pertumbuhan janin (termasuk organ jantung) terutama pada 8-10 minggu pertama kehamilan.

  1. Obat-obatan

Obat seperti antikejang, antijerawat, dan ibuprofen yang dikonsumsi tanpa petunjuk dokter, bisa membahayakan pertumbuhan janin. Khususnya, pada trimester pertama kehamilan.

  1. Genetik

PJB kemungkinan bisa diturunkan dari salah satu atau kedua orangtua, atau anggota keluarga lainnya. Selain itu, kromosom atau gen pada anak mengalami kelainan, misalnya down syndrome, juga bisa meningkatkan risiko PJB.

  1. Alkohol

Risiko melahirkan bayi dengan kelainan struktur arteri atau ventrikel jantung akan semakin meningkat bila ibu hamil mengonsumsi minuman beralkohol.

Perhatikan Gejalanya

Cara termudah mengenali PJB bisa melalui suara yang tidak normal dari jantung. Misalnya, melalui pemeriksaan dokter dengan menggunakan stetoskop.  Selain itu, ibu juga perlu tahu gejala lainnya dari PJB.

  • Berkeringat berlebihan, terutama saat makan.
  • Mudah lelah dan napas pendek.
  • Susah makan atau kurang nafsu makan.
  • Bernapas dengan cepat atau sulit bernapas.
  • Lidah, bibir, dan kuku berwarna kebiruan (sianosis).
  • Kesulitan menyusui dan gangguan pertumbuhan.
  • Detak atau suara jantung terdengar abnormal.

Nah, jika ibu melihat adanya gejala-gejala di atas pada anak, sebaiknya segeralah berdiskusi dengan dokter ahli untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Ibu bisa mendiskusikan masalah di atas dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, ibu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!