19 March 2019

Kapan Sebaiknya Pengidap Sindrom Peter Pan Menemui Psikolog?

Kapan Sebaiknya Pengidap Sindrom Peter Pan Menemui Psikolog?

Halodoc, Jakarta -  Pernah mendengar tentang sindrom Peter Pan? Peter Pan sendiri merupakan sebagai tokoh protagonis, pahlawan, dan sosok yang menyenangkan. Tapi, dalam dunia medis, Peter Pan yang dimaksud justru “berbahaya”.

Ada banyak sebutan lain dari sindrom ini, seperti king baby atau little prince syndrome. Sindrom Peter Pan ini akan membuat pria tak bisa hidup mandiri meski mereka sudah memasuki usia dewasa.

Mereka yang mengidap kondisi ini akan sulit mengambil keputusan dan amat bergantung pada orang lain, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Tak cuma itu, pria tersebut juga takut untuk berkomitmen, tak bertanggung jawab, dan memiliki ambisi yang rendah. Singkatnya, mereka tak mau dan tak mampu untuk tumbuh secara dewasa dan memikul tanggung jawab lebih dalam hidupnya.

Baca juga: Kenali Sindrom Peter Pan yang Buat Pria Tak Bersikap Dewasa

Pertanyaannya, seperti apa sih gejala dari sindrom Peter Pan? Lalu, kapan sebaiknya seseorang perlu mencari bantuan medis seperti psikolog terkait masalah ini?

Ditandai Banyak Gejala

  • Tidak mau mengakui kesalahan dan melimpahkannya ke orang lain sehingga sulit untuk introspeksi diri.

  • Selalu bergantung ke orang lain dan merepotkan orang lain. Mengharapkan untuk selalu dilindungi dan dituruti semua permintaannya. Takut dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan jika melakukan segala sesuatu sendiri.

  • Cenderung berperilaku, seperti anak kecil, remaja, atau orang yang lebih muda dari usianya. Biasanya, orang dengan sindrom ini juga berteman dengan orang yang lebih muda.

  • Tidak bisa mempertahankan hubungan jangka panjang yang stabil, terutama percintaan. Sifatnya yang kekanakan kadang membuat pasangan menjadi tidak nyaman. Selain itu, orang dengan sindrom ini sulit untuk bersikap romantis dan memilih pasangan yang lebih muda.

  • Kurang bertanggung jawab dalam pekerjaan atau dalam mengelola keuangan. Selalu mengutamakan kepentingan pribadi, terutama untuk kepuasan dan kebaikan dirinya sendiri.

Yang perlu digarisbawahi, tak semua pria dengan sindrom Peter Pan mengalami gejala yang sama, sehingga sulit diidentifikasi. Untuk menelisik masalah ini, biasanya orang-orang terdekat pengidap sindrom ini juga perlu dimintai keterangan. Sebab, pengidap sindrom ini sering kali tak menyadari dan merasa seolah-olah dirinya baik-baik saja.

Baca juga: Pria yang Kekanak-kanakan Mungkin Kena Sindrom Peter Pan

Nah, andaikan dirimu atau ada orang terdekat yang mengalami gejala di atas, segeralah berbicara dengan dokter spesialis jiwa atau psikolog. Tujuannya jelas, untuk mencari penyebab dan penanganan yang tepat.

Terkait Pola Asuh

Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan seseorang memiliki Peter Pan syndrome. Misalnya, cara pandang yang salah terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Tapi, pola asuh orangtua yang amat protektif bisa menyebabkan Si Kecil tumbuh dewasa dengan sindrom ini.

Ketika beranjak dewasa, mereka merasa tumbuh dewasa harus bisa membuat komitmen dengan diri sendiri dan orang lain, menghadapi tantangan, hingga memikul berbagai tanggung jawab. Tapi, perasaan cemas, takut, tidak mampu, dan tak percaya diri akan hal-hal di atas, bisa membuat mereka melindungi diri sendiri. Nah, caranya dengan bersikap layaknya anak kecil.

Tekanan mental berat inilah yang mungkin memicu rasa “ingin kabur dari tanggung jawab”, dan membuat seorang pria dewasa ingin kembali ke masa kanak-kanak yang tak memiliki beban hidup.

Penyebab paling utama sindrom ini adalah faktor di masa kanak-kanak, yakni pola pengasuhan orangtua yang kurang tepat. Pola pengasuhan atau pengalaman tidak mengenakan di masa lalu pun bisa memicu timbulnya sindrom ini.

Baca juga:Orang Sindrom Peter Pan Enggak Bisa Punya Hubungan Normal?

Dari berbagai jenis pola asuh, pola asuh otoriter dan permisif yang perlu diwaspadai. Menurut ahli dari Department of Personality, Evaluation and Psychological Treatment, University of Granada, orangtua yang overprotektif bisa menyebabkan kecemasan berlebih pada anak. Nah, ketika mereka tubuh dewasa, akhirnya muncul lah sindrom ini.

Sedangkan pola asuh permisif, lain ceritanya. Di sini orangtua terlalu membebaskan anak atau lebih, seperti memanjakan. Dengan kata lain, orangtua akan menuruti segala keinginan anak tanpa adanya pemberian syarat daya juang dari anak.

Nah, pola asuh seperti ini akan membuat anak berpikir bahwa mereka bisa selalu mendapatkan apa yang mereka mau dengan mudah. Bahkan, tanpa harus kerja keras, namun dengan mengandalkan orang lain.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter spesialis jiwa atau psikolog melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!