Kejang Demam pada Anak Bisa Sebabkan Kelumpuhan?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
kejang-demam-pada-anak-bisa-sebabkan-kelumpuhan

Halodoc, Jakarta - Kejang demam merupakan gangguan yang umumnya terjadi pada anak. Penyakit ini disebabkan oleh melonjaknya suhu tubuh yang sering kali disebabkan oleh infeksi. Kondisi ini terjadi pada anak-anak dengan perkembangan normal tanpa riwayat gejala neurologis. Untungnya, gangguan ini tidak berbahaya dan biasanya tidak menunjukkan masalah kesehatan yang serius.

Anak-anak antara 3 bulan dan 6 tahun adalah usia yang berpotensi mengalami kejang demam. Meski begitu, balita berusia antara 12 dan 18 bulan lebih sering mengalaminya. Saat Si Kecil mengalaminya, ibu dapat membantu menjaga anak dengan aman dan nyaman selama kejang demam berlangsung. Namun jika rasanya kejang demam pada anak terlihat mengkhawatirkan, segera hubungi dokter anak melalui aplikasi Halodoc agar dievaluasi sesegera mungkin setelah kejang demam. 

Tidak Menyebabkan Gangguan Serius, Termasuk Kelumpuhan

Gangguan kejang demam sederhana tidak menyebabkan kerusakan otak atau memengaruhi kemampuan anak untuk tumbuh dan berkembang. Karena kejang demam tidak sama dengan epilepsi yang menyebabkan anak mengalami dua atau lebih kejang tanpa demam. Kejang demam hanya sedikit meningkatkan kemungkinan anak mengalami epilepsi. 

Si Kecil dapat menjalani perkembangan dan pembelajaran normal setelah kejang demam sembuh. Kejang demam sederhana seharusnya tidak menimbulkan konsekuensi jangka panjang. 

Baca juga: Jangan Abaikan Demam pada Balita BIla Diikuti 3 Gejala Ini

Pemicu Kejang Demam

Umumnya suhu tubuh yang lebih tinggi dari normal menyebabkan kejang demam, bahkan demam ringan dapat memicu kejang demam. Berikut adalah beberapa pemicu lainnya:

  • Infeksi. Demam yang memicu kejang demam biasanya disebabkan oleh virus dan lebih jarang disebabkan oleh infeksi bakteri. Influenza dan virus yang menyebabkan roseola dan sering disertai demam tinggi, tampaknya paling sering dikaitkan dengan kejang demam. 

  • Kejang pasca imunisasi. Risiko kejang demam dapat meningkat setelah beberapa imunisasi dilakukan. Ini termasuk vaksinasi difteri, tetanus, dan pertusis atau campak-gondong-rubella. Seorang anak dapat mengalami demam ringan setelah vaksinasi.

Baca juga: Ibu Lakukan Ini Jika Anak Kejang karena Demam

Gejala atau tanda terjadinya kejang demam tergantung pada jenis kejang demam, jika:

  • Kejang sederhana: Ini adalah yang paling umum dan biasanya berakhir dalam satu atau dua menit. Namun, kejang juga dapat bertahan selama 15 menit. Gejalanya meliputi kejang-kejang, gemetar, berkedut di seluruh tubuh, demam, mata anak berputar, tidak responsif, mengerang, kehilangan kontrol usus atau kandung kemih, lidah atau mulut berdarah karena tergigit, serta Si Kecil mungkin merasa mengantuk, mudah marah, rewel, atau bingung selama beberapa jam setelah selesai.

  • Kejang kompleks: Ini jarang terjadi dan dapat bertahan lebih dari 15 menit. Si Kecil mungkin mengalaminya lebih dari sekali dalam sehari. Hanya satu bagian dari tubuh Si Kecil yang dapat bergerak atau bergetar. Setelah itu, lengan atau kakinya mungkin terasa lemah. Kejang demam kompleks merupakan masalah yang lebih besar. Mungkin memerlukan pemeriksaan tambahan atau masuk rumah sakit. 

Baca juga: Ini Alasan Kejang Jika Anak Demam

Kemungkinan Kejang Demam Kambuh

Sekitar 35 persen anak-anak yang mengalami kejang demam akan mendapatkan kejang lain dalam satu atau dua tahun. Anak-anak yang lebih muda dari 15 bulan saat mereka memiliki yang pertama lebih mungkin kambuh. Saat kamu mengkomunikasikan kondisi ini pada dokter, kemungkinan kamu akan mendapatkan resep obat antikejang untuk diberikan pada Si Kecil di rumah. Apalagi jika Si Kecil mengalami kejang yang kompleks. 

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Febrile Seizure: Symptoms and Causes

WebMD. Diakses pada 2019. Febrile Seizures