Kelebihan Prosedur Bedah Laparoskopi yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Bedah laparoskopi, atau dikenal juga sebagai laparoskopi diagnostik, merupakan prosedur diagnostik bedah yang digunakan untuk memeriksa organ di dalam perut. Prosedur ini bersifat invasif minimal risiko rendah yang hanya membutuhkan sayatan kecil. Laparoskopi menggunakan alat yang disebut laparoskop untuk melihat organ perut. Laparoskop adalah tabung panjang dan tipis dengan cahaya intensitas tinggi dan kamera resolusi tinggi di bagian depan.

Instrumen dimasukkan melalui sayatan di dinding perut. Saat bergerak, kamera mengirim gambar ke monitor video. Laparoskopi memungkinkan dokter untuk melihat bagian dalam tubuh kamu secara real time, tanpa operasi terbuka. Apa saja kelebihan prosedur ini? Berikut ulasan lengkapnya!

Baca juga: Ketahui Operasi Laparoskopi untuk Mengangkat Usus Buntu

Bedah Laparoskopi Lebih Unggul Dibandingkan Pembedahan Tradisional

Pembedahan laparoskopi memiliki beberapa keunggulan atau keuntungan dibandingkan dengan pembedahan tradisional. Karena prosesnya minim melibatkan pemotongan:

  • Kamu memiliki bekas luka yang lebih kecil.
  • Kamu dapat keluar dari rumah sakit lebih cepat.
  • Kamu akan merasakan lebih sedikit rasa sakit saat bekas luka sembuh, dan lebih cepat sembuh.
  • Kamu dapat kembali ke aktivitas normal lebih cepat.
  • Ada kemungkinan memiliki jaringan parut internal yang lebih sedikit.

Sementara itu, dengan metode tradisional kamu mungkin akan menghabiskan satu minggu atau lebih di rumah sakit untuk operasi usus. Selain itu, total pemulihan kamu mungkin memakan waktu 4 hingga 8 minggu. Jika kamu menjalani operasi laparoskopi, kamu mungkin hanya tinggal 2 malam di rumah sakit dan pulih dalam 2 atau 3 minggu. 

Baca juga: Penyakit Usus Buntu Hanya Bisa Sembuh dengan Operasi

Mengenal Jenis Bedah Laparoskopi Lanjutan

Pada beberapa operasi, ahli bedah dapat menempatkan kamera dan alat bedah melalui lubang yang sama di kulit. Ini artinya lebih sedikit bekas luka yang disebabkannya. Namun, itu lebih sulit untuk ahli bedah karena instrumennya sangat dekat. 

Dalam kasus lain, dokter bedah dapat memutuskan untuk menggunakan perangkat yang memungkinkan mereka menjangkau dengan tangan. Ini disebut laparoskopi “bantuan tangan”. Potongan pada kulit harus lebih dari setengah inci, tetapi masih lebih kecil dari pada operasi tradisional. Ini memungkinkan untuk dilakukannya operasi laparoskopi untuk hati dan organ lainnya. 

Risiko paling umum yang berkaitan dengan laparoskopi adalah perdarahan, infeksi, dan kerusakan di perut. Meski begitu, risikonya jarang terjadi. Setelah prosedur, perlu untuk memperhatikan tanda-tanda infeksi. Hubungi dokter kamu juga kamu mengalami:

  • Demam atau kedinginan.
  • Sakit perut yang menjadi lebih intens dari waktu ke waktu.
  • Kemerahan, pembengkakan, pendarahan, atau drainase di lokasi sayatan.
  • Mual atau muntah terus-menerus.
  • Batuk secara terus-menerus.
  • Sesak napas.
  • Ketidakmampuan untuk buang air kecil.
  • Pusing.

Ada juga risiko kecil kerusakan pada organ yang diperiksa dalam selama laparoskopi. Darah dan cairan lain dapat bocor ke tubuh kamu jika organ tidak tertusuk. Dalam hal ini, kamu perlu operasi lain untuk memperbaiki kerusakan. Risiko yang kurang umum termasuk:

  • Komplikasi dari anestesi umum.
  • Radang dinding perut.
  • Bekuan darah, yang dapat melakukan perjalanan ke panggul atau paru-paru.

Baca juga: Ini 5 Deteksi Awal Usus Buntu Di Rumah

Dalam beberapa keadaan, ahli bedah mungkin percaya risiko laparoskopi diagnostik terlalu tinggi untuk menjamin manfaat penggunaan teknik invasif minimal. Situasi ini sering terjadi pada mereka yang pernah menjalani operasi perut sebelumnya, yang meningkatkan risiko pembentukan adhesi antara struktur di perut. Melakukan laparoskopi di hadapan adhesi akan memakan waktu lebih lama dan meningkatnya risiko melalui organ. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Laparoscopic Surgery