Ketahui Operasi Laparoskopi untuk Mengangkat Usus Buntu

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Ketahui Operasi Laparoskopi untuk Mengangkat Usus Buntu

Halodoc, Jakarta - Laparoskopi merupakan jenis prosedur bedah yang memungkinkan ahli bedah untuk melihat bagian dalam abdomen atau perut hingga panggul tanpa harus membuat sayatan besar di kulit. Prosedur ini dikenal sebagai bedah lubang kunci atau operasi invasif minimal. Teknik ini juga digunakan untuk operasi usus buntu.

Proses ini dilakukan sesuai dengan nama alatnya, laparoskop, alat berbentuk ramping yang memiliki kamera video berukuran kecil dan dilengkapi dengan cahaya di bagian ujungnya. Ketika ahli bedah memasukkan alat ini melalui sayatan kecil ke dalam tubuh, akan terlihat kondisi bagian dalam tubuh melalui kamera tersebut. Ini artinya, sayatan yang dibuat tidak terlalu besar.

Keuntungan dari teknik ini dibandingkan dengan operasi terbuka tradisional seperti:

  • Waktu pemulihan lebih cepat, sehingga tidak perlu menginap di rumah sakit dalam waktu yang lama. Tentunya hal ini menghemat biaya inap rumah sakit dan pengobatan serta perawatan selama menginap.

  • Mengurangi rasa sakit dan perdarahan setelah operasi.

  • Mengurangi timbulnya bekas luka setelah operasi karena sayatan yang terbilang kecil.

Kapan Laparoskopi Digunakan?

Laparoskopi dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis berbagai kondisi yang terjadi pada tubuh area perut hingga panggul. Prosedur ini bisa digunakan untuk pembedahan, seperti pengangkatan organ yang rusak atau telah terinfeksi suatu penyakit, dan mengeluarkan sampel jaringan untuk dilakukan pengujian lebih lanjut, atau yang sering disebut dengan biopsi.

Prosedur laparoskopi juga sering digunakan untuk melakukan pemeriksaan berikut:

  • Ginekologi, studi dan perawatan yang berkaitan dengan sistem reproduksi wanita.

  • Gastroenterologi, studi dan perawatan yang berkaitan dengan sistem pencernaan, seperti misalnya untuk operasi usus buntu.

  • Urologi, studi dan perawatan berkaitan dengan sistem urinasi atau kemih.

Prosedur Laparoskopi

Prosedur laparoskopi dilakukan di bawah anestesi atau bius, sehingga pasien tidak akan merasakan rasa sakit selama prosedur ini dilaksanakan.

Selama proses, dokter bedah membuat satu atau beberapa sayatan kecil pada perut. Sayatan ini akan memungkinkan dokter untuk memasukkan alat laparoskop, alat bedah, dan tabung yang digunakan untuk memompa gas ke dalam perut, sehingga dokter akan lebih mudah untuk melakukan pengecekan.

Setelah prosedur selesai, gas dibiarkan keluar dari perut. Sementara itu, sayatan akan ditutup dengan jahitan dan dibalut dengan plester. Biasanya, pasien bisa langsung pulang setelah prosedur dilakukan, tetapi ada pula pasien yang diminta untuk beristirahat menginap satu malam di rumah sakit.

Komplikasi yang Dapat Terjadi

Laparoskopi merupakan prosedur bedah yang umum dilakukan dan komplikasi serius jarang terjadi. Komplikasi kecil diperkirakan terjadi pada satu atau dua dari setiap 100 kasus laparoskopi, yang berupa infeksi, perdarahan kecil yang disertai dengan memar pada area sayatan, dan mual serta muntah.

Sementara itu, komplikasi serius setelah prosedur laparoskopi dilakukan hanya terjadi pada satu dari 1.000 kasus prosedur yang pernah dilakukan. Komplikasi ini termasuk kerusakan pada organ yang dapat mengakibatkan hilangnya fungsi organ, kerusakan pada arteri utama, gelembung gas masuk ke pembuluh darah atau arteri, reaksi alergi dari anestesi, hingga DVT.

Jadi, jika kamu ingin memilih laparoskopi sebagai metode operasi usus buntu, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu baik buruknya terhadap kondisi kesehatanmu. Supaya lebih mudah, tanyakan pada dokter langsung melalui aplikasi Halodoc. Kamu bisa download dan langsung pakai aplikasi Halodoc untuk tanya dokter, beli obat, dan cek lab.

Baca juga: