Kelompok Usia yang Rentan Terserang Meningioma

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Kelompok Usia yang Rentan Terserang Meningioma

Halodoc, Jakarta - Mendengar kata “tumor” tentunya membuat banyak orang yang mendengarnya merasa ngeri. Dari banyaknya jenis tumor yang ada, meningioma merupakan salah satu jenis yang mesti diwaspadai. Tumor ini terbentuk di meninges, yaitu selaput pelindung otak dan tulang belakang. Meski biasanya terjadi di otak, namun meningioma juga bisa tumbuh di tulang belakang.

Baca juga: Radiasi Telepon Genggam Tingkatkan Risiko Terkena Meningioma

Umumnya, meningioma ini tergolong tumor jinak. Ia berkembang sangat lambat, bahkan tak menunjukkan gejala hingga bertahun-tahun. Tapi, dalam beberapa kasus, dampaknya pada jaringan otak, saraf, dan pembuluh darah bisa menyebabkan kecacatan yang serius.

Lalu, siapa sih orang yang lebih mungkin atau kelompok usia mana yang lebih mungkin terkena tumor otak? Secara umum, pria memang lebih mungkin terserang tumor otak ketimbang wanita. Tapi, beberapa jenis tumor otak tertentu, seperti meningioma, lebih sering terjadi pada wanita. Biasanya tumor ini terjadi pada wanita yang berusia 45 tahun.

Bisa Menimbulkan Banyak Gejala

Lokasi dan ukuran tumor ini akan memunculkan gejala-gejala yang berbeda. Pada awalnya, gejala penyakit ini memang tak terlihat, namun bisa muncul secara bertahap, misalnya:

  • Mual dan muntah.

  • Gangguan ingatan.

  • Gangguan ketika berbicara.

  • Sakit kepala yang semakin lama semakin memburuk.

  • Kelemahan pada anggota tubuh.

  • Kejang.

  • Tinnitus.

  • Indra penciuman terganggu.

  • Pandangan menjadi kabur atau berbayang.

  • Perubahan perilaku.

  • Kualitas pendengaran menurun, bahkan menghilang.

Baca juga: Ini 3 Faktor Risiko Terkena Tumor Otak yang Sering Diabaikan

Awasi Penyebabnya

Sebenarnya, sampai saat ini penyebab pasti tumor jenis ini belum diketahui. Meski begitu, ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko meningioma, yaitu:

  • Wanita. Faktanya, meningioma memang lebih sering menyerang wanita ketimbang pria. Ini diduga terkait dengan hormon pada wanita.

  • Obesitas. Meski banyak pula pengidapnya yang mengalami obesitas, namun tak diketahui pasti apa kaitan antara kedua penyakit tersebut.

  • Pengidap neurofibromatosis tipe 2. Neurofibromatosis tipe 2 adalah kelainan genetik yang mengakibatkan pertumbuhan tumor di berbagai jaringan saraf.

  • Radioterapi. Risiko terserang tumor jenis ini meningkat pada seseorang yang pernah menjalani radioterapi di kepala.

Selain hal-hal di atas, beberapa faktor lainnya yang bisa meningkatkan faktor risikonya adalah radiasi telepon genggam, genetik, hormon, radiasi ionisasi, merokok, hingga trauma di kepala.

Baca juga: Sakit Kepala Jadi Tanda Tumor Otak?

Ketahui Cara Penanganan

Penanganan untuk mengatasi penyakit ini bisa melalui beberapa cara. Misalnya, embolisasi, pembedahan, radiosurgery, dan terapi radiasi. Tujuan utama pembedahan adalah untuk reseksi tumor atau untuk paliatif. Selain reseksi tumor, hal ini juga bertujuan untuk mendapat diagnosis definitif, mengurangi efek massa, dan meringankan gejala.

Radioterapi memberikan manfaat secara klinis yang telah dilaporkan pada banyak serial kasus, baik regresi maupun berhentinya pertumbuhan tumor. Modalitas lain pada terapi meningioma adalah stereotactic radiosurgery. Terapi ini umumnya dilakukan pada tumor jinak berukuran kecil atau yang tidak dapat dioperasi dan pada tumor residual atau rekuren.

Punya keluhan kesehatan dan ingin bertanya langsung ke dokter? Gampang kok, kamu bisa berdiskusi dengan dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!