19 November 2018

Kenali Gejala Infeksi Bakteri E. Coli

 bakteri e coli

Halodoc, Jakarta - E. Coli yang merupakan singkatan dari Escherichia coli. Bakteri ini biasanya ditemukan di dalam usus manusia. Bakteri ini terdiri dari beberapa jenis dan kebanyakan tidak berbahaya. Artinya, hanya segelintir jenis bakteri E. coli yang dapat merugikan kesehatan.

Salah satu bakteri E. coli yang berbahaya adalah E. coli O157:H7. Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan dan infeksi yang cukup serius. E. coli O157:H7 dapat menghasilkan racun yang mampu merusak dinding dari usus kecil dan mengakibatkan kram perut, diare yang bercampur dengan darah, hingga muntah-muntah.

Kenali Gejalanya

Gejala infeksi bakteri E.coli biasanya mulai dirasakan tiga hingga empat hari setelah tubuh terpapar bakteri ini. Namun, gejala dapat juga muncul sehari atau bahkan seminggu kemudian. Berikut ini adalah gejala-gejala yang umumnya muncul akibat infeksi E. coli:

  1. Perut terasa nyeri.
  2. Diare, dengan tingkat keparahan ringan hingga parah dan bahkan berdarah.
  3. Kehilangan selera makan.
  4. Mual dan muntah.
  5. Demam.
  6. Kelelahan.

Biasanya, infeksi E. coli dapat diobati di rumah dan dapat pulih dalam hitungan hari atau satu minggu. Namun, pengidapnya dianjurkan untuk segera menemui dokter jika mengalami gejala berat seperti:

  1. Diare yang tidak menunjukkan tanda-tanda membaik setelah lima hari pada orang dewasa, atau selama dua hari pada bayi dan anak-anak.
  2. Demam disertai diare.
  3. Muntah-muntah selama lebih dari 12 jam. Jika terjadi pada bayi di bawah usia tiga bulan, segera temui dokter anak
  4. Muncul gejala dehidrasi, seperti penurunan jumlah urine, rasa haus yang berlebihan, atau penurunan kesadaran.
  5. Tidak dapat mempertahankan cairan dalam tubuh.
  6. Sakit perut tidak hilang setelah buang air besar.
  7. Mengalami infeksi usus setelah bepergian ke luar negeri.
  8. Tinja bercampur dengan nanah atau darah.

Penyebab Terjadinya Infeksi E. coli

Bakteri E. coli yang berbahaya, dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui:

  1. Makanan yang terkontaminasi. Cara ini merupakan penyebab paling umum seseorang terinfeksi bakteri E. coli. Misalnya, akibat mengonsumsi daging giling yang tercemar bakteri E. coli dari susu hewan ternak tersebut, meminum susu yang tidak dipasteurisasi, serta memakan sayuran mentah atau yang tidak diproses secara benar. Kontaminasi silang juga dapat mengakibatkan seseorang mengalami infeksi, khususnya jika peralatan makanan tidak dicuci dengan benar sebelum digunakan.
  2. Air yang terkontaminasi. Kotoran manusia dan binatang dapat mencemari air tanah dan juga air di permukaan. Rumah dengan sumur pribadi sangat berisiko tercemar bakteri ini. Hal ini karena biasanya air tidak memiliki sistem pembasmi bakteri, termasuk kolam renang atau danau.
  3. Kontak langsung dari orang ke orang. Orang dewasa maupun anak-anak yang lupa mencuci tangan setelah buang air besar dapat menularkan bakteri ketika orang tersebut menyentuh orang lain atau makanan.
  4. Kontak dengan binatang. Orang-orang yang bekerja dengan binatang (misalnya di kebun binatang) atau yang sering melakukan kontak dengan hewan peliharaan harus selalu menjaga kebersihan. Caranya adalah dengan mencuci tangan setelah melakukan kontak dengan binatang tersebut.

Berikut terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terjangkit infeksi bakteri E. coli, di antaranya:

  1. Usia. Anak-anak, ibu hamil, dan orang yang sudah lanjut usia rentan mengidap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh E. coli dan komplikasi yang lebih serius akibat bakteri ini.
  2. Sistem kekebalan tubuh yang lemah. Pengidap AIDS atau orang yang sedang menjalani kemoterapi akan lebih berisiko terkena infeksi E. coli.
  3. Penurunan kadar asam dalam perut. Asam yang diproduksi lambung dapat memberikan perlindungan terhadap bakteri E. coli. Beberapa obat-obatan pereda asam lambung septi esomeprazole, lansoprazole, dan omeprazole, berpotensi meningkatkan risiko infeksi E. coli..

Apabila kamu atau anak kamu mengalami gejala seperti di atas, sebaiknya segera diskusikan dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.

Baca juga: