Kenali Hirschsprung, Kondisi yang Sebabkan Bayi Sulit BAB

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Kenali Hirschsprung, Kondisi yang Sebabkan Bayi Sulit BAB

Halodoc, Jakarta - Dalam sehari berapa kali kamu buang air besar? Jika termasuk lancar, bersyukurlah. Sebab, ada kondisi bawaan lahir yang menyebabkan pengidapnya (bayi) tidak bisa buang air besar. Kondisi ini bernama hirschsprung, yaitu gangguan pada usus besar yang menyebabkan feses terjebak di dalam usus. 

Penyakit hirschsprung ini tergolong langka. Terjadi karena kelainan saraf yang mengontrol pergerakan usus besar, sehingga membuatnya tidak dapat mendorong feses keluar. Akibatnya, feses pun menumpuk di usus besar dan bayi tidak dapat buang air besar. Meski umumnya sudah dapat diketahui sejak bayi baru lahir, gejala penyakit Hirschsprung juga bisa baru muncul setelah anak sudah lebih besar, jika kelainannya ringan.

Pada bayi, gejalanya sudah dapat dideteksi sejak baru lahir, yaitu ketika bayi tidak buang air besar dalam 48 jam setelah lahir. Selain tidak BAB, gejala lain penyakit hirschsprung pada bayi baru lahir adalah:

  • Muntah-muntah dengan cairan berwarna coklat atau hijau.

  • Perut buncit.

  • Rewel.

Baca juga: Melahirkan Bayi Laki-Laki, Ini Fakta Persalinan Meghan Markle

Sementara itu, pada penyakit hirschsprung yang ringan, gejala baru muncul saat anak berusia lebih besar. Gejala penyakit Hirschsprung pada anak yang lebih besar adalah:

  • Mudah merasa lelah.

  • Perut kembung dan kelihatan buncit.

  • Sembelit yang terjadi dalam jangka panjang (kronis).

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Berat badan tidak bertambah.

  • Tumbuh kembang terganggu.

Jika si kecil mengalami berbagai gejala tersebut, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter, agar penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Hal-Hal yang Meningkatkan Risiko Bayi Lahir dengan Hirschprung

Penyakit hirschsprung terjadi ketika saraf di usus besar tidak terbentuk dengan sempurna. Saraf ini berfungsi untuk mengontrol pergerakan usus besar. Oleh karena itu, jika saraf usus besar tidak terbentuk dengan sempurna, usus besar tidak dapat mendorong feses keluar. Akibatnya, feses akan menumpuk di usus besar.

Penyebab masalah pada saraf tersebut belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa kondisi yang diduga dapat meningkatkan risiko ketidaksempurnaan pembentukan saraf usus besar, antara lain:

  • Berjenis kelamin laki-laki.

  • Memiliki orangtua atau saudara yang pernah mengidap penyakit hirschsprung.

  • Mengidap penyakit bawaaan lainnya yang diturunkan, seperti Down syndrome dan penyakit jantung bawaan.

Baca juga: Bagian Telinga Bayi yang Diperiksa saat Otoacoustic Emissions

Operasi adalah Satu-Satunya Jalan untuk Atasi Hirschsprung

Penyakit hirschsprung adalah kondisi serius yang perlu segera diobati dengan operasi, baik dengan bedah laparoskopi ataupun bedah terbuka. Pengidap yang kondisinya stabil biasanya hanya memerlukan satu kali operasi, yaitu operasi penarikan usus.

Namun, jika kondisinya tidak stabil, atau ketika pengidap merupakan bayi yang lahir prematur, memiliki berat badan yang rendah, atau sedang sakit, biasanya perlu menjalani operasi stoma, untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi.

Lebih lanjut, berikut akan dijelaskan satu persatu tentang prosedur penarikan usus dan ostomi:

1. Prosedur Penarikan Usus (pull-through surgery)

Pada prosedur ini, dokter akan membuang bagian dalam dari usus besar yang tidak bersaraf, kemudian menarik dan menyambungkan usus yang sehat langsung ke dubur atau anus.

2. Prosedur Ostomi

Prosedur ini dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah pemotongan bagian usus pasien yang bermasalah. Setelah pemotongan usus, dokter akan mengarahkan usus yang sehat ke lubang baru (stoma) yang dibuat di perut. Lubang tersebut menjadi pengganti anus untuk membuang feses.

Baca juga: Balita Juga Bisa Stres, Ini Penyebabnya

Selanjutnya, dokter akan memasangkan kantong khusus ke stoma. Kantung tersebut akan menampung feses. Jika sudah penuh, isi kantung dapat dibuang. Kemudian setelah kondisi stabil dan usus besar sudah mulai pulih, tahap kedua prosedur stoma dapat dilakukan. 

Tahap kedua ini dilakukan untuk menutup lubang di perut dan menyambungkan usus yang sehat ke dubur atau anus. Setelah menjalani prosedur operasi, pengidap akan menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari, sambil diinfus dan diberi obat pereda rasa sakit sampai kondisinya membaik.