Kenali Lebih Dalam Tentang Mononukleosis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mononukleosis

Halodoc, Jakarta - Umumnya gangguan mononukleosis dialami oleh orang dalam rentang usia 15-30 tahun. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan usia yang di luar rentang tersebut juga dapat terjangkit. Proses terjadinya seseorang terkena infeksi virus EBV dan kemudian terjangkit mononukleosis adalah sebagai berikut:

  • Air liur yang sudah terinfeksi oleh virus EBV yang kemudian masuk ke jaringan tubuh manusia dan akan segera menginfeksi ke jaringan tubuh manusia. Kemudian, virus tersebut akan segera menginfeksi area pada dinding tenggorokan.

  • Masuknya virus pada sel, maka secara spontan tubuh dan akan memproduksi sel darah putih untuk melawannya.

  • Sel darah putih atau sel limfosit B yang dihasilkan tubuh dan telah berisi virus EBV akan menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui kelenjar getah bening. Begitulah cara penyebaran infeksi virus di dalam tubuh manusia.

  • Sel limfosit B dengan jumlah banyak yang dihasilkan tubuh akan membuat tubuh membentuk pertahanan tubuh yang permanen yang akan membuat tubuh jarang mengalami infeksi yang sama kembali di lain waktu.

  • Virus berada dalam tubuh manusia kemungkinan tidak akan hilang, sehingga inilah yang dapat membuat orang menularkannya pada orang lain atau bisa kambuh/menginfeksi lagi pada satu kondisi tertentu.

Baca juga: Meski Menular, Demam Akibat Mononukleosis Bisa Dirawat DI Rumah

Pemeriksaan Mononukleosis

Biasanya, riwayat medis seseorang akan diperiksa untuk melakukan diagnosis. Caranya adalah dengan memperhatikan area khusus seperti pada leher, tenggorokan, dan perut. Dokter pun kemungkinan akan melakukan tes darah dan tenggorokan untuk memastikan pemeriksaan dan peluang adanya gangguan penyakit lain. Terdapat beberapa tes yang akan dianjurkan.

Pada pemeriksaan fisik, dokter bisa mencurigai mononukleosis berdasarkan tanda-tanda dan gejala , misalnya beberapa lama tanda tersebut telah terjadi. Dokter juga akan mencari tanda-tanda seperti pembengkakan kelenjar getah bening, amandel, hati, atau limpa. Kemudian, dokter akan mempertimbangkan bagaimana tanda-tanda ini berkaitan dengan gejala yang kamu gambarkan.

Diagnosis mononukleosis melalui pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk melihat tanda yang dialami, seperti:

  • Pembengkakan amandel.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher.

  • Pembesaran organ limpa dan hati.

Baca juga: Bukan Demam Biasa, Mononukleosis Bisa Ditularkan Lewat Air Liur

Pengidap biasanya juga akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium melalui sampel darah. Jenis tes darah yang dilakukan meliputi:

1. Tes Hitung Darah Lengkap

Melalui pemeriksaan hitung darah lengkap, dokter bisa mendeteksi beberapa tanda yang menunjukkan seorang pengidap terinfeksi mononukleosis, yaitu:

  • Sel limfosit terlihat abnormal.

  • Jumlah sel keping darah atau trombosit berkurang.

  • Gangguan fungsi hati.

2. Tes Monospot (Tes Antibodi Heterofil)

Tes ini untuk mendeteksi keberadaan antibodi yang dihasilkan tubuh sebagai respons dari infeksi virus yang terjadi di dalam tubuh. Tes ini tidak secara langsung mendeteksi keberadaan antibodi EBV, tetapi antibodi lain yang bisa muncul jika tubuh terinfeksi EBV. Tes monospot dilakukan antara minggu ke-4 dan 6 sejak gejala mononukleosis pertama muncul. Hal ini karena pada minggu-minggu awal terjadinya infeksi, antibodi belum terbentuk secara sempurna.

3. Tes Antibodi EBV

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi keberadaan antibodi spesifik terhadap virus EBV. Tes ini sebenarnya bisa dilakukan di minggu pertama saat mengalami gejala, namun membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasilnya.

Baca juga: Waspada, Mononukleosis pada Bayi Bisa Tertular Karena Ciuman

Nah, itulah hal yang perlu kamu kenali mengenai gangguan mononukleosis. Apabila kamu mengalami gejalanya atau berencana melakukan tes, maka jangan ragu lagi untuk berdiskusi terlebih dulu pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Bahkan kamu juga bisa melakukan pemeriksaan mononukleosis oleh dokter dengan langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc. Mudah bukan? Yuk download aplikasi Halodoc sekarang!