31 January 2019

Bukan Demam Biasa, Mononukleosis Bisa Ditularkan Lewat Air Liur

Bukan Demam Biasa, Mononukleosis Bisa Ditularkan Lewat Air Liur

Halodoc, Jakarta – Naiknya suhu tubuh alias demam bisa menjadi gejala dari banyak penyakit. Hal itu menyebabkan demam sering disalahartikan dan dianggap sepele. Padahal, sangat penting untuk mengetahui jenis dan penyebab demam agar pengobatan bisa segera dilakukan dan mencegah kondisi tubuh menjadi lebih buruk. Salah satu jenis penyakit yang memiliki gejala demam adalah mononukleosis alias demam kelenjar. Apa itu?

Mononukleosis merupakan infeksi yang terjadi karena serangan virus Epstein-Barr (EBV), yang penularannya terjadi melalui cairan tubuh, terutama air liur. Selain EBV, penyakit yang juga disebut dengan nama demam kelenjar ini juga bisa disebabkan oleh jenis virus lainnya, seperti cytomegalovirus (CMV), toksoplasmosis, HIV, rubella, hepatitis A,B, atau C, serta adenovirus.

Baca juga: Beda dengan Anak-Anak, Ini Gejala Demam Mononukleosis pada Orang Dewasa

Meski pada awalnya penyakit ini bersifat ringan dan tidak dianggap serius, namun mononukleosis sama sekali tidak boleh diabaikan. Pasalnya, gejala penyakit mononukleosis yang dibiarkan bisa jadi semakin parah dan dapat menghambat aktivitas sehari-hari dalam jangka waktu yang cukup lama. Agar lebih jelas, simak penjelasan seputar penyebab, gejala, hingga pengobatan penyakit mononukleosis berikut.

Penyebab Mononukleosis

Demam kelenjar alias mononukleosis bisa menyerang seseorang yang terpapar virus cytomegalovirus (CMV), toksoplasmosis, HIV, rubella, hepatitis A,B, atau C, serta adenovirus. Tapi, penyebab utama dan yang paling sering memicu penyakit ini adalah virus Epstein-Barr (EBV). Virus ini bisa menyebar dari satu orang ke orang lain melalui pertukaran dan kontak langsung dengan air liur atau cairan tubuh lainnya. Virus penyebab penyakit ini bisa ditularkan melalui darah atau sperma dari orang yang sebelumnya sudah terinfeksi.

Ada beberapa aktivitas yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, di antaranya berciuman bibir, kebiasaan berbagi sikat gigi, batuk dan bersin, hubungan intim, transplantasi organ, serta kebiasaan menggunakan peralatan makan bersama tanpa dicuci terlebih dahulu. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, namun remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini.

Baca juga: Hati-Hati, 5 Penyakit Ini Bisa Ditularkan Melalui Ciuman

Saat air liur yang terinfeksi virus EBV masuk ke dalam tubuh manusia, infeksi pun akan segera dimulai. Virus ini akan mulai menginfeksi sel di permukaan dinding tenggorokan. Saat infeksi terjadi, tubuh akan secara alami mengeluarkan sel darah putih limfosit B untuk melawan infeksi tersebut.

Sayangnya, sel limfosit B yang berisi virus EBV ditangkap oleh sistem kelenjar getah bening yang tersebar di berbagai bagian tubuh. Hal itu kemudian menyebabkan virus tersebar luas di dalam tubuh orang yang mengalami infeksi.

Gejala Mononukleosis

Setelah memasuki tubuh, virus EBV akan membutuhkan waktu “menetap” sebelum akhirnya menimbulkan gejala. Biasanya, virus akan menimbulkan gejala setelah dua bulan menetap di tubuh. Kabar buruknya, kondisi ini sering terlambat disadari karena gejala yang muncul hampir serupa dengan infeksi virus lainnya. Gejala yang sering muncul sebagai tanda penyakit mononukleosis adalah demam, radang tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Kondisi ini juga bisa memicu gejala lain, seperti sakit kepala, mudah lelah dan badan terasa lemas, nyeri otot, nafsu makan menurun, menggigil, hingga muncul bintik berwarna ungu atau merah tua di langit mulut. Jangan sepelekan jika menemukan gejala seperti itu, segera lakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya secara pasti dan mendapatkan pengobatan segera.

Pengobatan Mononukleosis

Kabar buruknya, hingga kini masih belum ditemukan pengobatan untuk mengatasi kondisi ini. Tindakan medis pun tidak terlalu dibutuhkan, karena mononukleosis biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa minggu.

Baca juga: Bukan Penyakit Serius, Mononukleosis Bisa Timbulkan Komplikasi

Untuk mengatasi gejala dan mempercepat penyembuhan, bisa dilakukan dengan istirahat, perbanyak konsumsi air putih untuk menurunkan demam, dan kompres dengan air dingin atau panas. Kamu juga sebaiknya menghindari aktivitas berat serta hindari konsumsi alkohol.

Cari tahu lebih lanjut seputar mononukleosis dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!