Kenali Pemeriksaan Fisik untuk Diagnosis Kriptorkismus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Kenali Pemeriksaan Fisik untuk Diagnosis Kriptorkismus

Halodoc, Jakarta - Memiliki bayi menjadi anugerah dalam sebuah keluarga yang tidak ternilai harganya. Tidak terbayang rasanya menjadi orangtua dengan genggaman jemari kecil sang jagoan. Laki-laki maupun perempuan sama saja, asalkan sehat dan tidak kurang suatu apa pun dalam tubuhnya. Namun, bagaimana jika sang jagoan laki-laki justru memiliki kriptorkismus? 

Kriptorkismus ini terjadi ketika testis bayi laki-laki, baik salah satu maupun keduanya, tidak turun atau berpindah pada tempat yang seharusnya pada skrotum. Kelainan ini terbilang jarang terjadi, tetapi lebih sering dialami pada bayi yang lahir prematur. Jika sang buah hati ternyata mengalaminya, ibu harus segera menghubungi dokter dan membuat janji di rumah sakit, atau bertanya langsung melalui fitur Tanya Dokter di aplikasi Halodoc

Testis, Organ Penting untuk Penghasil Sperma

Sebenarnya, seberapa penting testis untuk laki-laki? Tentu saja sangat penting, karena salah satu bagian dari organ reproduksi ini memiliki peranan sebagai penghasil sperma. Tidak hanya itu, testis berfungsi untuk menghasilkan hormon testosteron yang sangat berperan untuk seksualitas laki-laki. 

Baca juga: Awas, Bayi Laki-Laki Rentan Terkena Kriptorkismus

Selama kehamilan, organ penting ini terbentuk di perut dan secara bertahap akan turun melalui saluran inguinalis menuju skrotum pada kehamilan delapan bulan. Skrotum adalah kantong berukuran kecil yang menggantung tepat di belakang penis. Sementara testis berbentuk oval yang membentuk sistem reproduksi laki-laki. 

Bagaimana Kriptorkismus Bisa Terjadi?

Ketika bayi laki-laki bertumbuh dan berkembang di dalam rahim, testis akan terbentuk di perutnya dan bergerak turun ke dalam skrotum tidak lama sebelum ia dilahirkan. Namun, pada beberapa kasus, pergerakan ini tidak terjadi, dan menyebabkan sang buah hati lahir dengan kondisi salah satu atau kedua testis tidak turun. 

Ketika usianya mencapai 6 bulan, testis yang awalnya tidak bergerak turun saat bayi dilahirkan ini bergerak sendiri menuju ke posisinya yang semestinya. Namun, jika tidak, sang buah hati perlu mendapatkan perawatan. Pasalnya, testis ini berfungsi untuk membuat sperma, jika tidak turun, sperma yang sudah dihasilkan akan cepat rusak. Akibatnya, sang jagoan bisa saja infertil atau mengidap kondisi medis lain. 

Baca juga: 6 Faktor Risiko Kriptorkismus pada Si Kecil

Pemeriksaan Fisik, Salah Satu Cara Diagnosis Kriptorkismus

Biasanya, pemeriksaan fisik menjadi cara yang paling awal dilakukan untuk mendiagnosis penyakit, tak terkecuali kriptorkismus. Khusus untuk pemeriksaan fisik kriptorkismus, dokter menempatkan bayi pada tempat dengan suhu yang hangat, supaya ia menjadi lebih relaks. Meluaskan kulit di sekitar skrotum juga membantu memudahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan. 

Namun, jika testis tidak dapat digunakan hingga anak beranjak dewasa, pemeriksaan lanjutan dengan USG bisa membantu menunjukkan lokasinya. Meski begitu, dokter menganggap pemeriksaan ini tidak diperlukan. Sebagai gantinya, tes lanjutan berikut bisa dilakukan jika memang diperlukan:

  • MRI;

  • Laparoskopi;

  • Operasi terbuka. Ini hanya terjadi pada kasus kriptorkismus yang sangat rumit.

Baca juga: Konsumsi Alkohol Saat Hamil Picu Kriptorkismus

Jika kedua testis tidak turun, dokter bisa merekomendasikan tes genetik untuk menentukan kromosom seks. Pasalnya, beberapa bayi yang secara genetis adalah perempuan memiliki genital laki-laki. Jika ini terjadi, dokter bisa menggunakan USG untuk memeriksa testis maupun ovarium yang tidak turun, tes darah dan urine untuk mengukur kadar hormon, dan pengujian genetik untuk mengidentifikasi kromosom seks. 

Ini artinya, ibu perlu memperhatikan kesehatan janin dengan melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Ini tidak hanya memantau kesehatan ibu dan kandungan, tetapi juga mengetahui jika ada kelainan yang terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan.