Kenali Perbedaan Antara Dispepsia dan GERD

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Kenali Perbedaan Antara Dispepsia dan GERD

Halodoc, Jakarta – Dispepsia dan GERD sering dianggap sebagai penyakit yang sama. Pasalnya kedua penyakit ini menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri di dada setelah konsumsi makanan atau minuman tertentu. Padahal, sebenarnya dispepsia dan GERD adalah dua penyakit yang berbeda. Ketahui perbedaan selengkapnya di sini.

Baca Juga: Jangan Diremehkan, Dispepsia Bisa Berakibat Fatal

Perbedaan awal terletak pada definisi kedua penyakit. Dispepsia adalah kumpulan gejala yang menimbulkan rasa tidak nyaman di perut bagian atas atau dada. Biasanya terjadi setelah kamu konsumsi makanan atau minuman tertentu. Sedangkan GERD adalah kondisi naiknya asam lambung menuju esofagus yang menyebabkan nyeri ulu hati atau sensasi terbakar di dada.

Penyebab Dispepsia dan GERD

Dispepsia terjadi akibat gaya hidup kurang sehat, infeksi bakteri, kondisi pencernaan, atau kelebihan asam lambung. Sementara GERD terjadi akibat tidak berfungsinya lower esophageal sphincter (LES) alias lingkaran otot pada bagian bawah dari esofagus. Seharusnya LES otomatis terbuka ketika makanan atau minuman turun ke lambung, kemudian menutup untuk mencegah asam dan makanan di lambung tidak naik kembali ke esofagus.

Kerusakan LES diduga terjadi akibat faktor keturunan, stres, efek samping konsumsi obat, kelebihan berat badan (overweight atau obesitas), hiatus hernia, keadaan hamil, gastroparesis, dan konsumsi makanan berlemak tinggi.

Gejala Dispepsia dan GERD

Gejala dispepsia meliputi nyeri perut, mual, muntah, rasa tidak nyaman setelah makan, perut kembung, nafsu makan hilang, nyeri di perut atau dada, serta terasa ada makanan yang kembali ke kerongkongan. GERD ditandai dengan nyeri di ulu hati, berupa sensasi terbakar yang disertai sulit menelan, mual, atau rasa pahit di lidah.

Baca Juga: Ini Bedanya Sakit Maag dengan Tukak Lambung

Diagnosis Dispepsia dan GERD

Dispepsia dan GERD bisa dideteksi dengan endoskopi, yakni sebuah tabung fleksibel panjang dengan lampu dan kamera pada bagian ujungnya. Alat ini dimasukkan melalui mulut untuk melihat penyebab naiknya asam lambung dan mendeteksi keberadaan luka di dinding esofagus. Pada kasus dispepsia, pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk menetapkan diagnosis, berupa tes darah, tes infeksi H. pylori, tes fungsi hati, tes pemindaian, dan USG perut.

Perlu diketahui bahwa dispepsia merupakan sebuah sindrom dan diagnosis klinik tanpa endoskopi bisa ditegakkan, hal ini berbeda dengan GERD yang mengharuskan diagnosis dengan endoskopi.

Pengobatan Dispepsia dan GERD

Pengobatan dispepsia dan GERD hampir mirip. Namun umumnya, pengobatan dispepsia tergantung pada tingkat keparahannya. Gejala ringan bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup seperti menghindari konsumsi makanan berlemak dan pedas, tidur cukup, rutin berolahraga, serta kurangi konsumsi alkohol dan kafein harian. Pada kasus berat, dispepsia diatasi dengan konsumsi obat-obatan. Misalnya obat golongan antasida, antagonis reseptor H-2, proton pump inhibitor (PPI), dan antibiotik.

Sedangkan pada kasus GERD, pengobatan diawali dengan mengganti menu makan alias beralih ke makanan rendah lemak, tidak terlalu asin, dan tidak terlalu pedas. Perubahan menu makanan perlu disertai perubahan gaya hidup yang lebih sehat, misalnya tidur cukup, kelola stres, rutin berolahraga, dan berhenti merokok. Bila kondisi tidak membaik, pengidap GERD dianjurkan konsumsi obat untuk meredakan gejala.

Baca Juga: Agar Tak Salah, Ini 5 Tips Mencegah GERD

Itulah perbedaan dispepsia dan GERD. Kalau kamu masih punya pertanyaan lain seputar kedua penyakit tersebut, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!