Keracunan Makanan Basi, Ini Penanganan Pertama

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Keracunan Makanan Basi, Ini Penanganan Pertama

Halodoc, Jakarta - Keracunan makanan adalah hal yang umum terjadi, bahkan kasus keracunan makanan secara massal juga kerap terjadi. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan kondisi makanan yang hendak akan dikonsumsi. Jangan sampai kamu malah dengan lahapnya mengonsumsi makanan yang sudah basi.

Saat seseorang mengalami keracunan makanan, gejala yang terlihat adalah muntah, atau sakit perut. Biasanya reaksi setelah seseorang mengonsumsi makanan yang dianggap basi atau beracun ini cukup cepat. Sehingga terkadang beberapa orang malah jadi panik. Nah, berikut ini penanganan pertama yang bisa dilakukan jika kamu atau orang terdekat kamu mengalami keracunan makanan.

Baca juga: Inilah Bahan Alami untuk Atasi Keracunan Makanan

Langkah Pertama Atasi Keracunan Makanan

Saat mengalami keracunan makanan, seseorang akan mengalami dehidrasi parah. Kondisi ini terjadi karena cairan tubuhnya terus keluar melalui muntah atau saat buang air besar. Langkah-langkah yang bisa diterapkan untuk menyelamatkan orang yang keracunan makanan, antara lain:

Mengontrol Mual dan Muntah

Kamu bisa mengontrol mual dan muntah dengan cara, yaitu:

  • Hindari mengonsumsi makanan padat yang dapat membuat kamu lebih mudah muntah. Pilih makanan ringan dan hambar, seperti biskuit asin, pisang, nasi, atau roti;

  • Menghirup cairan, atau essential oil dapat membantu menghindari muntah;

  • Jangan konsumsi makanan yang digoreng, berminyak, pedas, atau manis terlebih dahulu;

  • Jangan minum obat anti mual atau anti diare tanpa bertanya kepada dokter. Sebab, obat ini memiliki efek samping dan dapat memperburuk diare. Dokter mungkin akan memberikan obat anti-mual jika kamu berisiko mengalami dehidrasi.

Cegah Dehidrasi

Jika muntah dan diare tidak kunjung hilang, maka kamu bisa mencegah dehidrasi dengan cara:

  • Minum cairan bening, mulailah dengan teguk kecil dan secara bertahap minum lebih banyak;

  • Jika muntah dan diare bertahan lebih dari 24 jam, minumlah larutan rehidrasi.

Segera periksakan diri ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dari dokter jika gejala berlangsung lebih dari 3 hari atau kamu mengalami gejala keracunan makanan yang lain, seperti: 

  • Nyeri perut tidak tertahankan;

  • Demam;

  • Diare berdarah atau feses berwarna gelap;

  • Muntah yang berkepanjangan atau berdarah;

  • Tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, penurunan buang air kecil, pusing, kelelahan, atau peningkatan denyut jantung atau laju pernapasan.

Buat janji dengan dokter sesegera mungkin menggunakan aplikasi Halodoc. Penanganan yang dilakukan sejak dini efektif mencegah komplikasi keracunan makanan yang tidak diinginkan.

Mereka yang mengalami keracunan makanan juga disarankan untuk beristirahat. Minta ia tetap menjaga kebersihan dirinya dengan cara mencuci tangan pakai sabun, dan pastikan ia tidak bekerja atau sekolah setidaknya 48 jam setelah muntah dan diare terjadi.

Baca juga: Makanan Kaleng Bisa Sebabkan Keracunan Makanan

Bakteri Salmonella, Penyebab Umum Keracunan Makanan

Tidak hanya makanan basi, keracunan makanan juga umum terjadi akibat kontaminasi bakteri Salmonella. Melansir Train Aid UK, ada lebih dari 500.000 kasus keracunan makanan setiap tahun. Ini belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan. Bakteri Salmonella menjadi salah satu penyebab yang paling mematikan, berkontribusi sekitar 2.500 kasus rawat inap per tahun.

Baca juga: Mengapa Air Kelapa Digunakan Sebagai Obat Keracunan Makanan?

Keracunan makanan dapat menyebabkan dehidrasi. Keracunan makanan dapat berakibat fatal jika terjadi pada kelompok yang rentan seperti orang tua dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Pertolongan pertama seperti yang disebutkan di atas dapat bermanfaat untuk meningkatkan pemulihan dan memastikan pengidapnya sehat sampai bantuan medis profesional datang. 

Referensi:
First Aid UK. Diakses pada 2020. Food Poisoning Treatment.
Web MD. Diakses pada 2020. Food Poisoning Treatment.
St John Ambulance. Diakses pada 2020. Food Poisoning.