• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Keracunan Makanan pada Anak Bisa Diketahui dengan Cara Ini

Keracunan Makanan pada Anak Bisa Diketahui dengan Cara Ini

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Masalah keracunan makanan sudah bukan lagi menjadi hal yang baru di Indonesia, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Penyebab terbesarnya sering kali karena kebiasaan buruk anak jajan sembarangan. Ibu perlu tahu bahwa daya tahan tubuh anak tidak sekuat orang dewasa. Inilah yang membuat tubuh mereka rentan mengalami masalah kesehatan, salah satunya adalah keracunan makanan. 

Anak berusia di bawah 5 tahun paling rentan mengalami masalah keracunan makanan. Selain karena sistem kekebalan tubuhnya yang memang belum terbentuk dengan sempurna, anak berusia di bawah 5 tahun juga tidak memiliki banyak asam lambung. Fungsi asam lambung sendiri tidak hanya untuk memecah makanan, tetapi juga dapat membunuh kuman. 

Bagaimana Gejala Keracunan Makanan pada Anak?

Keracunan makanan terjadi ketika anak mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi kuman. Seringkali, makanan yang tidak higienis atau tidak diolah dengan benar adalah penyebab keracunan makanan. Bahkan, makanan atau minuman yang disimpan pada suhu yang kurang tepat atau terlalu lama juga bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri yang mengakibatkan keracunan makanan. 

Baca juga: Jangan Panik! Ini Cara Tepat Mengatasi Keracunan Makanan pada Anak

Bagaimana keracunan makanan terjadi pada anak bergantung pada jenis kuman yang menjadi penyebabnya. Anak mungkin akan merasakan gejalanya dalam satu atau dua jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Sementara itu, bisa juga gejala tidak akan terjadi hingga beberapa minggu. Meski begitu, pada beberapa kasus, gejala keracunan makanan akan hilang dalam 1 hingga 10 hari. 

Adapun gejala keracunan makanan yang bisa terjadi pada anak termasuk mual atau rasa tidak nyaman pada perut, kram atau perut terasa sakit, muntah, diare, demam, sakit kepala, dan terjadinya kelemahan tubuh. Pada kasus yang jarang terjadi, keracunan makanan dapat membuat anak merasa pusing, pandangan mengabur, atau kesemutan pada bagian lengan. Sementara pada kasus yang sangat langka, keracunan makanan yang menyebabkan lemah tubuh juga membuat anak mengalami kesulitan bernapas

Baca juga: Jangan Salah, Begini Pertolongan Pertama Keracunan Makanan

Sebagian besar kasus keracunan makanan tidak membutuhkan penanganan medis, meski ada pula yang memang membutuhkan perawatan. Masalah serius yang paling umum terjadi sebagai dampak dari keracunan makanan adalah dehidrasi. Anak yang sehat tidak akan mengalami dehidrasi selama ia mengonsumsi cukup cairan untuk menggantikan cairan yang hilang selama ia mengalami muntah dan diare. 

Namun, ibu harus segera memeriksakan anak ke dokter apabila muncul tanda berupa muntah yang lebih dari 12 jam, diare yang diikuti dengan demam tinggi, sakit perut parah yang tidak hilang bahkan setelah anak buang air besar, dan jantung berdebar. Sekarang buat janji dengan dokter ahli anak di rumah sakit terdekat sudah lebih mudah, kok, karena ada aplikasi Halodoc yang bisa ibu pakai setiap saat. Jadi, anak bisa segera mendapatkan penanganan. 

Pencegahan Keracunan Makanan pada Anak

Sebenarnya, mencegah keracunan makanan pada anak itu tidak sulit kok, bu. Ibu hanya perlu membiasakan anak dan semua anggota keluarga lainnya mencuci tangan setelah beraktivitas, sebelum makan, dan setelah menggunakan toilet. Jangan lupa, cuci dan masak makanan hingga benar-benar matang, dan hindari menyimpan makanan terlalu lama. Agar anak tidak terbiasa jajan di sekolah, ibu bisa membawakan bekal makan siang dan camilan sehat untuknya. 

Baca juga: Si Kecil Keracunan Makanan, Ini yang Harus Dilakukan



Referensi: 
Kids Health. Diakses pada 2019. Food Poisoning.
WebMD. Diakses pada 2019. Food Poisoning in Children: What to Know.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Food Poisoning.