Abdominal Migrain

abdominal-migrain-halodoc

Pengertian Abdominal Migrain

Abdominal migrain bukanlah sakit kepala sebelah seperti yang umumnya diketahui. Sesuai dengan namanya, abdominal migrain atau migrain perut adalah kondisi nyeri pada perut. Abdominal migrain merupakan penyebab tersering dari nyeri perut kronik dan berulang pada anak, di mana anak perempuan lebih sering terkena dibandingkan anak laki-laki. 

 

Gejala Abdominal Migrain 

Gejala pada abdominal migrain seringkali terjadi tiba-tiba dan berat, tanpa tanda-tanda sebelumnya. Keluhan yang dialami pengidap abdominal migrain dapat berlangsung satu jam atau lebih, hingga beberapa hari. 

Pengidap penyakit ini biasanya akan mengalami gejala berupa: 

  1. Nyeri pada pertengahan perut atau di sekitar pusar.
  2. Nyeri dapat terasa sedang hingga berat.
  3. Biasanya nyerinya difus atau tidak dapat ditunjuk dengan pasti.
  4. Nyeri dapat berulang dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, dan biasanya ada pola gejala yang khas pada pengidap.
  5. Mual dan mudah muntah.
  6. Pucat.
  7. Lemas dan tidak bertenaga.
  8. Kehilangan nafsu makan.
  9. Terdapat kantung hitam di bawah mata.

 

Penyebab Abdominal Migrain 

Penyebab terjadinya abdominal migrain hingga kini belum diketahui secara pasti. Kemungkinan terkait dengan zat-zat kimia tubuh, yaitu histamin dan serotonin. Selain itu, tampaknya beberapa jenis makanan, seperti cokelat, makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG), citrus, kafein, keju, minuman berkarbonasi, mengandung zat pewarna dan perasa, serta daging yang diproses dengan nitrit dapat memicu abdominal migrain pada beberapa orang.

Pemicu lainnya yang dapat menimbulkan abdominal migrain, antara lain cahaya yang sangat terang, kualitas tidur yang kurang baik, dalam perjalanan, puasa yang lama dan stressor di sekolah atau keluarga

 

Faktor Risiko Abdominal Migrain

  1. Abdominal migrain biasanya bersifat familial, anak yang mengalami penyakit ini biasanya memiliki anggota keluarga yang memiliki riwayat keluhan yang serupa.
  2. Rerata usia anak yang mengalami Abdominal Migrain adalah antara 3—10 tahun, dan mencapai puncaknya pada usia 7 tahun.

 

Diagnosis Abdominal Migrain

Penegakkan diagnosis abdominal migrain seringkali sulit dilakukan karena anak-anak sulit menjelaskan keluhan yang mereka alami. 

Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis abdominal migrain, antara lain berdasarkan kriteria ICHD III. Berdasarkan ICHD III, diagnosis abdominal migrain ditegakkan berdasarkan adanya penyebab yang tidak diketahui dari nyeri perut yang sedang hingga berat dan kronik, berulang, beroposisi pada daerah pertengahan perut, sekitar pusar, atau tidak dapat dilokalisasi dengan jelas, nyeri bersifat tumpul. Serangan biasanya berlangsung selama 2—72 jam tanpa terapi dan pengidap akan merasa bebas gejala diantara serangan. Selain itu, paling tidak ada dua gejala lain yang berhubungan, seperti kehilangan nafsu makan, mual, muntah, dan pucat saat serangan nyeri terjadi, serta paling tidak telah terjadi setidaknya 5 episode nyeri untuk menegakkan diagnosis. 

Perlu pemeriksaan yang komprehensif oleh dokter untuk dapat membedakan abdominal migrain dari kemungkinan-kemungkinan penyebab lain dari gejala yang dirasakan, seperti yang disebabkan oleh gangguan saluran cerna, gangguan susunan saraf pusat, gangguan metabolik, penyebab urogenital, penyakit hematologi/onkologi, infeksi, rematik, dan sebagainya.

 

Pengobatan Abdominal Migrain 

Terapi umumnya diawali dengan terapi nonfarmakologi, seperti dengan penjelasan dan edukasi untuk mencegah pemicu, terapi perilaku/kebiasaan, dan modifikasi diet. Terapi perilaku dapat dilakukan dengan psikoterapi, terapi perilaku kognitif khusus, hipnoterapi, terapi keluarga, dan yoga. Beberapa modifikasi diet yang dapat dilakukan, seperti diet tinggi serat, konsumsi probiotik, diet bebas laktosa (pada pengidap dengan intoleransi laktosa).

Jika keluhan sulit diatasi, kemungkinan dokter akan memberikan terapi obat, antara lain dengan obat-obatan pereda nyeri dan terapi pencegahan terjadinya gejala, seperti dengan golongan beta bloker, 5-HT antagonis, kalsium-kanal bloker, atau 5-HT agonist dengan antihistamin. 

 

Efek Samping Pengobatan Abdominal Migrain

Efek samping dari beberapa obat abdominal migrain, antara lain pusing, mual, diare, penglihatan kabur, lemas, dan tangan dan kaki menjadi dingin. Diskusikan kepada dokter mengalami keluhan tersebut. Obat-obatan untuk terapi penyakit ini merupakan obat yang harus dibeli dengan resep dokter, sehingga tidak boleh diminum tanpa pengawasan dokter.

 

Komplikasi Abdominal Migrain 

Abdominal migrain dapat kemudian berkembang menjadi migrain sefalik (migrain kepala) meskipun nyeri pada perutnya sudah sembuh pada sebagian besar pengidap. Selain itu, abdominal migrain dapat terus terjadi hingga dewasa.

 

Pencegahan Abdominal Migrain 

Pencegahan abdominal migrain dapat dilakukan dengan menghindari pemicu yang dapat berisiko menimbulkan keluhan penyakit ini. 

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika anak mengalami keluhan nyeri perut yang kronik dan berulang, serta gejala lain yang  mengarah pada abdominal migrain, segeralah periksakan kepada dokter terdekat.