• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Abdominal Migrain

Abdominal Migrain

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Abdominal Migrain Sakit Kram Perut

Pengertian Abdominal Migrain

Abdominal migrain bukanlah sakit kepala sebelah seperti yang umumnya diketahui. Sesuai dengan namanya, abdominal migrain atau migrain perut adalah kondisi nyeri pada perut. Namun, masalah ini sering terjadi sebagai reaksi terhadap pemicu yang sama dengan sakit kepala migrain. Saat terjadi, gangguan ini dapat menimbulkan rasa sakit yang parah hingga menyebabkan mual, kram, dan muntah-muntah.

Abdominal migrain merupakan penyebab tersering dari nyeri perut kronik dan berulang pada anak di usia lima hingga sembilan tahun, tetapi bisa juga terjadi pada orang dewasa. Gangguan pada perut ini lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. 

Gangguan ini diakui sebagai sindrom episodik yang mungkin terkait dengan migrain yang bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Dengan begitu, anak-anak yang kerap mengalami gangguan ini dapat tumbuh menjadi orang dewasa dengan risiko migrain yang tinggi. Jika anak ibu kerap mengalami gangguan ini, ada baiknya segera mendapatkan pemeriksaan dokter.

Baca juga: Abdominal Migrain Vs Migrain, Lebih Bahaya Mana?

Gejala Abdominal Migrain 

Gejala pada abdominal migrain sering kali terjadi tiba-tiba dan berat, tanpa tanda-tanda sebelumnya. Penyakit ini dapat menimbulkan rasa sakit di bagian tengah tubuh atau di sekitar pusar, yang disebut sakit perut garis tengah. 

Migrain pada perut ini adalah episode berulang dari sakit perut sedang hingga parah yang terjadi antara 1 sampai 72 jam. Pengidap penyakit ini biasanya akan mengalami gejala berupa: 

  1. Nyeri pada pertengahan perut atau di sekitar pusar.
  2. Nyeri dapat terasa sedang hingga berat.
  3. Biasanya nyerinya difus atau tidak dapat ditunjuk dengan pasti.
  4. Nyeri dapat berulang dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, dan biasanya ada pola gejala yang khas pada pengidap.
  5. Merasa mual atau muntah.
  6. Wajah yang pucat atau memerah.
  7. Lemas dan tidak bertenaga.
  8. Kehilangan nafsu makan.
  9. Memiliki bayangan gelap di bawah mata.
  10. Terdapat kantung hitam di bawah mata.

Penyebab Abdominal Migrain 

Penyebab terjadinya abdominal migrain hingga kini belum diketahui secara pasti. Kemungkinan masalah ini terjadi ada hubungan dengan zat-zat kimia di dalam tubuh, yaitu histamin dan serotonin. Selain itu, perasaan kesal atau khawatir juga dipercaya dapat meningkatkan risiko seseorang alami gangguan ini karena ada hubungan antara usus dan otak.

Beberapa jenis makanan, seperti cokelat, makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG), citrus, kafein, keju, minuman berkarbonasi, mengandung zat pewarna dan perasa, serta daging yang diproses dengan nitrit, dapat memicu abdominal migrain pada beberapa orang.

Pemicu lainnya yang dapat menimbulkan abdominal migrain, antara lain cahaya yang sangat terang, kualitas tidur yang kurang baik, dalam perjalanan, puasa dalam waktu yang lama, dan stressor di sekolah maupun keluarga. Menelan banyak udara juga dapat memicu nyeri di perut ini akibat kembung dan kesulitan untuk makan.

Faktor Risiko Abdominal Migrain

  1. Abdominal migrain biasanya bersifat familial atau faktor keturunan. Jadi, anak yang mengalami penyakit ini biasanya memiliki anggota keluarga yang memiliki riwayat keluhan yang serupa.
  2. Rata-rata usia anak yang mengalami Abdominal Migrain awalnya terjadi pada usia antara 3-10 tahun, dan mencapai puncaknya pada usia 7 tahun.

Baca juga: Terlalu Banyak Konsumsi MSG Bisa Sebabkan Abdominal Migrain

Diagnosis Abdominal Migrain

Diagnosis dari abdominal migrain sering kali sulit dilakukan karena anak-anak sulit menjelaskan keluhan yang dialaminya antara migrain perut dengan sakit perut, flu perut, dan gangguan pada perut lainnya.

Seperti halnya gangguan migrain yang lain, tidak ada tes diagnostik untuk mengkonfirmasi penyakit ini. Diagnosis dapat dicapai dengan melihat riwayat medis keluarga, pemeriksaan fisik, dan melakukan pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan penyebab lainnya yang bisa menimbulkan gejala serupa.

Meski begitu, penentuannya bisa dilakukan melalui kriteria ICHD III. Berdasarkan ICHD III, diagnosis abdominal migrain dapat berdasarkan adanya penyebab yang tidak diketahui dari nyeri perut yang sedang hingga berat dan kronik, berulang, beroposisi pada daerah pertengahan perut, sekitar pusar, atau tidak dapat dilokalisasi dengan jelas, nyeri bersifat tumpul.

Serangan biasanya berlangsung selama 2—72 jam tanpa pengobatan dan pengidap biasanya tidak merasakan gejala diantara serangan. Selain itu, paling tidak ada dua gejala lain yang berhubungan, seperti kehilangan nafsu makan, mual, muntah, dan pucat saat serangan nyeri terjadi, serta paling tidak telah terjadi setidaknya 5 episode nyeri untuk memastikan diagnosisnya. 

Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter untuk dapat membedakan abdominal migrain dari kemungkinan-kemungkinan penyebab lain dari gejala yang dirasakan, seperti yang disebabkan oleh gangguan saluran cerna, gangguan susunan saraf pusat, gangguan metabolik, penyebab urogenital, penyakit hematologi/onkologi, infeksi, rematik, dan sebagainya.

Pengobatan Abdominal Migrain 

Setelah dipastikan diagnosisnya adalah abdominal migrain, pengobatan yang dapat dilakukan terbagi menjadi dua, yaitu menghilangkan gejala selama serangan dan pencegahan kekambuhan di masa depan. Nah, berikut beberapa cara pengobatan yang umumnya dilakukan oleh ahli medis, yaitu:

1. Terapi Non-farmakologi

Terapi umumnya diawali dengan terapi non farmakologi, seperti dengan penjelasan dan edukasi untuk mencegah pemicu, terapi perilaku/kebiasaan, dan modifikasi diet. Terapi perilaku dapat dilakukan dengan psikoterapi, terapi perilaku kognitif khusus, hipnoterapi, terapi keluarga, dan yoga. Beberapa modifikasi diet yang dapat dilakukan, seperti diet tinggi serat, konsumsi probiotik, diet bebas laktosa (pada pengidap dengan intoleransi laktosa).

2. Konsumsi Obat-Obatan

Jika keluhan sulit diatasi, kemungkinan dokter akan memberikan beberapa obat-obatan guna mengelola migrain perut. Berikut beberapa obat yang biasanya diresepkan oleh dokter berdasarkan kegunaannya untuk atasi abdominal migrain:

  • NSAID atau acetaminophen yang berguna untuk menghilangkan rasa sakit.
  • Triptan, obat yang berguna untuk mengatasi sakit kepala migrain dan mampu mencegah gejala berkembang.
  • Obat anti mual, obat ini bekerja untuk memblokir bahan kimia pada otak yang memicu terjadinya muntah.

Seperti halnya sakit kepala migrain, salah satu cara utama untuk mencegah abdominal migrain adalah menghindari pemicunya. Semua anggota keluarga beserta dokter perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi pemicu yang spesifik guna penyusunan strategi lebih baik agar dapat menghindari pemicunya dengan maksimal.

Ada beberapa efek samping dari beberapa obat abdominal migrain, antara lain pusing, mual, diare, penglihatan kabur, lemas, serta tangan dan kaki menjadi dingin. Jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut, ada baiknya segera berdiskusi dengan dokter. 

Selain itu, obat-obatan yang digunakan untuk atasi gangguan pada perut ini juga hanya bisa dibeli dengan resep dokter untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Komplikasi Abdominal Migrain 

Abdominal migrain yang terus dibiarkan dapat berkembang menjadi migrain sefalik (migrain kepala) meskipun nyeri pada perutnya sudah sembuh pada sebagian besar pengidap. Selain itu, abdominal migrain dapat terus terjadi bahkan jika sudah dewasa.

Baca juga: Mengidap Abdominal Migrain? Ini 6 Makanan yang Sebaiknya Dikonsumsi

Pencegahan Abdominal Migrain 

Pencegahan yang dapat dilakukan agar migrain pada perut ini tidak kambuh adalah dengan menghindari pemicunya. Dengan bantuan orangtua dan dokter, anak-anak yang mengidap abdominal migrain dapat mengetahui hal apa saja yang menjadi pemicunya.

Ibu perlu mencatat keseharian anak tentang makanannya, kegiatan yang dilakukan, konsumsi obat atau vitamin, dan sesuatu yang dapat memicu terjadinya stres atau cemas. Jika pemicunya disebabkan oleh makanan, pastikan untuk menghindarinya.

Perubahan keseharian juga perlu dilakukan untuk anak yang mengidap migrain perut. Pastikan untuk mengonsumsi makanan bergizi dengan banyak serat, berolahraga setiap hari dengan tidur yang cukup, hingga mempelajari cara mengelola emosi dan mengatasi masalah.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika anak mengalami keluhan nyeri perut yang kronik dan berulang, serta gejala lain yang mengarah pada abdominal migrain, segeralah periksakan kepada dokter terdekat. Ibu bisa melakukan pemesanan untuk pemeriksaan di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Segera download aplikasi Halodoc untuk mendapatkan fitur-fitur yang memudahkan dalam akses kesehatan!

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg

Referensi:
Yale Medicine. Diakses pada 2021. Abdominal Migraine: Symptoms, Diagnosis & Treatment.
Web MD. Diakses pada 2021. Abdominal Migraines.
American Migraine. Diakses pada 2021. Abdominal Migraine.