• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Abses Hati

Abses Hati

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Abses Hati

Pengertian Abses Hati

Abses hati adalah kantung nanah yang terbentuk akibat cedera dalam organ hati. Jika dibiarkan kondisi tersebut dapat berkembang menjadi infeksi. Nanah sendiri terbentuk dari sel darah putih dan sel mati yang terbentuk saat tubuh mencoba melawan infeksi.

Nanah tersebut seharusnya mengalir keluar organ hati. Namun, nanah justru menumpuk dalam kantung-kantung dalam organ hati. Adanya nanah tersebut akan memicu pembengkakan dan peradangan di daerah sekitar hati, sehingga rasa sakit di area sekitar perut pun tidak dapat dihindari.

Gejala Abses Hati

Ada beberapa gejala umum yang dialami oleh pengidap abses hati. Beberapa di antaranya dapat berkembang menjadi semakin parah jika tidak diatasi dengan baik. Berikut ini beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • Demam dan menggigil.
  • Nyeri pada perut di bagian kanan atas.
  • Penurunan atau kehilangan nafsu makan.
  • Badan terasa lemas.
  • Batuk-batuk atau cegukan akibat iritasi diafragma.
  • Penurunan berat badan. 
  • Kotoran berwarna merah kehitaman.
  • Urine berwarna gelap.
  • Diare.
  • Nyeri pada sendi.
  • Mual dengan atau tanpa muntah-muntah.
  • Pleuritis yang memicu kesulitan bernapas.
  • Banyak mengeluarkan keringat.
  • Jaundice yang ditandai dengan menguningnya kulit dan bagian putih mata.

Baca juga: Hati-Hati, Pneumonia Bisa Sebabkan Abses Paru-Paru

Penyebab Abses Hati

Penyakit ini umumnya dipicu oleh infeksi kuman, bakteri, parasit, atau jamur. Beberapa jenis patogen yang menjadi pemicunya, yaitu:

  • Bakteri, yaitu Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae.
  • Amoeba, yaitu Entamoeba histolytica.
  • Jamur, yaitu Candida sp.
  • Usus buntu.
  • Divertikulitis, yaitu infeksi pada kantung-kantung di sepanjang usus besar (kolon).
  • Kolesistitis, yaitu peradangan pada kantung empedu.

Selain itu, infeksi juga dapat terjadi ketika:

  • Peradangan menyebar ke hati dari kantung empedu, saluran empedu, atau usus buntu.
  • Patogen mengalir ke dalam aliran darah menuju hati dari organ lain di sekitarnya.
  • Pascaoperasi atau pernah mengalami cedera pada hati.

Faktor Risiko Abses Hati

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terkena abses hati, di antaranya:

  • Berusia lanjut.
  • Berjenis kelamin laki-laki.
  • Mengidap diabetes melitus.
  • Mengidap sirosis atau pengerasan hati.
  • Mengidap penyakit Crohn, yaitu radang usus kronis yang memengaruhi lapisan saluran pencernaan.
  • Mengidap infeksi perut atau gastrointestinal.
  • Menjalani operasi perut baru-baru ini.
  • Menjalani endoskopi tabung penguras empedu.
  • Alkoholisme atau konsumsi alkohol berat.
  • Mengidap penyakit yang mengganggu imunitas tubuh, seperti HIV atau AIDS.
  • Menjalani transplantasi organ atau pengobatan kanker.
  • Mengonsumsi obat jenis kortikosteroid.
  • Memiliki status gizi yang buruk.

Diagnosis Abses Hati

Proses diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis berdasarkan hasil wawancara dan keluhan yang dialami pengidap. Kemudian, dokter melanjutkan proses diagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang lain. Berikut ini beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan:

  • Pemeriksaan darah lengkap, yang dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dalam tubuh seseorang.
  • Pemeriksaan fungsi hati, yang dilakukan dengan memeriksa kadar enzim dan protein darah untuk mengetahui kondisi organ hati.
  • Kultur darah, yang dilakukan dengan pemeriksaan diagnostik untuk mendeteksi adanya bakteri, jamur, atau parasit dalam hati.
  • Kultur cairan abses, yang dilakukan untuk mendeteksi bakteri penyebab abses hati piogenik.
  • Rontgen, yang dilakukan dengan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik untuk menampilkan gambar bagian tubuh yang dibutuhkan.
  • Ultrasonografi (USG), yang dilakukan dengan menggunakan teknologi gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menampilkan gambar bagian tubuh yang dibutuhkan.
  • Computerized tomography scan (CT scan), yang dilakukan dengan menggabungkan teknologi sinar-X dan sistem komputer untuk menampilkan gambar bagian tubuh yang dibutuhkan.
  • Aspirasi jarum halus, yang dilakukan dengan memasukkan jarum halus melalui kulit untuk mengambil sampel berupa cairan atau jaringan.
  • Drainase kateter perkutan, yang dilakukan dengan memasang kateter guna mengalirkan cairan yang mengendap dalam organ hati.

Baca juga: Kenali 9 Gejala Abses Gigi pada Anak

Pengobatan Abses Hati

Dalam intensitas ringan hingga sedang, pengidap dapat membaik dalam waktu 2 minggu setelah mengonsumsi obat-obatan dan prosedur pembuangan nanah. Jika penyebab abses dipicu oleh amuba, maka pengidap akan mengalami demam ringan selama 4-5 hari.

Selain mengonsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter, pengidap wajib menerapkan pola hidup sehat, rajin mencuci tangan, dan rutin memeriksakan diri ke dokter. Jika abses terjadi dalam intensitas parah, prosedur operasi disarankan. Namun, jika pengidap memiliki kondisi tubuh yang tidak stabil untuk melakukan operasi, terapi antibiotik disarankan.

Setiap proses pengobatan tentu ada efek sampingnya masing-masing, tidak terkecuali terapi antibiotik. Efek samping yang dirasakan tergantung pada jenis obat yang diberikan. Oleh karena itu, sebelum diresepkan, sebaiknya beritahu dokter jika memiliki riwayat alergi pada obat-obatan. 

Komplikasi Abses Hati

Pengidap abses hati yang dipicu oleh bakteri berisiko tinggi kehilangan nyawa jika tidak diterapi secepatnya. Berikut ini beberapa kondisi yang menjadi komplikasi dari abses hati: 

  • Ruptur abses, yaitu pecahnya kantung nanah.
  • Sepsis, yaitu peradangan ekstrem akibat infeksi yang mengancam nyawa. 
  • Peritonitis, yaitu peradangan pada selaput tipis yang membatasi dinding perut bagian dalam dan organ-organ di dalamnya.
  • Empiema, yaitu menumpuknya nanah di ruang antara paru-paru dan dinding dada.
  • Endoftalmitis, yaitu peradangan di dalam bola mata akibat infeksi yang sudah berkembang.

Pencegahan Abses Hati

Abses hati yang disebabkan oleh infeksi atau peradangan dari organ lain dapat dicegah dengan melakukan beberapa langkah berikut:

  • Menjaga kebersihan.
  • Pola makan dan hidup yang teratur, agar daya tahan tubuh selalu terjaga.
  • Jika mengidap suatu penyakit, segera periksakan diri ke dokter dan atasi hingga benar-benar sembuh.
  • Hindari konsumsi alkohol dan obat-obatan yang tidak diperlukan.

Baca juga: Fakta Tentang Abses yang Perlu Diketahui

Kapan Harus ke Dokter?

Gejala serius pada pengidap mengindikasikan kondisi yang mengancam nyawa. Berikut ini beberapa kondisi yang membutuhkan penanganan medis darurat:

  • Pengidap mengalami perubahan mental dan perilaku secara mendadak, seperti kebingungan, delirium, lesu, halusinasi dan delusi.
  • Pengidap mengalami demam tinggi di atas 40 derajat Celsius.
  • Pengidap terlihat tersentak-sentak saat bergerak.
  • Pengidap terlihat sangat lesu.
  • Pengidap mengalami peningkatan detak jantung.
  • Pengidap mengalami sesak napas, kesulitan bernapas atau ketidakmampuan bernapas, atau tersedak saat bernapas.
  • Pengidap mengalami rasa sakit yang sangat parah.
  • Pengidap mengalami muntah-muntah parah hingga dehidrasi.

Seseorang yang mengalami kondisi-kondisi di atas, amat disarankan untuk menemui dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu disarankan langsung membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc. Pilih rumah sakit terdekat sesuai domisili, agar gejala parah segera mendapatkan penanganan. Yuk, segera download aplikasinya di sini.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg

Referensi:
NCBI. Diakses pada 2021. Liver Abscess.
Healthgrades. Diakses pada 2021. Liver Abscess.