• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Adenoma Bronkus

Adenoma Bronkus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Adenoma bronkus

Pengertian Adenoma Bronkus

Adenoma bronkus adalah jenis kanker langka yang dimulai dari kelenjar lendir, saluran udara paru-paru (bronkus) atau tenggorokan (trakea), dan di kelenjar ludah. Meskipun kata “adenoma” merujuk pada tumor non-kanker, sebagian besar kasus adenoma bronkial yang muncul adalah kanker dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Gejala Adenoma Bronkus

Di awal kemunculannya, gejala adenoma bronkus umumnya tidak tampak. Gejalanya sendiri dibedakan berdasarkan jenisnya, dan biasanya baru akan muncul saat kondisi sudah masuk ke dalam intensitas parah. Berikut ini gejala yang tampak pada pengidap adenoma bronkus berdasarkan jenisnya:

  1. Tumor Karsinoid

Tumor ini mempengaruhi sel saraf dan sel yang bertugas untuk memproduksi hormon dalam tubuh. Tumor karsinoid dapat terbentuk di paru-paru, perut, atau usus, dengan gejala berikut ini:

  • Batuk biasa hingga batuk darah.
  • Mengi atau napas yang berbunyi.
  • Sesak napas.
  • Nyeri pada dada.
  • Kemerahan pada wajah.
  • Infeksi pada paru, seperti pneumonia. 
  1. Tumor Karsinoma Adenoid Kistik

Meski dimulai di kelenjar ludah pada mulut dan tenggorokan, tumor ini dapat mempengaruhi trakea, kelenjar air mata, kelenjar keringat, rahim, vulva, atau payudara wanita. Pengidap tumor karsinoma adenoid kistik bisa mengalami gejala berupa:

  • Benjolan pada langit-langit mulut, dibawah lidah atau bawah mulut.
  • Kesulitan menelan.
  • Suara serak.
  • Rasa kebal pada rahang, langit-langit mulut, wajah atau lidah.
  • Muncul benjolan di bawah rahang atau depan telinga. 
  1. Tumor Karsinoma Mukoepidermoid

Tumor ini muncul di kelenjar ludah, dan umumnya mempengaruhi kelenjar parotis di depan telinga. Pengidap tumor karsinoma mukoepidermoid akan mengalami sejumlah gejala, seperti:

  • Pembengkakkan pada kelenjar di dekat telinga, bawah rahang, atau mulut.
  • Kebal atau rasa nyeri yang muncul pada wajah.

Penyebab dan Faktor Risiko Adenoma Bronkus

Sama seperti kanker pada umumnya, penyebab adenoma bronkus juga belum bisa dipastikan hingga kini. Meski demikian, ada beberapa faktor pemicu yang meningkatkan risiko terjadinya adenoma bronkus pada seseorang. Berikut ini beberapa faktor risiko tersebut:

  1. Faktor Genetik

Faktor genetik dinilai berperan dalam pembentukan beberapa jenis adenoma bronkus. Risiko mengidap adenoma karsinoid lebih tinggi dialami oleh pengidap penyakit bawaan, seperti multiple endocrine neoplasia type 1 (MEN-1).

  1. Terpapar Radiasi

Faktor risiko selanjutnya adalah orang yang pernah melakukan prosedur radiasi pada bagian kepala dan leher. Berkaitan dengan jenisnya, orang yang melakukan praktik tersebut lebih rentan mengalami adenoma karsinoma mukoepidermoid. 

Diagnosis Adenoma Bronkus

Proses diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis berdasarkan hasil wawancara dan keluhan yang dialami pengidap. Kemudian, dokter melanjutkan proses diagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang lain. Berikut ini beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan:

  • Rontgen dada, yang dilakukan dengan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik untuk menampilkan gambar bagian tubuh yang dibutuhkan.
  • Computed Tomography Scan (CT Scan), yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tumor, di mana lokasi kemunculannya, dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI), yang dilakukan ketika hasil dari CT scan tidak menunjukkan hasil pasti.

Saat sudah terdeteksi tetapi belum yakin dengan hasilnya, dokter kerap melakukan sejumlah pemeriksaan penunjang lain. Berikut ini beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan:

  • Pemindaian nuklir, yang dilakukan untuk untuk mendeteksi tumor karsinoid dan lokasi penyebarannya.
  • Bronkoskopi, yang dilakukan untuk memvisualisasikan bagian dalam tenggorokan dan saluran udara besar di paru-paru untuk mengetahui adanya pertumbuhan abnormal.
  • Aspirasi jarum halus trans bronkoskopi, yang dilakukan saat menemukan lesi tidak mudah dijangkau, dan berada di dinding saluran pernapasan. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan pada lesi dengan ukuran kurang dari 2 sentimeter.
  • Aspirasi jarum halus yang dibarengi dengan CT scan, yang dilakukan menggunakan jarum melalui dinding dada, di antara tulang rusuk, dan ditempatkan di nodul. Spesimen biopsi dilakukan untuk menentukan apakah nodul tersebut jinak dan bukan kanker, atau ganas.

Pengobatan dan Efek Samping yang Muncul Sesudahnya

Pengobatan adenoma bronkus yang dilakukan akan tergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit, usia pasien, kondisi kesehatan menyeluruh, serta pilihan masing-masing. Berikut ini beberapa pilihan pengobatan yang dilakukan:

  1. Operasi

Langkah pertama dilakukan dengan operasi pengangkatan kanker dan jaringan, serta kelenjar bening yang sudah terkena guna mencegah penyebaran. Sama halnya dengan operasi lainnya, prosedur ini dapat memberikan efek samping, berupa:

  • Susah buang air kecil.
  • Luka atau infeksi di area bekas sayatan.
  • Mual dan muntah akibat obat bius.
  • Nyeri di area bekas sayatan.
  • Terjadi penggumpalan pembuluh darah.
  1. Terapi Radiasi

Terapi radiasi dilakukan menggunakan gelombang elektromagnetik berkekuatan tinggi untuk membunuh sel-sel abnormal. Meski dapat mengurangi gejala dan mengecilkan bentuk tumor, terdapat beberapa efek samping yang bisa saja terjadi. Berikut ini beberapa di antaranya:

  • Lemas.
  • Kulit yang memerah.
  • Sakit tenggorokan.
  • Batuk-batuk.
  • Napas terengah-engah.
  1. Kemoterapi

Prosedur kemoterapi dilakukan menggunakan obat minum atau suntikan intravena untuk membunuh sel-sel abnormal. Prosedur ini biasanya dilakukan saat sel abnormal tersebut sudah bermetastasis ke area tubuh lainnya. Berikut ini beberapa efek samping yang bisa saja dialami:

  • Lemas.
  • Mual dan muntah.
  • Kerontokan rambut.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Diare.
  • Rentan terkena infeksi.
  1. Pilihan Pengobatan Lain

Selain beberapa pilihan tersebut, imunoterapi jadi pengobatan lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerja sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan sel-sel abnormal. Selain menghancurkannya, imunoterapi dapat mencegah sel-sel abnormal bermetastasis ke area sekitar.

Setelah selesai menjalani serangkaian pengobatan, kamu tetap harus menjalani pemeriksaan rutin. Tujuannya agar gejala dan masalah baru yang muncul dapat segera ditangani dengan baik. Pemeriksaan rutin juga bertujuan untuk mencegah penyebaran atau munculnya sel-sel abnormal di area lainnya.

Komplikasi Adenoma Bronkus

Adenoma bronkus yang tidak atasi dengan baik dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya. Jika sudah begitu, kehilangan nyawa menjadi komplikasi paling parah yang bisa saja terjadi. Berikut ini beberapa komplikasi lainnya, jika gejala yang muncul tidak segera mendapat penanganan:

  • Perdarahan. 
  • Kebocoran pada saluran pernapasan. 
  • Gangguan pembekuan darah.
  • Berkurangnya pasokan oksigen ke organ jantung. 
  • Atelektasis, yang terjadi akibat paru-paru tidak mampu mengembang sempurna.
  • Pneumonia, yang terjadi akibat adanya peradangan pada organ paru-paru.
  • Gagal napas, yang dapat berujung pada kematian.

Pencegahan Adenoma Bronkus

Bronkus adalah cabang dari batang tenggorokan yang terletak setelah tenggorokan dan sebelum paru-paru. Bronkus merupakan bagian dari saluran udara yang bertugas untuk memastikan udara masuk ke alveolus. Jika diturunkan melalui riwayat genetik, tidak ada metode pencegahan khusus yang dilakukan.

Namun, pemeriksaan kesehatan rutin (medical check-up) dapat membantu menemukan penyakit ini lebih dini sehingga dapat diterapi dengan segera. Selagi menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, berikut ini pola hidup sehat yang dapat dilakukan guna menjaga kesehatan organ paru-paru:

  • Berhenti merokok.
  • Jauhi asap rokok. 
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air.
  • Menghindari polusi udara.
  • Menjaga kebersihan udara dalam rumah.
  • Rutin berolahraga.

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila memiliki faktor risiko adenoma bronkus atau mengalami batuk dalam jangka waktu yang lama, sebaiknya buat janji temu dengan dokter di rumah sakit terdekat lewat aplikasi Halodoc untuk melakukan pemeriksaan. Yuk, download Halodoc sekarang juga!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg

Referensi:
Emedicinehealth. Diakses pada 2021. Bronchial Adenoma.
WebMD. Diakses pada 2021. What Is a Bronchial Adenoma?