Akromegali

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Akromegali

Akromegali berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pembesaran” dan “ekstrimitas (lengan dan tungkai)”. Akromegali merupakan suatu penyakit yang sangat jarang terjadi, di mana tubuh menghasilkan hormon pertumbuhan (yaitu insulin like growth factor I /IGF-1)  yang berlebihan setelah penutupan tulang pertumbuhan pada orang dewasa.  Biasanya, penyakit ini terjadi pada usia 40—45 tahun. Pada anak-anak (sebelum pubertas), kondisi seperti ini disebut “gigantisme”.

 

Gejala Akromegali

Gejala akromegali dapat beragam dan biasanya lambat perkembangannya. Pada awalnya, gejala biasanya berupa:

  • Pembengkakkan pada tangan dan kaki. Biasanya, ditandai dengan perubahan pada ukuran cincin dan sepatu.
  • Kelelahan dan sulit tidur.
  • Mendengkur.
  • Perubahan pada tampilan wajah, seperti alis, rahang bawah, dan hidung menjadi semakin besar, dan sela gigi menjadi lebih lebar.
  • Baal dan lemas di tangan yang disebabkan karena penekanan pada syaraf di tangan.
  • Pada anak-anak dan remaja akan menjadi sangat tinggi.

Pada kondisi lanjut, keluhan dapat bertambah, seperti:

  • Ukuran tangan dan kaki yang besar.
  • Ukuran hidung dan bibir, serta lidah yang besar.
  • Perubahan kulit, seperti menjadi lebih tebal, kasar, dan berminyak atau sering sekali berkeringat.
  • Suara yang menjadi lebih dalam.
  • Nyeri sendi.
  • Nyeri dada.
  • Sakit kepala
  • Gangguan penglihatan.
  • Penurunan libido.
  • Gangguan haid bagi wanita dan gangguan ereksi pada pria.
  • Dapat berisiko terkena diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, dan pembesaran jantung.

 

Penyebab Akromegali

Penyebab paling sering dari akromegali adalah karena adanya tumor jinak di kelenjar kecil  di bawah otak yang disebut kelenjar pituitari. Sebagian besar gejala dari penyakit akromegali disebabkan karena efek produksi hormon pertumbuhan oleh kelenjar pituitari yang berlebihan, tetapi beberapa keluhan dapat juga disebabkan oleh penekanan jaringan disekitar tumor akibat tumor yang makin membesar. Misalnya, nyeri kepala atau penglihatan yang semakin buram akibat penekanan saraf di sekitar tumor.

Penyebab lain yang dapat menyebabkan akromegali adalah tumor di paru, pankreas, ataupun tumor otak lainnya.

 

Faktor Risiko Akromegali

Biasanya akromegali terkait dengan genetik, sehingga riwayat keluarga mengidap akromegali dapat menjadi faktor risiko.

 

Diagnosis Akromegali

Diagnosis akromegali seringkali sulit dilakukan dengan sekali konsultasi, sebab gejalanya biasanya muncul perlahan-lahan dalam waktu yang lama. Kemungkinan membutuhkan beberapa kali pemeriksaan dan dokter biasanya akan meminta data, seperti foto-foto sejak kecil atau muda. Jika dokter mencurigai kamu mengidap akromegali, kemungkinan perlu melakukan tes pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hormon pertumbuhan dan pemeriksaan MRI atau CT scan jika didapatkan kadar hormon pertumbuhan yang melebihi batas normal.

 

Pengobatan dan Efek Samping Akromegali

Pengobatan akromegali biasanya bergantung dari gejala yang dialami. Pada pengidap akromegali yang memiliki tumor kelenjar pituitary, biasanya disarankan untuk dilakukan pengangkatan tumor melalui pembedahan, yang kemungkinan perlu dilanjutkan dengan terapi obat atau radioterapi .

  1.    Pembedahan

Terapi dengan mengangkat tumor merupakan salah satu terapi yang efektif untuk pengidap akromegali akibat tumor pituitari. Pemilihan untuk pengangkatan tumor perlu pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan manfaatnya. Pada kondisi di mana ukuran tumor terlalu besar dan tidak bisa langsung diangkat seluruhnya, biasanya akan dilakukan pengangkatan sebagian dan diikuti oleh obat atau radioterapi sebelum pembedahan selanjutnya.  Operasi pengangkatan tumor kelenjar pituitari merupakan operasi yang membutuhkan bius total dan dilakukan di ruang operasi.

Operasi atau tindakan pembedahan untuk mengangkat tumor kelenjar pituitari memiliki beberapa risiko, seperti risiko kerusakan jaringan yang sehat serta infeksi pada selaput otak. Dokter bedah akan memberikan penjelasan sebelum melakukan tindakan dan berupaya meminimalisir risiko tindakan yang mungkin dapat terjadi.

  1.    Obat

Dokter akan memberikan obat-obatan setelah operasi ataupun pada kondisi di mana operasi tidak dapat dilakukan karena suatu hal. Tujuan dari pemberian obat-obatan adalah untuk mengurangi produksi hormon pertumbuhan. Jenis obat-obatan yang dapat diberikan, antara lain golongan dopamin agonis, analog somatostatin, dan antagonis hormon pertumbuhan. Analog somatostatin dapat memberikan efek samping pada perut atau saluran cerna, seperti diare dan mual maupun batu empedu.

  1.    Radioterapi

Radioterapi biasanya menjadi pilihan jika pada keadaan tertentu pasien tidak dapat menjalankan operasi dan pemberian obat-obatan tidak memberikan hasil yang baik.

 

Pencegahan Akromegali

Hingga saat ini belum ditemukan metode yang dapat mencegah terjadinya akromegali, sehingga penemuan dan penanganan sedini mungkin merupakan langkah yang paling efektif untuk mengobati penyakit ini.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala atau keluhan yang mengarah pada akromegali, segera bicarakan pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit sesuai domisili kamu di sini.