Anemia Aplastik

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Anemia Aplastik

Anemia aplastik adalah salah satu jenis kelainan darah yang disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah. Pada kondisi ini, sumsum tulang tidak dapat memproduksi salah satu atau seluruh sel darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan platelet.

 

Faktor Risiko Anemia Aplastik

Faktor risiko terjadinya anemia aplastik, antara lain:

  • Berasal dari wilayah Asia.

  • Usia 20-25 tahun.

  • Memiliki kelainan sistem imun.

  • Mengidap kanker.

  • Menjalani terapi radiasi atau kemoterapi.

  • Terpapar lama pada zat kimia berbahaya.

Baca juga: Anemia Aplastik Vs Anemia Hemolitik, Mana yang Lebih Bahaya?

 

Penyebab Anemia Aplastik

Terdapat dua jenis anemia aplastik, yaitu anemia aplastik yang didapat dan anemia aplastik yang diturunkan. Anemia aplastik yang diturunkan biasanya disebabkan oleh kerusakan gen. Beberapa penyakit keturunan yang dapat menimbulkan anemia aplastik, antara lain anemia Fanconi, Sindrom Shwachman-Diamond, diskeratosis kongenital, dan anemia Diamond-Blackfan. Kelainan ini biasanya diidap oleh anak-anak atau pada usia muda. Sedangkan, anemia aplastik biasanya terjadi pada orang dewasa.

Penyakit ini merupakan tipe anemia aplastik terbanyak dan biasanya terkait dengan kelainan yang mengganggu sistem imun (penyakit autoimun), seperti virus, penggunaan obat-obatan (misalnya, kloramfenikol), zat kimia berbahaya (misalnya, pestisida), kehamilan, radiasi, ataupun kemoterapi. Pada beberapa kasus, anemia aplastik tidak dapat dijelaskan penyebabnya (idiopatik).

 

Gejala Anemia Aplastik

Setiap jenis sel darah memiliki fungsi khusus di dalam tubuh. Sel darah merah berfungsi utama untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, sedangkan sel darah putih bertugas untuk melawan infeksi dan platelet untuk mencegah perdarahan. Keluhan yang timbul pada pengidap aplastik dapat berbeda-beda pada setiap pengidapnya tergantung pada jenis sel darah apa yang mengalami defisiensi.

Pada kondisi defisiensi sel darah merah, keluhan dapat berupa:

  • Mudah mengantuk.

  • Lemas.

  • Merasa lemah.

  • Pucat.

  • Pusing atau nyeri kepala.

  • Sesak napas.

  • Nyeri dada.

  • Jantung berdebar-debar.

Pengidap anemia aplastik dapat mengalami gejala berikut (saat dalam keadaan defisit sel darah putih):

  • Demam.

  • Mudah sakit atau mengalami infeksi berulang.

Jika jumlah platelet rendah, maka tubuh akan mengalami:

  • Mudah memar.

  • Perdarahan, seperti mimisan atau perdarahan gusi

 

Diagnosis Anemia Aplastik

Untuk menegakkan diagnosis anemia aplastik, dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik. Di samping itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mengonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang dianjurkan biasanya meliputi:

  • Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan darah lengkap dan retikulosit untuk memeriksa kadar hemoglobin, hematokrit, sel darah merah, sel darah putih, dan platelet.

  • Pemeriksaan Sumsum Tulang

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah sumsum tulang dapat menghasilkan sel darah yang cukup. Pemeriksaan sumsum tulang meliputi aspirasi dan biopsi. Aspirasi dilakukan dengan pengambilan sampel cairan sumsum tulang dengan menggunakan jarum khusus, kemudian dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop. Sedangkan saat biopsi dilakukan, sedikit jaringan sumsum tulang akan diambil dengan jarum khusus yang diperiksa di bawah mikroskop. Pada anemia plastik, jumlah sel darah pada sumsum tulang belakang lebih rendah dari normal.

Baca juga: Kenali Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Anemia Aplastik

 

Komplikasi Anemia Aplastik

Biasanya, anemia aplastik akan sembuh dengan sendirinya setelah dilakukan pengobatan, salah satunya dengan transfusi darah. Namun, untuk mencegah komplikasi, cara tersebut tidak boleh dilakukan secara terus-menerus. Pasalnya, tubuh dikhawatirkan akan mengembangkan antibodi dalam darah yang ditransfusi, sehingga pengobatan yang dilakukan menjadi tidak efektif.

 

Pengobatan Anemia Aplastik

Terapi pada anemia aplastik bergantung pada beratnya penyakit. Pada keadaan yang ringan, belum diperlukan pengobatan. Pada keadaan yang lebih berat, pengobatan untuk mempertahankan jumlah sel darah ataupun memperbaiki fungsi sumsum tulang dapat diberikan. Jenis pengobatan yang dapat diberikan, antara lain:

  • Obat-Obatan

Dokter akan memberikan terapi untuk mencegah dan mengobati infeksi, menstimulasi sumsum tulang, ataupun menekan sistem imun untuk mencegah penyakit semakin berat. Jenis obat yang diberikan untuk mengobati infeksi, biasanya tergantung jenis infeksi yang dialami. Untuk menstimulasi sumsum tulang, dapat diberikan eritropoetin atau colony-stimulating factor. Beberapa obat yang dapat menekan sistem imun, antara lain antithymocyte globulin (ATG), siklosporin, ataupun metilprednisolon.

  • Transfusi Darah

Transfusi darah bertujuan untuk mempertahankan jumlah sel darah yang cukup untuk mempertahankan tubuh agar tetap sehat. Pemberian transfusi dilakukan melalui selang intravena ke pembuluh darah.

  • Transplantasi Sumsum Tulang

Penggantian sumsum tulang belakang dari pendonor yang sehat dapat berpotensi menyembuhkan anemia aplastik.

Baca juga: Bisakah Pengidap Anemia Aplastik Sembuh Total?

 

Pencegahan Anemia Aplastik

Berbagai cara untuk dapat mengurangi risiko terjadinya anemia aplastik, antara lain:

  • Menjaga kebersihan, misalnya dengan rajin mencuci tangan.

  • Mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan aturan pakai dan untuk antibiotik harus diresepkan dan sesuai anjuran dokter.

  • Mengonsumsi makanan yang sehat.

  • Olahraga secara teratur.

  • Menghindari stres.

  • Istirahat yang cukup.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami keluhan yang mengarah pada anemia aplastik, segera bicarakan dengan dokter untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Aplastic Anemia

Diperbarui pada tanggal 22 Agustus 2019