Anemia Pernisiosa

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Anemia Pernisiosa

Sel darah merah yang mengandung hemoglobin yang cukup diperlukan tubuh untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Anemia terjadi karena jumlah sel darah merah yang lebih sedikit dari normal atau memiliki kadar hemoglobin yang rendah. Ada berbagai jenis penyebab anemia, salah satunya adalah anemia pernisiosa. Anemia pernisiosa adalah keadaan ketika tubuh kekurangan vitamin B12 yang diperlukan untuk menghasilkan sel darah merah yang dapat berfungsi normal. Nama lain dari anemia pernisiosa adalah anemia megaloblastik.

 

Faktor Risiko Anemia Pernisiosa

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap anemia pernisiosa adalah:

  • Berusia lebih dari 60 tahun.

  • Memiliki penyakit autoimun, seperti penyakit Addison.

  • Memiliki riwayat keluarga dengan anemia pernisiosa.

  • Riwayat pembedahan di bagian perut.

  • Memiliki riwayat penyakit lain yang mempengaruhi penyerapan nutrisi, seperti penyakti Chron, HIV, atau infeksi lainnya.

  • Menjalani pengobatan antibiotik atau antikejang.

 

Penyebab Anemia Pernisiosa

Salah satu penyebab anemia pernisiosa adalah penyakit autoimun. Biasanya, vitamin B12 akan bergabung dengan protein di dalam saluran pencernaan yang kemudian akan diserap di bagian usus halus yang bernama ileum distal. Pada anemia pernisiosa, sistem imun pengidap akan menyerang bagian saluran cerna yang memproduksi faktor intrinsik, sehingga tubuh tidak bisa menyerap vitamin B12.

Penyebab lain dari anemia pernisiosa adalah kurangnya konsumsi makanan yang mengandung vitamin B12. Jenis makanan yang mengandung vitamin B12 antara lain daging, ikan, dan produk susu. Selain itu, beberapa kondisi dapat memengaruhi saluran cerna, seperti pembedahan peradangan, infeksi, obat-obatan, penyakit jantung kongestif, kerusakan liver, dialisis jangka panjang, hamil, mengidap kanker, serta gangguan darah juga dapat menjadi penyebab kekurangan vitamin B12

 

Gejala Anemia Pernisiosa

Gejala penyakit ini berkembang perlahan sesuai dengan beratnya kekurangan vitamin B12. Gejala anemia pernisiosa, antara lain:

  • Merasa lemas atau lemah.

  • Pusing atau sakit kepala.

  • Nyeri dada.

  • Pingsan.

  • Rasa kesemutan atau baal pada tangan dan kaki.

  • Sulit konsentrasi.

  • Mual.

  • Muntah.

  • Tidak nafsu makan.

  • Mudah lupa atau bingung.

  • Gangguan mood.

Baca jugaMengidap Anemia Pernisiosa, Apakah Berbahaya?

 

Diagnosis Anemia Pernisiosa

Dokter akan menanyakan serangkaian pertanyaan untuk mengarahkan diagnosis dan melakukan pemeriksaan fisik. Selanjutnya, mungkin akan perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mengonfirmasi diagnosis, seperti:

  • Pemeriksaan Darah Lengkap

Pemeriksaan ini akan dapat mengukur kadar hemoglobin didalam darah dan kondisi sel darah merah.

  • Pemeriksaan Kadar Vitamin B12

Melalui tes ini adar vitamin B12 dapat diketahui.

  • Pemeriksaan Antibodi Faktor Intrinsik

Pemeriksaan ini juga menggunakan sampel darah. Antibodi di dalam darah akan diuji terhadap faktor intrinsik.

 

Pengobatan Anemia Pernisiosa

Pengobatan anemia pernisiosa diberikan berdasarkan penyebabnya, antara lain:

  • Makanan Tinggi Vitamin B12

Rekomendasi untuk makan makanan yang tinggi vitamin B12, seperti daging, ikan salmon, susu dan produk turunannya, serta telur. Untuk vegetarian, dapat mengonsumsi ekstrak ragi (marmit), sereal yang sudah difortifikasi, dan produk kedelai. Bagi pengidap alergi makanan yang telah disebutkan, mereka dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mencari alternatif makanan pengganti.

  • Tablet Vtamin B12

Tablet vitamin B12 dapat diminum sekali sehari atau atas petunjuk dokter. Efek samping obat ini sangat jarang, tetapi jika kamu mengonsumsi vitamin B12 dan mengalami keluhan, seperti diare, bengkak, kram otot, haus, dan sering buang kecil, maka dapat segera didiskusikan dengan dokter terdekat.

  • Injeksi Vitamin B12 (Hidrokobalamin)

Biasanya, injeksi ini diberikan ketika anemia pernisiosa tidak dapat diperbaiki dengan asupan nutrisi melalui makanan. Biasanya, suntikan diberikan setiap 2 minggu sekali atau atas rekomendasi dokter. Beberapa efek samping injeksi vitamin B12 yang dapat terjadi, seperti nyeri atau tidak nyaman di tempat suntikan, mual, diare, nyeri sendi, ataupun pusing. Oleh karena itu, pastikan injeksi diberikan sesuai indikasi dan sesuai aturan dokter.

 

Pencegahan Anemia Pernisiosa

Pencegahan anemia pernisiosa dapat dilakukan dengan rajin mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B12 dan menjaga kesehatan saluran cerna, seperti:

  • Memakan makanan yang sehat.

  • Olahraga teratur.

  • Hindari stres dan kelelahan berlebih.

  • Apabila ingin melakukan penurunan berat badan, segera diskusikan dengan dokter terlebih dahulu, supaya kebutuhan gizi tubuh tetap terpenuhi.

Baca juga: Cegah Anemia Pernisiosa dengan Lakukan 3 Hal Ini

 

Kapan Harus ke Dokter?

Kunjungi dokter terdekat jika mengalami gejala anemia pernisiosa, karena semakin lama tidak diobati, maka gejala akan semakin memberat.

Referensi:
WebMD.com. Diakses tahun 2019. What Is Pernicious Anemia?

Diperbarui pada tanggal 22 Agustus 2019