Blefaritis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Blefaritis

Blefaritis merupakan penyakit pada mata yang timbul karena peradangan pada tepi kelopak mata. Kondisi ini membuat bagian tersebut jadi bengkak dan memerah. Umumnya blefaritis membuat salah satu mata terlihat lebih meradang, ketimbang mata yang satunya.

Penyakit mata ini tidak memandang usia, alias bisa terjadi pada siapa saja. Setidaknya ada tiga jenis blefaritis, yaitu:

  • Blefaritis anterior, jenis ini ditandai dengan peradangan pada kulit di sekitar pangkal bulu mata. Kondisi ini akibat reaksi tubuh terhadap bakteri Staphylococcus.

  • Blefaritis posterior, jenis ini menyebabkan perdangan pada kelenjar meibomian karena teresumbut kotoran, inflamasi, atau serpihan kulit.

  • Blefaritis campuran, jenis ini merupakan kombinasi antara blefaritis anterior dan blefaritis posterior.

 

Faktor Risiko Blefaritis

Ada beberapa faktor risiko yang bisa memicu terjadi blefaritis. Misalnya:

  • Infeksi bakteri.

  • Ketombe pada kulit kepala atau alis.

  • Alergi akibat penggunaan kosmetik.

  • Efek samping obat-obatan.

  • Adanya kutu pada bulu mata.

  • Adanya kelainan pada kelenjar minyak.

Baca juga: 5 Makanan yang Baik untuk Pengidap Blefaritis

 

Penyebab Blefaritis

Sebenarnya penyebab blefaritis hingga kini belum diketahui pasti. Namun, dalam kebanyakan kasus, penyakit mata ini disebabkan oleh bakteri yang membuat tepi kelopak mata yang sensitif sehingga muncul peradangan.

 

Gejala Blefaritis

Gejala blefaritis biasanya terasa memburuk pada pagi hari. Hal yang perlu digarisbawahi, gejala blefaritis bukan cuma menyoal pembengkakan atau kelopak mata yang memerah. Berikut beberapa gejala yang umumnya dialami pengidap blefaritis:

  • Kelopak mata terasa gatal.

  • Mata bisa tampak berair atau bisa tampak kering.

  • Mata terasa berpasir dan panas.

  • Pengelupasan kulit di sekitar mata.

  • Bulu mata menjadi berkerak atau berminyak.

  • Tepi kelopak mata terlihat bengkak.

  • Kelopak mata menjadi lengket.

  • Mata menjadi sensitif terhadap sinar matahari.

  • Penglihatan tampak buram.

  • Pertumbuhan bulu mata yang tidak normal.

  • Tanpa disadari, mata menjadi lebih sering berkedip.

  • Tidak nyaman saat memakai lensa mata.

  • Kehilangan bulu mata (pada kasus blefaritis parah).

 

Diagnosis Blefaritis

Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan memeriksa kondisi mata pasien. Pemeriksaan ini difokuskan pada kelopak mata. Dalam pemeriksaan ini dokter akan menggunakan alat seperti kaca pembesar. Tujuannya agar bisa meliht kondisi mata masien dengan detail.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya akan mengambil sampel kerak kulit atau minyak pada kelopak mata untuk diteliti. Lewat sampel ini baru bisa diketahui ada-tidaknya infeksi jamur, bakteri, atau alergi.

Baca juga: Blefaritis Menahun Dapat Sebabkan Mata Kering

 

Komplikasi Blefaritis

  • Pertumbuhan bulu mata yang tidak normal.

  • Kerontokan bulu mata.

  • Bintit terasa sakit pada bagian tepi kelopak mata karena infeksi yang berkembang.

  • Luka pada kelopak mata.

  • Bentuk tepi kelopak mata yang berubah (melipat ke dalam atau ke luar).

  • Kalazion atau benjolan seperti bintit yang muncul di bagian dalam kelopak mata.

  • Rasa tidak nyaman ketika memakai kontak lensa.

  • Tukak pada kornea akibat iritasi berkepanjangan.

  • Kerusakan pada kornea akibat tukak pada kornea yang tidak tertangani.

 

Pengobatan Blefaritis

Apabila tingkat inflamasi belum parah, blefaritis dapat diredakan dengan mencuci mata menggunakan air bersih dan dikompres dengan air hangat. Namun, apabila cara ini belum berhasil untuk meredakan inflamasi, maka sebaiknya menemui dokter untuk mendapatkan tindakan medis lebih lanjut.

Pengobatan yang dilakukan akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan. Contohnya, antibiotik dalam bentuk tetes mata dan salep mata akan diresepkan oleh dokter jika inflamasi disebabkan oleh infeksi bakteri. Terutama pada kasus infeksi yang sudah menyebar hingga ke luar kelopak mata, tetes mata antibiotik adalah obat yang paling umum diresepkan oleh dokter untuk mengatasi kondisi tersebut. Bila kondisi tidak membaik dengan penggunaan obat di mata, dokter mungkin akan memberikan obat antibiotik minum.

Dokter akan meresepkan obat steroid dalam bentuk tetes dan salep jika inflamasi pada kelopak mata bukan disebabkan oleh infeksi. Namun, bila pengidapnya mengalami iritasi sehingga membuat mata kering, dokter akan meresepkan obat lain. Misalnya, tetes mata yang punya efek melumasi.

Selama menjalani pengobatan, sebaiknya mengonsumsi makanan yang mengandung omega-3. Contoh-contoh makanan yang mengandung omega-3 di antaranya adalah:

  • Ikan sarden, tuna, salmon.

  • Kacang-kacangan.

  • Kacang kedelai dan produk dari kacang kedelai.

  • Biji-bijian.

  • Sayuran berdaun hijau.

 

Pencegahan Blefaritis

Agar terhindar dari blefaritis, cuci wajah hinggabersih secara teratur tiap hari. Selain itu, jaga kebersihan tangan untuk menghindari kontaminasi bakteri ketika menyentuh mata. Jika biasa memakai riasan wajah, jangan lupa untuk membersihkannya tiap sebelum tidur malam.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika merasakan gejala bengkak, nyeri dan mata tampak merah, segera temui dokter untuk menjalani pemeriksaan. Jangan menggosok mata apabila merasakan gejala gatal karena hal itu bisa memperluas penyebaran infeksi.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Eyelid Inflammation (Blepharitis).
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Health A-Z. Blepharitis.  
Mayo Clinic Diakses pada 2019.Diseases and Conditions. Blepharitis.

Diperbarui pada 2 September 2019