• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Botulisme

Botulisme

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Botulisme

Pengertian Botulisme

Botulisme adalah gangguan kesehatan berupa keracunan yang cukup serius. Keracunan ini disebabkan oleh Clostridium botulinum. Meskipun penyakit ini menjadi gangguan kesehatan yang langka, racun penyebab botulisme sangat berbahaya dan mematikan.

Bakteri dapat menghasilkan racun yang menyerang sistem saraf. Mulai dari saraf otak, tulang belakang, atau saraf lainnya yang bisa menyebabkan kelumpuhan otot. Kelumpuhan bisa dialami pada bagian otot yang mengendalikan pernapasan. Hal ini dapat menyebabkan kematian jika botulisme tidak segera ditangani dengan tepat.

Bakteri penyebab botulisme dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang dikonsumsi atau luka terbuka pada tubuh.

Penyebab Botulisme

Penyebab botulisme adalah bakteri Clostridium botulinum. Bakteri ini bisa ditemukan di debu, tanah, sungai, atau dasar laut. Sebenarnya bakteri ini tak berbahaya bila berada di kondisi lingkungan yang normal. Namun, bila berada di lingkungan yang kekurangan oksigen, bakteri ini akan melepaskan racunnya. Contohnya, jika berada dalam kaleng tutup botol, tubuh manusia, atau di tanah yang tidak bergerak.

Faktor Risiko Botulisme

Setidaknya ada beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya botulisme, misalnya:

  1. Penyalahgunaan NAPZA, bakteri penyebab botulisme bisa menyebabkan kontaminasi zat yang terkandung dalam narkoba.
  2. Sering mengonsumsi makanan kalengan rendah asam, apalagi bila tidak dikemas dengan baik.
  3. Sering terpapar tanah, atau memiliki pekerjaan yang kondisi lingkungannya bertanah. 

Jenis-Jenis Botulisme

Botulisme memiliki beberapa jenis berbeda yang disesuaikan dengan pemicunya, yaitu:

  • Botulisme keracunan makanan. Botulisme yang muncul akibat konsumsi makanan kalengan rendah asam, seperti buncis, jagung, dan bit yang menjadi tempat berkembangnya bakteri Clostridium botulinum. Jika seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung racun penyebab botulisme, maka racun tersebut akan mengganggu fungsi saraf, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.
  • Botulisme luka. Jenis ini muncul akibat luka pada pengidap yang terinfeksi bakteri. Bakteri ini nantinya akan berkembang biak, kemudian memproduksi racun yang menyebabkan botulisme.
  • Botulisme bayi. Jenis ini terjadi saat bayi menelan spora Clostridium botulinum, spora ini umumnya terdapat pada tanah atau madu. Spora ini nantinya bisa berkembang biak dan memproduksi racun, tepatnya di saluran pencernaan. Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini umumnya terjadi pada bayi di bawah satu tahun. 
  • Botulisme Usus Dewasa. Jenis ini menjadi botulisme yang sangat langka. Hal ini dapat terjadi ketika spora bakteri masuk ke dalam usus dewasa, berkembang, dan menghasilkan racun yang serupa dengan jenis botulisme bayi. Orang dengan riwayat gangguan kesehatan pada usus berisiko mengalami botulisme jenis ini.
  • Botulisme Iatrogenik. Jenis ini terjadi ketika terlalu banyak racun botulinum yang disuntikkan untuk kepentingan kosmetik atau medis.
  • Botulisme Inhalasi. Botulisme jenis ini sangat jarang terjadi. Hal ini bisa terjadi ketika kamu menghirup udara yang mengandung racun.

Gejala Botulisme

Ketika botulisme menyerang seseorang, maka pengidapnya akan mengalami beberapa gejala. Namun, gejalanya bisa berbeda pada tiap pengidapnya. Gejala ini bisa timbul beberapa jam atau hari setelah bakteri masuk ke dalam tubuh. Berikut beberapa gejala berdasarkan penyebab dan jenis botulisme.

  1. Botulisme Keracunan Makanan: Kesulitan menelan dan berbicara, mulut kering, otot wajah lemah, gangguan penglihatan, kelopak mata lemas (terkulai), kesulitan bernapas, mual, muntah, kram perut, dan lumpuh.
  2. Botulisme Luka: Kesulitan menelan dan berbicara, otot wajah lemah, gangguan penglihatan, kelopak mata lemas (terkulai), kesulitan bernapas, dan lumpuh.
  3. Botulisme Bayi: Sembelit, kesulitan mengontrol kepala, gerak tubuh tidak bertonus (tidak ada tegangan otot, seperti boneka kain), menangis lemah, mudah marah, sering mengeluarkan air liur, kelopak mata lemas terkulai, kelelahan, kesulitan untuk menyedot atau makan, dan lumpuh.
  4. Botulisme Usus Dewasa: Gejala botulisme jenis ini hampir serupa dengan botulisme pada bayi. Secara umum, kondisi ini menyebabkan pengidapnya mengalami konstipasi, penurunan nafsu makan, hingga kelelahan terus menerus.
  5. Botulisme Iatrogenic: Gangguan pada otot mata, kesulitan berbicara, lumpuh pada area wajah, serta lidah menjadi lebih tebal dan sulit digerakkan.
  6. Botulisme Inhalasi: Jenis ini menyebabkan pengidapnya mengalami gagal pernapasan.

Diagnosis Botulisme

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara medis seputar makanan yang dikonsumsi pasien dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, dokter juga akan menanyakan apakah pasien memiliki luka atau tidak. Luka ini bisa menjadi jalan masuk bagi bakteri penyebab botulisme.

Untuk mendiagnosis botulisme, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan darah dan feses. Bukan hanya itu saja, dalam beberapa kasus mungkin dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti elektromiografi atau pemeriksaan cairan serebrospinal.

Komplikasi Botulisme

Jika tidak ditangani dengan cepat dan benar, pengidap botulisme dapat berisiko terkena beberapa komplikasi seperti:

  1. Gangguan pernapasan.
  2. Kesulitan berbicara.
  3. Sulit menelan.
  4. Merasa lemah terus-menerus.
  5. Nafas menjadi pendek.
  6. Kematian.

Pengobatan Botulisme

Pengidap botulisme perlu menjalani rawat inap di rumah sakit. Pengobatan ini bertujuan untuk menetralisir racun, sehingga fungsi tubuh bisa kembali normal. 

Perlu diketahui bahwa pengobatan yang dilakukan oleh pengidap botulisme bukan untuk mengatasi kelumpuhan otot dan gangguan pernapasan yang sudah terjadi. Pengobatan dilakukan untuk mencegah gejala semakin memburuk.

Berikut ini beberapa perawatan yang umumnya dilakukan dokter:

  • Pemberian antitoksin. Pada pengidap botulisme keracunan makanan atau botulisme luka, biasanya dokter akan menyuntikkan antitoksin untuk mengurangi risiko komplikasi. Antitoksin dengan kandungan imun globulin botulisme biasanya diberikan untuk mengobati botulisme pada bayi.
  • Pemberian antibiotik. Tindakan ini dilakukan hanya bagi pengidap botulisme luka, sebab antibiotik bisa mempercepat pelepasan racun.
  • Alat bantu pernapasan. Alat ini akan dipasang oleh dokter jika pengidap mengalami kesulitan bernapas.
  • Tujuannya untuk membantu mengatasi kelumpuhan yang bisa sembuh secara bertahap.

Pencegahan Botulisme

Setidaknya ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah botulisme. Contohnya:

  1. Hindari mengonsumsi makanan dengan kemasan yang sudah rusak, makanan diawetkan yang sudah berbau, makanan yang disimpan pada suhu yang tidak sesuai, serta makanan kadaluarsa.
  2. Hindari pemberian madu pada bayi di bawah satu tahun, meski dalam jumlah sedikit.
  3. Jangan menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang.
  4. Lakukan langkah pengobatan yang tepat ketika kamu mengalami luka, khususnya luka terbuka.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala tersebut, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat. Caranya, download aplikasi Halodoc melalui App Store atau Google Play.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Botulism.

Healthline. Diakses pada 2019. Botulism.

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Botulism.

Web MD. Diakses pada 2022. Botulism.

Diperbarui pada 1 Februari 2022.