Botulisme

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Botulisme

Botulisme merukapan masalah kesehatan berupa keracunan yang cukup serius. Keracunan ini disebabkan oleh Clostridium botulinum. Botulisme sendiri merupakan kejadiaan yang terbilang langka. Hal yang perlu digarisbawahi, racun penyebab botulisme merupakan racun yang sangat berbahaya dan mematikan.

Bakteri ini dapat menghasilkan racun yang menyerang sistem saraf. Mulai dari saraf otak, tulang belakang, atau saraf lainnya yang bisa menyebabkan kelumpuhan otot. Kelumpuhan yang terjadi bisa menyerang otot-otot yang mengendalikan pernapasan, ini bisa mematikan dan harus segera mendapatkan penanganan. Bakteri ini biasanya bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan maupun melalui luka pada tubuh.

Jika tidak ditangani dengan cepat dan benar, pengidap botulisme dapat berisiko terkena beberapa komplikasi seperti:

  1. Gangguan pernapasan.

  2. Kesulitan berbicara.

  3. Sulit menelan.

  4. Merasa lemah terus-menerus.

  5. Nafas menjadi pendek.

 

Faktor Risiko Botulisme

Setidaknya ada beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya botulisme, misalnya:

  1. Penyalahgunaan NAPZA, bakteri penyebab botulisme bisa mengontaminasi zat terlarang seperti heroin.

  2. Sering mengonsumsi makanan kalengan rendah asam, apalagi bila tidak dikemas dengan baik.

  3. Sering terpapar tanah, atau memiliki pekerjaan yang kondisi lingkungannya bertanah.

Baca juga: Benarkah Bakteri pada Madu Bisa Sebabkan Botulisme pada Bayi?

 

Penyebab Botulisme

Seperti penjelasan sebelumnya, penyebab botulisme adalah bakteri Clostridium botulinum. Bakteri ini bisa ditemukan di debu, tanah, sungai, atau dasar laut. Sebenarnya bakteri ini tak berbahaya bila berada di kondisi lingkungan yang normal. Namun, bila berada di lingkungan yang kekurangan oksigen, bakteri ini akan melepaskan racunnya. Contohnya, bila berada dalam kaleng tutup botol, tubuh manusia, atau di tanah yang tidak bergerak.

Berdasarkan penyebabnya, ada tiga jenis botulisme:

  • Botulisme keracunan makanan. Botulisme yang muncul akibat konsumsi makanan kalengan rendah asam seperti buncis, jagung dan bit yang menjadi tempat berkembangnya bakteri Clostridium botulinum. Jika seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung racun penyebab botulisme, maka racun tersebut akan mengganggu fungsi saraf, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.

  • Botulisme luka. Jenis ini muncul akibat luka pada pengidap yang terinfeksi bakteri. Bakteri ini nantinya akan berkembang biak, kemudian memproduksi racun yang menyebabkan botulisme.

  • Botulisme bayi. Jenis ini terjadi saat bayi menelan spora Clostridium botulinum, spora ini umumnya terdapat pada tanah atau madu. Spora ini nantinya bisa berkembang biak dan memproduksi racun, tepatnya di saluran pencernaan. Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini umumnya terjadi pada bayi di bawah satu tahun.

 

Gejala Botulisme

Ketika botulisme menyerang seseorang, maka pengidapnya akan mengalami beberapa gejala. Namun, gejalanya bisa berbeda pada tiap pengidapnya. Gejala ini bisa timbul beberapa jam atau hari setelah bakteri masuk ke dalam tubuh. Berikut beberapa gejala berdasarkan penyebab dan jenis botulisme.

  1. Botulisme keracunan makanan: kesulitan menelan dan berbicara, mulut kering, otot wajah lemah, gangguan penglihatan, kelopak mata lemas (terkulai), kesulitan bernapas, mual, muntah, kram perut dan lumpuh.

  2. Botulisme luka: kesulitan menelan dan berbicara, otot wajah lemah, gangguan pengelihatan, kelopak mata lemas (terkulai), kesulitan bernafas, lumpuh.

  3. Botulisme bayi: sembelit, kesulitan mengontrol kepala, gerak tubuh tidak bertonus (tidak ada tegangan otot, seperti boneka kain), menangis lemah, mudah marah, sering mengeluarkan air liur, kelopak mata lemas terkulai, kelelahan, kesulitan untuk menyedot atau makan, lumpuh.

Baca juga: Ibu Harus Tahu, Ini 8 Gejala Botulisme pada Bayi

 

Diagnosis Botulisme

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara medis seputar makanan yang dikonsumsi pasien dalam beberapa hari terkakhir. Selain itu dokter juga akan menanyakan apakah pasien memiliki luka atau tidak. Sebab, luka ini bisa menjadi jalan masuk bagi bakteri penyebab botulisme.

Untuk mendiagnosis botulisme, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan darah dan feses. Bukan hanya itu saja, dalam beberapa kasus mungkin dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti elektromiograf atau pemeriksaan cairan serebrospinal.

 

Komplikasi Botulisme

Botulisme yang tidak segera ditangai bisa menimbulan berbagai komplikasi. Mulai dari masalah pata otot tubuh yang bisa menyebabkan henti napas. Kondisi inilah yang bisa berujung pada kematian.

 

Pengobatan Botulisme

Pengidap botulisme perlu menjalani rawat inap di rumah sakit. Pengobatan ini bertujuan untuk menetralisir racun, sehingga fungsi tubuh bisa kembali normal. Perlu diketahui bahwa pengobatan botulisme tidak akan menyembukan kelumpuhan otot dan pernapasan yang mungkin sudah terjadi, tapi untuk menjaga kondisi agar tidak semakin memburuk. Beberapa minggu atau bulan setelah pengobatan, umumnya kelumpuhan yang muncul sebelum pengobatan akan menghilang dan tubuh kembali normal.

Berikut beberapa perawatan yang umumnya dilakukan dokter:

  • Pemberian antitoksin. Pada pengidap botulisme keracunan makanan atau botulisme luka, biasanya dokter akan menyuntikkan antitoksin untuk mengurangi risiko komplikasi. Antitoksin dengan jenis imun globulin botulisme biasanya diberikan untuk mengobati botulisme bayi.

  • Pemberian antibiotik. Tindakan ini dilakukan hanya bagi pengidap botulisme luka, sebab antibiotik bisa mempercepat pelepasan racun.

  • Alat bantu pernapasan. Alat ini akan dipasang oleh dokter jika pengidap mengalami kesulitan bernapas.

  • Tujuannya untuk membantu mengatasi kelumpuhan yang bisa sembuh secara bertahap.

 

Pencegahan Botulisme

Setidaknya ada beberapa upaya yang bisa kdilakukan untuk mencegah botulisme. Contohnya:

  1. Hindari mengonsumi makanan dengan kemasan yang sudah rusak, makanan diawetkan yang sudah berbau, makanan yang disimpan pada suhu yang tidak sesuai, serta makanan kadaluarsa.

  2. Hindari pemberian madu pada bayi di bawah satu tahun, meski dalam jumlah sedikit.

  3. Jangan menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala tersebut, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Botulism.
Healthline. Diakses pada 2019. Botulism.

Diperbarui pada 2 September 2019