• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • BPD Borderline Personality Disorder

BPD Borderline Personality Disorder

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
borderline-personality-disorder

Pengertian BPD (Borderline Personality Disorder)

Borderline personality disorder (BPD)  atau gangguan kepribadian ambang adalah masalah kesehatan mental yang memengaruhi cara berpikir seseorang mengenai  dirinya sendiri dan orang lain. Akibatnya, pikiran yang mengganggu ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari pengidapnya. Pengidap BPD juga menghadapi masalah citra diri, kesulitan mengelola emosi dan perilaku, dan pola hubungan yang tidak stabil.

Pikiran yang mengganggu ini juga memicu perasaan takut ditolak, cemas, marah, tidak berarti, takut ditinggalkan, atau marah.  Bahkan, mereka juga memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Gangguan kepribadian ambang biasanya dimulai pada awal masa dewasa dan umumnya membaik seiring bertambahnya usia.

Faktor Risiko  BPD (Borderline Personality Disorder)

Ada sejumlah faktor yang memicu perkembangan gangguan kepribadian ambang. Beberapa diantaranya adalah:

  • Diturunkan. Seseorang mungkin lebih berisiko mengalami gangguan kepribadian ambang apabila memiliki ibu, ayah, saudara lelaki atau perempuan yang memiliki kelainan serupa.
  • Trauma masa kecil. Individu yang pernah mengalami pelecehan, kekerasan fisik atau trauma lainnya di masa kecil lebih berisiko mengalami BPD di kemudian hari. 

Penyebab BPD (Borderline Personality Disorder)

Sampai saat ini, belum jelas dan belum pasti apa yang menyebabkan gangguan kepribadian ambang. Namun, kondisi ini diperkirakan dipicu oleh beberapa hal berikut ini:

  • Pelecehan dan trauma. Seseorang yang pernah mengalami pelecehan seksual, emosional atau fisik memiliki risiko BPD yang lebih tinggi. Pengabaian, perlakuan salah atau perpisahan dari orang tua juga meningkatkan risiko gangguan kepribadian ambang.
  • Genetika. Gangguan kepribadian ambang diturunkan dalam keluarga. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga BPD, punya risiko mengembangkan kondisi tersebut.
  • Perubahan otak. Pada orang dengan BPD, bagian otak yang mengontrol emosi dan perilaku tidak berkomunikasi dengan baik. Masalah-masalah ini mempengaruhi cara kerja otak. Selain itu, penurunan fungsi dari zat-zat kimia pada otak, seperti serotonin, juga dikaitkan dengan BPD. Serotonin berfungsi mengendalikan suasana hati (mood).

Gejala BPD (Borderline Personality Disorder)

Gejala gangguan kepribadian ambang biasanya muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Peristiwa yang mengganggu atau pengalaman yang membuat stres dapat memicu gejala atau memperburuknya. Seiring waktu, gejala biasanya berkurang dan mungkin hilang sama sekali.

Beberapa orang mungkin hanya memiliki beberapa gejala, tapi yang lainnya mungkin dapat mengalami gejala yang lebih banyak. Gejala BPD pun kerap kali dianggap sebagai bipolar karena bentuknya yang sangat mirip. Berikut gejala-gejala yang mengindikasikan borderline personality disorder:

  • Perubahan suasana hati secara intens. Individu yang mengidap BPD dapat mengalami perubahan suasana hati secara mendadak terhadap diri sendiri maupun orang lain. Emosinya bisa irasional, seperti kemarahan, ketakutan, kecemasan, kebencian, dan kesedihan yang tidak terkendali. Pengidapnya mungkin bisa sampai marah atau menyerang orang lain dan kesulitan untuk menenangkan dirinya sendiri. 
  • Takut ditinggalkan. Perasaan ini sangat umum dialami oleh pengidap BPD. Mereka bisa tidak nyaman dengan kesendirian dan takut ditolak sampai ditinggalkan oleh orang lain. Dalam kasus yang ekstrem, pengidapnya bisa nekat untuk melacak keberadaan orang yang mereka cintai atau mencegah orang tersebut pergi.
  • Kesulitan mempertahankan hubungan. Sebagian besar pengidap BPD kesulitan untuk mempertahankan hubungannya. Persahabatan, pernikahan, dan hubungan mereka dengan anggota keluarga seringkali kacau dan tidak stabil.
  • Perilaku impulsif dan berbahaya.  Pengidap BPD juga kerap impulsif dan melakukan perilaku-perilaku berbahaya, seperti mengemudi sembrono, berkelahi, berjudi, penyalahgunaan zat, dan aktivitas seksual yang tidak aman. Perilaku ini bisa sulit atau tidak mungkin dikendalikan.
  • Menyakiti diri sendiri. Salah satu perilaku berbahaya lainnya yang bisa dilakukan pengidap BPD adalah menyakiti diri sendiri. Mereka bisa nekat memotong, membakar atau melukai diri sendiri sampai memiliki pikiran untuk bunuh diri. 
  • Depresi. Banyak orang dengan BPD sering merasa sedih, bosan, tidak terpenuhi atau “kosong.” Perasaan tidak berharga dan membenci diri sendiri juga umum terjadi.
  • Paranoia. Orang-orang yang mengidap BPD sering merasa khawatir terhadap pemikiran orang lain. Mereka takut bahwa orang-orang tidak menyukai dirinya atau tidak ingin menghabiskan waktu bersama dirinya. 

Diagnosis BPD (Borderline Personality Disorder) 

Ada beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis BPD. Beberapa diantaranya adalah:

  • Wawancara mendetail.
  • Evaluasi psikologis, seperti mengisi kuesioner.
  • Riwayat medis dan pemeriksaan.
  • Mendiskusikan tanda dan gejala.

Namun, diagnosis gangguan kepribadian ambang biasanya hanya dilakukan pada orang dewasa, bukan pada anak-anak atau remaja. Ini karena, tanda dan gejala BPD dapat hilang seiring bertambahnya usia anak-anak dan menjadi lebih dewasa.

Komplikasi BPD (Borderline Personality Disorder) 

Gangguan kepribadian ambang dapat merusak kehidupan pengidapnya. Kondisi ini dapat berdampak negatif pada hubungan intim, pekerjaan, sekolah, aktivitas sosial, dan citra diri. Jika tak segera ditangani, BPD dapat mengembangkan kondisi berikut:

  • Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan atau penyalahgunaan obat-obatan. 
  • Gangguan kecemasan. 
  • Gangguan pola makan. 
  • Gangguan bipolar. 
  • Gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD). 
  • Attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD) atau penyakit hiperaktif. 
  • Gangguan kepribadian. 
  • Kehilangan hubungan yang baik dengan pasangan, teman sampai keluarga
  • Kehilangan pekerjaan atau sering berganti pekerjaan. 
  • Kehilangan kesempatan dalam menyelesaikan pendidikan. 
  • Terlibat dengan hukum, hingga masuk penjara. 
  • Mengalami cedera fisik akibat kecenderungan menyakiti diri sendiri. 
  • Mengalami kehamilan di luar rencana, memiliki penyakit menular seksual, atau kecelakaan akibat memiliki perilaku yang impulsif dan berisiko. 
  • Melakukan percobaan bunuh diri. 

Pengobatan BPD (Borderline Personality Disorder)

Gangguan kepribadian ambang pada umumnya diobati melalui psikoterapi dan sering kali dikombinasikan dengan obat-obatan. Dokter juga dapat merekomendasikan rawat inap jika keselamatan pengidap BPD terancam, misalnya karena melakukan percobaan bunuh diri. Perawatan dapat membantu pengidap dalam mengelola dan mengatasi kendala yang sering mereka alami. Beberapa jenis terapi yang kerap dilakukan untuk mengatasi BPD diantaranya:

Dialectical Behavior Therapy (DBT)

Terapi ini menggunakan pendekatan berbasis kemampuan dalam mengajari pengidap BPD mengatur emosi, mentoleransi tekanan jiwa, dan memperbaiki hubungan sosial. Terapi DBT bisa dilakukan sendiri atau pula dengan sebuah grup konsultasi dengan seorang terapis. 

1. Mentalization-Based Therapy (MBT)

Terapi ini menitikberatkan metode berpikir sebelum bereaksi. MBT membantu pengidap BPD mengenali perasaan dan pikirannya sendiri dengan menciptakan perspektif alternatif dari situasi yang tengah dihadapi.

2. Schema-Focused Therapy

Terapi ini membantu pengidap BPD mengenali kebutuhan yang tidak terpenuhi pada periode awal hidup yang dapat memicu pola perilaku hidup negatif. Terapi akan memfokuskan kepada usaha pemenuhan kebutuhan tersebut melalui cara yang lebih sehat agar terbangun pola perilaku hidup yang positif. Sama seperti terapi DBT, terapi ini dapat dilakukan secara perorangan maupun di dalam grup konsultasi.

3. Transference-Focused Psychotherapy (TFP) atau Terapi Psikodinamis

Terapi ini membantu pengidap BPD memahami emosi dan kesulitan yang dialaminya dalam mengembangkan hubungan interpersonal. TFP melihat kepada hubungan yang terbangun antara pengidap BPD dengan terapis dalam memahami masalah ini. Selanjutnya, pengetahuan yang didapatkan ini akan diterapkan ke dalam situasi yang dialaminya pada saat ini.

4. General Psychiatric Management

Terapi ini menggunakan manajemen kasus dengan berfokus membuat peristiwa yang memicu tekanan emosional menjadi masuk akal. Pendekatan ini dilakukan dengan mempertimbangkan perasaan sebagai konteks interpersonal dan dapat dipadukan bersama pengobatan, terapi kelompok, penyuluhan pada keluarga, atau bahkan perorangan.

5. Systems Training for Emotional Predictability and Problem-Solving (STEPPS)

Terapi ini merupakan terapi kelompok bersama anggota keluarga, teman, pasangan, atau pengasuh sebagai bagian dari kelompok terapi yang berlangsung selama 20 minggu. Terapi ini juga digunakan sebagai terapi tambahan bersama psikoterapi lainnya.

Pencegahan BPD (Borderline Personality Disorder)

Sejauh ini, tidak ada cara pasti untuk mencegah gangguan kepribadian ambang. Pasalnya, BPD sering diwariskan dalam keluarga. Namun, selalu optimis menjalani kehidupan dan tidak takut menghadapi kegagalan adalah cara agar tidak terjebak dalam masalah kepribadian. Jika kamu mengalami masalah, coba utarakan dengan sahabat terdekat dan tidak memendamnya karena bisa mengakibatkan stres dan tertekan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala BPD di atas, sebaiknya segera tanya dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan menjawab segala pertanyaan kamu. Jangan tunda untuk menghubungi dokter sebelum kondisinya semakin memburuk. Download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
 NIH. National Institute of Mental Health. Diakses pada 2022. Borderline Personality Disorder. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Disease & Conditions. Borderline Personality Disorder.

Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Borderline Personality Disorder (BPD).

Diperbarui pada 31 Januari 2022