Bronkiolitis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Bronkiolitis

Bronkiolitis merupakan infeksi saluran napas yang menyebabkan terjadinya radang dan penyumbatan di dalam bronkiolus atau saluran pernapasan kecil di dalam paru-paru. Kondisi ini umumnya dialami oleh bayi sampai anak-anak usia dua tahun ke bawah.

Baca juga: 7 Alasan Anak-Anak Lebih Rentan Terkena Bronkiolitis

 

Faktor Risiko Bronkiolitis

Terdapat beberapa kondisi yang berpotensi meningkatkan seorang anak mengalami bronkiolitis, antara lain:

  • Lahir dengan kondisi prematur.

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah.

  • Memiliki usia kurang dari tiga bulan.

  • Belum atau tidak pernah mendapatkan ASI. Nyatanya, anak yang mendapatkan ASI akan memiliki imunitas tubuh yang lebih baik dibanding dengan mereka yang tidak.

  • Tinggal di lingkungan yang kumuh dan terlalu padat.

  • Sering melakukan kontak dengan anak-anak lain.

  • Kerap terpapar asap rokok.

  • Memiliki penyakit paru-paru atau jantung bawaan.

 

Penyebab Bronkiolitis

Beberapa jenis virus bisa menyebabkan penyakit ini, termasuk di antaranya adalah virus flu dan pilek. Namun, jenis virus yang paling sering menyebabkan kondisi ini (terutama pada anak-anak yang masih berusia kurang dari dua tahun) adalah respiratory syncytial virus (RSV). Anak-anak biasanya tertular virus ketika berada di dekat pengidap bronkiolitis dan terpapar oleh percikan liur dari batuk atau bersin pengidap bronkiolitis.

Berikut ini beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko seorang anak terkena bronkiolitis, di antaranya:

  • Memiliki kekebalan tubuh yang rendah.

  • Lahir prematur.

  • Berusia kurang dari tiga bulan.

  • Tidak pernah mendapat ASI. Anak yang disusui ASI memiliki imunitas tubuh yang lebih baik dibanding dengan yang tidak.

  • Tinggal di lingkungan padat.

  • Sering melakukan kontak dengan anak-anak lain.

  • Sering terpapar asap rokok.

  • Memiliki penyakit paru-paru atau jantung.

Baca juga: Yang Terjadi pada Tubuh Ketika Terserang Bronkiolitis

 

Gejala Bronkiolitis

Kebanyakan kasus bronkiolitis tergolong ringan. Gejala penyakit ini biasanya akan reda kurang dari tiga minggu tanpa diperlukan pengobatan. Meskipun begitu, ada juga sebagian kecil kasus bronkiolitis yang gejalanya cukup serius. Maka dari itu, orangtua tetap harus mewaspadainya.

 

Diagnosis Bronkiolitis

Untuk memastikan apakah seseorang mengalami penyakit ini, maka dokter bisa melakukan identifikasi dan mengobservasi anak melalui pemeriksaan fisik. Misalnya dengan mendengarkan suara paru-paru melalui setetoskop. Tidak hanya itu, dokter juga dapat menanyakan apakah anak memiliki tanda-tanda dehidrasi, seperti misalnya sering muntah dan menolak makan atau minum. Jika dokter mencurigai anak mengalami bronkiolitis parah, maka dokter akan meminta anak melakukan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • X-ray Area Dada. Pemeriksaan X-ray dada diperlukan untuk melihat tanda-tanda dari pneumonia.

  • Viral Testing. Pemeriksaan ini akan mengambil sampel lendir untuk diuji apakah terdapat virus penyebab bronkiolitis. Caranya adalah dengan memasukkan cotton bud secara perlahan ke dalam hidung.

  • Tes Darah. Pemeriksaan ini juga akan dilakukan untuk memeriksa jumlah sel darah putih pengidapnya. Tes darah ini juga dapat mengetahui apakah kadar oksigen telah menurun pada aliran darah anak.

 

Komplikasi Bronkiolitis

Komplikasi kerap terjadi pada kasus bronkiolitis parah. Beberapa contoh komplikasi ini adalah:

  • Dehidrasi.

  • Gagal pernapasan atau kurangnya kadar oksigen di tubuh.

  • Pengidapnya bisa alami cyanosis yang akan ditandai dengan kulit dan bibir membiru akibat kekurangan oksigen.

  • Apnea atau napas berhenti sesaat.

 

Pengobatan Bronkiolitis

  • Istirahatkan Si Kecil dan berikan ia banyak cairan (termasuk ASI dan susu formula). Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

  • Membuat ruangan kamar Si Kecil nyaman dengan memasang pelembap udara.

  • Mensterilkan ruangan kamar Si Kecil dari polusi udara (terutama asap rokok).

  • Memberikan obat pereda panas yang bisa dibeli bebas di apotek (misalnya ibuprofen dan paracetamol) jika Si Kecil mengalami demam sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter atau pada petunjuk pemakaian yang tertera pada kemasan. Parasetamol dapat diberikan pada Si Kecil setelah berusia lebih dua bulan, dan iburofen dapat diberikan pada Si Kecil di atas umur tiga bulan dengan berat minimal lima kilogram. Jangan berikan aspirin karena obat ini diperuntukkan bagi orang-orang yang berusia 16 tahun ke atas.

  • Memberikan obat tetes saline (larutan mengandung garam) yang bisa dibeli secara bebas di apotek untuk meredakan hidung Si Kecil yang tersumbat.

Jika kasus bronkiolitis yang terjadi adalah parah dengan sesak napas yang mengkhawatirkan, penanganan harus dilakukan di rumah sakit. Selama dirawat di rumah sakit, selain mendapatkan terapi oksigen, Si Kecil juga akan mendapatkan asupan cairan melalui infus.

Baca juga: Bayi Tanpa ASI Berpotensi Terkena Bronkiolitis

 

Pencegahan Bronkiolitis

Untuk meminimalisir risiko bronkiolitis, jauhkan Si Kecil dari orang-orang yang menunjukkan gejala penyakit tersebut atau penyakit saluran napas lainnya. Lalu, jaga kebersihan untuk menghindari penularan virus dan jauhkan si kecil dari paparan rokok.

Jika Si Kecil mengidap bronkiolitis, biarkan ia beristirahat untuk menghindari penularan penyakit ini terhadap orang lain. Rawat Si Kecil di rumah sampai sembuh. Jika Si Kecil berisiko tinggi terkena bronkiolitis (misalnya memiliki kekebalan tubuh yang rendah, berpenyakit paru-paru atau jantung sejak lahir, dan lahir prematur), biasanya dokter akan menyarankan untuk dilakukan penyuntikan zat antibodi tiap bulan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Penyakit ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Jika mengalami tanda dan gejala di atas, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Health A-Z. Bronchiolitis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Bronchiolitis.
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Bronchiolitis?

Diperbarui pada 2 September 2019.