• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera Saraf Tulang Belakang

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera saraf tulang belakang atau spinal cord injury adalah luka atau kerusakan yang terjadi pada saraf tulang belakang atau saraf yang terletak di ujung saluran (kanal) tulang belakang. Kondisi cedera ini bisa menyebabkan dampak permanen pada kekuatan, sensasi, dan fungsi organ tubuh lain.

Saraf tulang belakang memiliki fungsi untuk menjembatani sinyal-sinyal pesan dari otak menuju organ tubuh lainnya. Berdasarkan jenis pesan yang dikirim, terdapat dua kelompok sel saraf, yakni:

  • Kelompok saraf motorik: Merupakan kumpulan sel saraf yang membawa sinyal dari otak untuk mengendalikan gerakan otot.
  • Kelompok saraf sensorik: Merupakan kumpulan sel saraf yang membawa sinyal dari otak untuk mengendalikan posisi anggota gerak, serta sensasi yang berhubungan dengan rasa sakit, dingin, panas, dan tekanan.

Cedera pada saraf tulang belakang dapat memengaruhi fungsi motorik dan sensorik tubuh. Dari rasa sakit, mati rasa, hingga kelumpuhan. Hal ini akan bergantung pada tingkat keparahan dan lokasi cedera. Tingkat keparahan cedera dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Menyeluruh atau Lengkap: Tingkat cedera ini melibatkan hilangnya semua kemampuan yang bersifat inderawi (sensorik) dan kemampuan mengendalikan pergerakan (motorik) area yang dipersarafi tulang belakang yang cedera.
  • Lokal atau Tidak Lengkap: Terjadi bila masih ada beberapa fungsi sensorik atau motorik yang bekerja. Cedera jenis ini memiliki beragam tingkat keparahan tersendiri.

Selain itu, kelumpuhan (paralysis) akibat cedera tulang belakang dapat dikategorikan menjadi:

  • Tetraplegia atau quadriplegia, yang bisa memengaruhi keempat anggota gerak, dada, dan perut.
  • Paraplegia, yang memengaruhi anggota gerak bawah dan organ panggul.

Faktor Risiko Cedera Saraf Tulang Belakang

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko seseorang alami penyakit ini, antara lain:

  • Jenis kelamin karen cedera saraf tulang belakang rentan terjadi pada pria.
  • Usia, karena orang-orang yang berusia 16-30 tahun atau di atas 65 tahun lebih rentan terkena cedera saraf tulang belakang.
  • Berpartisipasi dalam aktivitas yang berisiko tinggi seperti melompat ke dalam air dangkal atau berolahraga tanpa perlengkapan pelindung yang sesuai dapat menyebabkan trauma tulang belakang.
  • Penyakit tulang atau sendi yang lain.

Penyebab Cedera Saraf Tulang Belakang

Penyebab dari cedera saraf tulang belakang adalah kerusakan yang terjadi pada tulang belakang, ligamen, keping (diskus) tulang belakang, atau saraf tulang belakang itu sendiri. Cedera saraf tulang belakang dapat berdampak ada sebagian atau seluruh sel saraf. Misalnya, cedera pada punggung bagian bawah dapat memengaruhi sel saraf dan fungsi organ seperti tungkai, batang tubuh termasuk organ-organ di dalamnya seperti kandung kemih, dan organ seksual.

Kerusakan saraf tulang belakang dapat dipicu oleh penyebab traumatis (primer) atau non traumatik (sekunder) yang dialami oleh tulang belakang. Beberapa contoh penyebabnya antara lain:

  • Kecelakaan Kendaraan Bermotor. Kecelakaan merupakan penyebab yang paling umum dari kondisi ini.
  • Pertambahan Usia. Khususnya yang berusia diatas 65 tahun, memiliki risiko mengalami cedera saraf tulang belakang akibat terjatuh.
  • Olahraga atau Cedera saat Rekreasi. Beberapa kegiatan atletis seperti, menyelam di perairan dangkal, berkuda, ski, papan luncur, dan lain-lain berisiko menyebabkan cedera saraf tulang belakang ketika terjatuh.
  • Tindak Kekerasan. Cedera dapat bermula dari luka tembak dan luka tusuk yang ikut memotong atau melukai saraf tulang belakang.
  • Penyakit Lain. Kondisi ini dapat dipicu oleh cedera non traumatik, seperti dari penyakit kanker, arthritis, peradangan, osteoporosis, kelainan tulang atau sendi, dan infeksi atau penurunan jumlah diskus tulang belakang.
  • Alkohol. Penggunaan alkohol secara berlebihan merupakan salah satu penyebab cedera saraf tulang belakang yang umum.

Gejala Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera saraf tulang belakang dapat memiliki satu atau lebih gejala di bawah ini:

  • Kehilangan kemampuan untuk merasakan sentuhan, panas, dan dingin.
  • Tidak dapat bergerak.
  • Rasa sakit atau seperti tersengat akibat rusaknya serat saraf tulang belakang.
  • Kesulitan batuk, bernapas, juga sulit untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru.
  • Kehilangan kendali terhadap proses tubuh yang berkaitan dengan usus dan kandung kemih, seperti sulit menahan buang air kecil maupun besar.
  • Perubahan yang berhubungan dengan aktivitas seksual, fungsi seksual, dan fertilitas.
  • Mengalami refleks atau kejang yang berlebihan.

Selain itu, kamu juga harus mewaspadai gejala darurat yang muncul pasca kecelakaan sebagai indikasi terdapatnya cedera pada saraf tulang belakang, yaitu:

  • Rasa sakit atau tekanan pada leher, kepala, atau punggung yang parah.
  • Kesemutan atau mati rasa pada jari, tangan, jari kaki, atau kaki.
  • Gangguan pernapasan setelah kecelakaan.
  • Sulit menjaga keseimbangan tubuh ketika berjalan.
  • Bagian tubuh menjadi lemah, tidak terkoordinasi, atau mengalami kelumpuhan. Kondisi ini dapat juga muncul setelah pendarahan atau pembengkakan di sekitar saraf tulang belakang terjadi.
  • Posisi leher atau punggung yang terpelintir ke arah yang tidak normal. Segera hubungi dokter jika orang yang baru saja mengalami kecelakaan pada bagian kepala atau leher menunjukkan gejala cedera saraf tulang belakang seperti yang telah dibahas sebelumnya. Kondisi ini dapat membahayakan karena ada kemungkinan terjadi cedera yang lebih serius.

Diagnosis Cedera Saraf Tulang Belakang

Kondisi ini adalah keadaan darurat medis sehingga penanganan darurat diperlukan setiap kali ada dugaan cedera pada sumsum tulang belakang. Efek dari kondisi ini mungkin tidak jelas pada awalnya sehingga diperlukan evaluasi dan pengujian medis lengkap.

Diagnosis dimulai dengan pemeriksaan fisik dan tes diagnostik. Selama pemeriksaan, petugas kesehatan akan bertanya tentang riwayat kesehatan dan bagaimana cedera itu terjadi. Cedera tulang belakang dapat menyebabkan masalah neurologis berkelanjutan yang memerlukan tindak lanjut medis lebih lanjut. Terkadang, pembedahan diperlukan untuk menstabilkan sumsum tulang belakang setelah kondisi semakin akut.

Tes diagnostik mungkin termasuk:

  • Tes darah.
  • Sinar-X. Tes ini menggunakan sinar energi elektromagnetik tak terlihat untuk menghasilkan gambar jaringan internal, tulang, dan organ ke dalam film.
  • Pemindaian tomografi terkomputasi (juga disebut pemindaian CT atau CAT). Tes pencitraan yang menggunakan sinar-X dan teknologi komputer untuk menghasilkan gambar detail (sering disebut irisan) tubuh. CT scan menunjukkan gambar bagian tubuh mana pun, termasuk tulang, otot, lemak, dan organ. CT scan lebih detail daripada rontgen umum.
  • Pencitraan resonansi magnetik (MRI). Tes ini menggunakan magnet besar, frekuensi radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar detail organ dan struktur di dalam tubuh.

Komplikasi Cedera Saraf Tulang Belakang

Ada beberapa komplikasi yang bisa muncul akibat kondisi ini, antara lain:

  • Terhalangnya kemampuan kulit untuk merasakan tekanan, rasa dingin atau panas akibat kondisi ini sehingga membuat pengidapnya rentan mengalami luka atau nyeri pada area kulit yang mengalami tekanan berlebihan dan terkena panas atau dingin.
  • Sulitnya mengendalikan pembuangan urine dari kandung kemih akibat sel saraf yang bertugas sebagai pembawa pesan telah mengalami cedera. Kondisi ini dapat memicu infeksi saluran kemih, ginjal, dan kencing batu. Proses rehabilitasi akan membantu pengidap untuk belajar bagaimana mengendalikan kandung kemih pasca cedera.
  • Berkurangnya kendali tubuh untuk proses pembuangan air besar. 
  • Naiknya tekanan darah atau sebaliknya, menurun saat bangkit dari posisi duduk, hingga pembengkakan pada tungkai yang dapat memicu penggumpalan darah, seperti penyakit trombosis vena dalam (deep vein thrombosis).
  • Kejang otot atau kekencangan otot yang tidak terkontrol (spastisitas), atau sebaliknya, otot yang lemas akibat berkurangnya kekuatan (flasiditas).
  • Gangguan pernapasan sebagai akibat dari pengaruh cedera saraf tulang belakang pada otot perut dan dada.
  • Penurunan berat badan dan degenerasi otot yang kemudian akan membatasi gerakan tubuh yang kemudian berisiko pada kondisi obesitas, diabetes, dan penyakit yang berhubungan dengan organ jantung (kardiovaskular).
  • Nyeri otot, sendi, atau saraf pada otot akibat terlalu sering digunakan.
  • Gangguan kesehatan seksual, seperti fungsi organ seksual, tingkat kesuburan, dan gairah seksual. 
  • Depresi akibat harus melalui perubahan-perubahan yang dialami oleh tubuh dan rasa sakit akibat kondisi ini.

Pengobatan Cedera Saraf Tulang Belakang

Kondisi ini memerlukan perhatian medis darurat di lokasi kecelakaan atau cedera. Setelah cedera, kepala dan leher akan diimobilisasi untuk mencegah gerakan. Ini mungkin sangat sulit ketika pasien merasa ketakutan setelah kecelakaan serius.

Perawatan khusus untuk cedera tulang belakang akut didasarkan pada:

  • Usia, kesehatan secara keseluruhan, dan riwayat medis.
  • Luasan cedera.
  • Jenis cedera.

Sayangnya, saat ini tidak ada cara untuk memperbaiki sumsum tulang belakang yang rusak atau memar. Namun, para peneliti secara aktif mencari cara untuk merangsang regenerasi sumsum tulang belakang. Tingkat keparahan dan lokasi menentukan apakah cedera saraf tulang belakang ini tergolong ringan, parah, atau fatal.

Pembedahan terkadang diperlukan untuk mengevaluasi sumsum tulang belakang yang cedera, menstabilkan tulang punggung yang retak, melepaskan tekanan dari area yang cedera, dan untuk menangani cedera lain yang mungkin diakibatkan oleh kecelakaan. Perawatan mungkin termasuk:

  • Observasi dan manajemen medis di unit perawatan intensif (ICU).
  • Obat-obatan, seperti kortikosteroid (untuk membantu mengurangi pembengkakan di sumsum tulang belakang).
  • Ventilator mekanis, mesin pernapasan (untuk membantu bernapas).
  • Kateter kandung kemih. Sebuah tabung yang ditempatkan ke dalam kandung kemih yang membantu mengalirkan urin ke dalam kantong penampung.
  • Selang makanan (diletakkan melalui lubang hidung ke perut atau langsung melalui perut ke dalam perut untuk memberikan nutrisi dan kalori ekstra).

Pemulihan dari cedera saraf tulang belakang seringkali membutuhkan rawat inap dan rehabilitasi jangka panjang. Tim penyedia layanan kesehatan interdisipliner, termasuk perawat, terapis (fisik, pekerjaan, atau bicara), dan spesialis lain bekerja untuk mengendalikan rasa sakit pasien dan memantau fungsi jantung, tekanan darah, suhu tubuh, status gizi, fungsi kandung kemih dan usus, dan mencoba untuk mengontrol gemetar otot tak sadar (spastisitas).

Pencegahan Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera saraf tulang belakang dapat terjadi saat seseorang mengalami benturan atau terjatuh. Untuk itu, sangat penting agar berhati-hati dalam setiap tindakan agar terhindar dari kecelakaan.

Jika menemui orang lain yang mengalami kecelakaan, cegah atau kurangi risiko terjadinya cedera saraf tulang belakang pada leher atau punggungnya dengan cara:

  • Segera hubungi paramedis dan jangan memindahkan atau menggerakkan korban sebelum paramedis tiba di lokasi.
  • Letakkan handuk tebal di kedua sisi leher, atau pegang leher dan kepala, dan minta korban untuk tidak bergerak hingga paramedis tiba.
  • Lakukan pertolongan pertama yang diperlukan untuk menghentikan pendarahan tanpa menggerakan leher dan kepala.

Kapan Harus ke Dokter? 

Jika kamu mengalami gejala-gejala seperti yang dibahas sebelumnya, segera bicara dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Kamu juga bisa buat janji temu dengan dokter di rumah sakit menggunakan Halodoc supaya lebih praktis. Tunggu apa lagi, segera download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
American Association of Neurological Surgeons. Diakses pada 2022. Spinal Cord Injury.
Healthline. Diakses pada 2022. What Causes Urinary Incontinence?
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Acute Spinal Cord Injury.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Spinal Cord Injury.
WebMD. Diakses pada 2022. Spinal Cord Injury and Pain

Diperbarui pada 11 Februari 2022.