Cedera Saraf Tulang Belakang

Pengertian Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera saraf tulang belakang atau spinal cord injury merupakan luka atau kerusakan yang terjadi pada saraf tulang belakang atau saraf yang terletak di ujung saluran (kanal) tulang belakang. Kondisi cedera ini bisa menyebabkan dampak premanen pada kekuatan, sensasi, dan fungsi organ tubuh lain.

Saraf tulang belakang berfungsi untuk menjembatani sinyal-sinyal pesan dari otak ke organ tubuh lainnya. Berdasarkan jenis pesan yang dikirim, terdapat dua kelompok sel saraf, yaitu kelompok saraf motorik dan kelompok saraf sensorik. Kelompok saraf motorik adalah sel-sel saraf yang membawa sinyal dari otak untuk mengendalikan gerakan otot. Kelompok saraf sensorik adalah sel-sel saraf yang membawa sinyal dari otak untuk mengendalikan posisi anggota gerak, serta sensasi yang berhubungan dengan rasa sakit, dingin, panas, dan tekanan.

Cedera pada saraf tulang belakang dapat memengaruhi fungsi motorik dan sensorik tubuh. Dari rasa sakit, mati rasa, hingga kelumpuhan. Hal ini bergantung kepada tingkat keparahan dan lokasi cedera. Tingkat keparahan cedera dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Menyeluruh atau lengkap. Tingkat cedera ini melibatkan hilangnya semua kemampuan yang bersifat inderawi (sensorik) dan kemampuan mengendalikan pergerakan (motorik) area yang dipersarafi tulang belakang yang cedera.
  • Lokal atau tidak lengkap. Terjadi bila masih ada beberapa fungsi sensorik atau motorik yang bekerja. Cedera jenis ini memiliki beragam tingkat keparahan tersendiri.

Selain itu, kelumpuhan (paralysis) akibat cedera tulang belakang dapat dikategorikan menjadi:

  • Tetraplegia atau quadriplegi, yang bisa memengaruhi keempat anggota gerak, dada dan perut.
  • Paraplegia, yang memengaruhi anggota gerak bawah dan organ panggul.

Komplikasi Cedera Saraf Tulang Belakang

  • Kemampuan kulit untuk merasakan tekanan, rasa dingin atau panas yang terhalang akibat kondisi ini membuat penderita rentan mengalami luka atau nyeri pada area kulit yang mengalami tekanan berlebihan dan terkena panas atau dingin.
  • Pembuangan urine dari kandung kemih sulit untuk dikendalikan akibat sel saraf yang bertugas sebagai pembawa pesan telah mengalami cedera. Kondisi ini dapat memicu infeksi saluran kemih, ginjal, dan kencing batu. Proses rehabilitasi akan membantu penderita untuk belajar bagaimana mengendalikan kandung kemih pasca cedera.
  • Berkurangnya kendali tubuh untuk proses pembuangan air besar yang turut berubah.
  • Naiknya tekanan darah atau sebaliknya, menurun saat bangkit dari posisi duduk, hingga pembengkakan pada tungkai yang dapat memicu penggumpalan darah, seperti penyakit trombosis vena dalam (deep vein thrombosis).
  • Kejang otot atau kekencangan otot yang tidak terkontrol (spastisitas), atau sebaliknya, otot yang lemas akibat berkurangnya kekuatan (flasiditas).
  • Gangguan pernapasan sebagai akibat dari pengaruh cedera saraf tulang belakang pada otot perut dan dada.
  • Penurunan berat badan dan degenerasi otot dapat membatasi gerakan tubuh yang kemudian berisiko pada kondisi obesitas, diabetes, dan penyakit yang berhubungan dengan organ jantung (kardiovaskular).
  • Nyeri otot, sendi atau saraf pada otot yang terlalu sering digunakan pada penderita cedera saraf tulang belakang tidak lengkap.
  • Kesehatan seksual, seperti fungsi organ seksual, tingkat kesuburan, dan gairah seksual dapat turut terpengaruh akibat kondisi ini.
  • Depresi dapat muncul akibat harus melalui perubahan-perubahan yang dialami oleh tubuh dan rasa sakit akibat kondisi ini.

Gejala Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera saraf tulang belakang dapat memiliki satu atau lebih gejala di bawah ini:

  • Kehilangan kemampuan untuk merasakan sentuhan, panas, dan dingin.
  • Tidak dapat bergerak.
  • Rasa sakit atau seperti tersengat akibat rusaknya serat saraf tulang belakang.
  • Kesulitan batuk, bernapas, juga sulit untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru
  • Kehilangan kendali terhadap proses tubuh yang berkaitan dengan usus dan kandung kemih, seperti sulit menahan buang air kecil maupun besar.
  • Perubahan yang berhubungan dengan aktivitas seksual, fungsi seksual, dan fertilitas.
  • Mengalami refleks atau kejang yang berlebihan.

Waspadai gejala darurat yang muncul paska kecelakaan sebagai indikasi terdapatnya cedera pada saraf tulang belakang, yaitu:

  • Rasa sakit atau tekanan pada leher, kepala, atau punggung yang parah.
  • Kesemutan atau mati rasa pada jari, tangan, jari kaki, atau kaki.
  • Gangguan pernapasan setelah kecelakaan.
  • Sulit menjaga keseimbangan tubuh ketika berjalan.
  • Bagian tubuh menjadi lemah, tidak terkoordinasi, atau mengalami kelumpuhan. Kondisi ini dapat juga muncul setelah pendarahan atau pembengkakan di sekitar saraf tulang belakang terjadi.
  • Posisi leher atau punggung yang terpelintir ke arah yang tidak normal. Segera hubungi dokter jika orang yang baru saja mengalami kecelakaan pada bagian kepala atau leher menunjukkan gejala cedera saraf tulang belakang seperti di atas. Kondisi ini dapat membahayakan karena ada kemungkinan terjadi cedera yang lebih serius.

Penyebab Cedera Saraf Tulang Belakang

Kerusakan yang terjadi pada tulang belakang, ligamen, keping (diskus) tulang belakang atau saraf tulang belakang itu sendiri merupakan penyebab dari cedera saraf tulang belakang. Cedera saraf tulang belakang dapat berdampak ada sebagian atau seluruh sel saraf. Misalnya, cedera pada punggung bagian bawah dapat memengaruhi sel saraf dan fungsi organ seperti tungkai, batang tubuh termasuk organ-organ didalamnya seperti kandung kemih, dan organ seksual. Kerusakan saraf tulang belakang dapat dipicu oleh penyebab traumatis (primer) atau nontraumatis (sekunder) yang dialami oleh tulang belakang. Beberapa contoh penyebabnya antara lain:

  • Kecelakaan kendaraan bermotor. Kecelakaan merupakan penyebab yang paling umum dari kondisi ini.
  • Lansia, khususnya yang berusia diatas 65 tahun, memiliki risiko mengalami cedera saraf tulang belakang akibat terjatuh. Olahraga atau cedera saat rekreasi. Beberapa kegiatan atletis seperti, menyelam di perairan dangkal, berkuda, ski, papan luncur, dan lain-lain berisiko menyebabkan cedera saraf tulang belakang ketika terjatuh.
  • Tindak kekerasan. Cedera dapat bermula dari luka tembak dan luka tusuk yang ikut memotong atau melukai saraf tulang belakang.
  • Penyakit. Kondisi ini dapat dipicu oleh cedera nontraumatis, seperti dari penyakit kanker, arthritis, peradangan, osteoporosis, kelainan tulang atau sendi, dan infeksi atau penurunan jumlah diskus tulang belakang.
  • Alkohol. Penggunaan alkohol secara berlebihan merupakan salah satu penyebab cedera saraf tulang belakang yang umum.

Meski umumnya cedera saraf tulang belakang diakibatkan oleh kecelakaan, namun tetap ada faktor risiko yang menyebabkan cedera saraf tulang belakang, yaitu:

  • Usia. Rentang usia 16-30 tahun adalah usia yang rentan mengalami cedera traumatis pada saraf tulang belakang. Demikian juga lansia yang berusia diatas 65 tahun rentan dengan cedera akibat terjatuh.
  • Jenis kelamin. Cedera saraf tulang belakang lebih umum dialami oleh pria daripada perempuan.
  • Sering melakukan kegiatan yang berisiko jatuh.
  • Memiliki gangguan tulang atau sendi.

Faktor Risiko Cedera Saraf Tulang Belakang

  • Jenis kelamin. Cedera saraf tulang belakang rentan terjadi pada pria.
  • Usia. Orang-orang yang berusia 16-30 tahun atau di atas 65 tahun lebih rentan terkena cedera saraf tulang belakang.
  • Berpartisipasi dalam aktivitas yang berisiko tinggi seperti melompat ke dalam air dangkal atau berolahraga tanpa perlengkapan pelindung yang sesuai dapat menyebabkan trauma tulang belakang.
  • Penyakit tulang atau sendi yang lain.

Diagnosis Cedera Saraf Tulang Belakang

Diagnosis pada cedera saraf tulang belakang biasanya dilakukan dengan dua cara. Yang pertama evaluasi klinis, yaitu pemeriksaan berdasarkan gejala yang dialami dan pemeriksaan fisik (seperti tes kekuatan otot, sensor tubuh yang dirasakan atau tidak dirasakan, dan seterusnya). Dan yang ke dua adalah tes pencitraan, yaitu berupa pemeriksaan MRI atau pencitraan lainnya untuk menilai saraf tulang belakang, tulang belakang, dan otak

Pengobatan Cedera Saraf Tulang Belakang

Jeda waktu cedera dan penanganan cedera saraf tulang belakang dapat mempengaruhi jenis komplikasi dan waktu pemulihan. Hingga saat ini belum ada cara untuk mengembalikan fungsi saraf tulang belakang yang rusak. Dokter biasanya akan memberikan perawatan secara bertahap untuk cedera saraf tulang belakang.

Pemulihan cedera saraf tulang belakang dapat berlangsung cepat dan lama. Pada beberapa kasus, pemulihan dapat terjadi sedikit demi sedikit, dimulai dari satu minggu hingga 6 bulan, bisa juga memakan waktu hingga satu tahun atau lebih lama.

Pencegahan Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera saraf tulang belakang dapat terjadi saat seseorang mengalami benturan atau terjatuh. Untuk itu sangat penting agar berhati-hati dalam setiap tindakan agar terhindar dari kecelakaan.

Jika menemui orang lain yang mengalami kecelakaan, cegah atau kurangi risiko terjadinya cedera saraf tulang belakang pada leher atau punggungnya dengan cara:

  • Segera hubungi paramedis dan jangan memindahkan atau menggerakkan korban sebelum paramedis tiba di lokasi.
  • Letakkan handuk tebal di kedua sisi leher, atau pegang leher dan kepala, dan minta korban untuk tidak bergerak hingga paramedis tiba.
  • Lakukan pertolongan pertama yang diperlukan untuk menghentikan pendarahan tanpa menggerakan leher dan kepala.

Kapan Harus ke Dokter? 

Hubungi dokter untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas.