Delirium

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Delirium

Delirium adalah kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif. Pengidap mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

 

Faktor Risiko Delirium

Beberapa faktor risiko yang memicu delirium, antara lain:

  • Memiliki kelainan pada otak.

  • Berusia lanjut atau di atas usia 65 tahun.

  • Memiliki riwayat mengidap delirium sebelumnya.

  • Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran.

  • Mengidap kombinasi beberapa penyakit.

 

Penyebab Delirium

Beberapa penyebab delirium, antara lain:

  • Konsumsi obat-obatan tertentu atau keracunan obat, seperti obat pereda nyeri, obat tidur, anti-alergi (antihistamin), obat asma, kortikosteroid, obat untuk kejang, obat penyakit Parkinson, serta obat untuk gangguan mood.

  • Kecanduan alkohol dan gejala putus alkohol.

  • Keracunan, misalnya sianida atau karbon monoksida.

  • Operasi atau prosedur medis lainnya yang melibatkan pembiusan.

  • Penyakit kronis atau berat, seperti gagal ginjal.

  • Malnutrisi.

  • Dehidrasi.

  • Gangguan tidur atau gangguan emosi.

  • Gangguan elektrolit, seperti hiponatremia.

  • Demam akibat infeksi akut, khususnya pada anak.

  • Infeksi pada organ yang menyebar ke seluruh tubuh.

  • Kadar gula dalam darah yang rendah (hipoglikemia).

  • Penyakit cerebrovaskular, seperti stroke.

  • Perubahan lingkungan atau perpindahan ruangan.

Baca juga: Begini Cara Mengatasi Delirium yang Sebabkan Mental Terganggu

 

Gejala Delirium

Gejala delirium sering kali tidak khas. Pengidap akan menunjukkan gejala perubahan kondisi mental dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Beberapa gejala tersebut, antara lain:

  • Penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya, seperti mudah teralihkan oleh hal yang tidak penting, sulit fokus pada sautu topik pembicaraan, dan sering melamun.

  • Kemampuan berpikir yang buruk (gangguan kognitif), seperti buruknya daya ingat terutama untuk jangka pendek, disorientasi, kesulitan berbicara atau mengingat kata-kata, bicara bertele-tele, serta kesulitan dalam memahami pembicaraan, membaca, dan menulis.

  • Gangguan emosional, seperti gelisah, takut atau paranoid, depresi, mudah tersinggung, apatis, perubahan mood mendadak, dan perubahan kepribadian.

  • Terjadi perubahan perilaku, seperti gelisah dan menjadi lebih agresif, senang berhalusinasi, menjadi penutup atau pendiam, pergerakan menjadi lambat serta terganggunya kebiasaan tidur.

Delirium dibagi menjadi beberapa jenis tergantung pada  gejala yang ditunjukkan pengidap, yaitu:

  • Delirium hiperaktif. Pengidap akan terlihat gelisah, sering kali mengalami perubahan mood, atau berhalusinasi.

  • Delirium hipoaktif. Pengidap akan terlihat tidak aktif atau mengurangi aktivitas gerak, lesu, mengantuk, atau tampak linglung.

  • Delirium campuran. Pengidap sering menunjukkan perubahan gejala dari delirium hiperaktif ke delirium hipoaktif atau sebaliknya.

 

Diagnosis Delirium

Dokter akan mendiagnosis penyebab delirium dengan melakukan wawancara medis dengan keluarga pengidap yang memahami perjalanan gejala yang dialami pengidap, melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis, memeriksakan kondisi kejiwaan, serta melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan urine atau darah untuk menilai fungsi hati, kadar alkohol tiroid, paparan zat NAPZA, atau alkohol.

  • CT scan, MRI, atau elektroensefalogram (EEG) untuk menilai kondisi otak.

  • Rontgen dada untuk melihat adanya infeksi pada paru.

  • Analisis cairan serebrospinal, untuk mengetahui adanya infeksi otak.

Baca juga: Inilah 7 Jenis Delirium yang Perlu Diketahui

 

Pengobatan Delirium

Untuk mengatasi delirium, beberapa langkah yang dapat ditempuh, antara lain:

  • Menjaga pengidap agar tidak mengalami kecelakaan selama perawatan karena kesadarannya yang menurun.

  • Menangani penyebab dari delirium, seperti penurunan kadar gula darah dan infeksi.

  • Mencegah komplikasi yang dapat timbul selanjutnya, seperti gangguan buang air besar, buang air kecil, atau imobilisasi.

 

Pencegahan Delirium

Pencegahan delirium dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • Perhatikan kondisi kesehatan seseorang, terutama orang lanjut usia dan anak-anak.

  • Hindari penggunaan obat yang berpotensi meningkatkan risiko delirium, seperti ranitidin, ciprofloxacin, digoksin, kodein, amitriptilin (antidepresan) atau benzodiazepine.

  • Hindari konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.

  • Rutin kontrol ke dokter jika memiliki riwayat penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, atau gagal ginjal.

  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang serta cukupi kebutuhan cairan tubuh.

  • Miliki pola hidup sehat dengan rutin berolahraga serta istirahat yang cukup.

  • Atasi infeksi dengan segera mencari pertolongan dokter.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas. Penanganan sejak dini dapat menghindarkan dari risiko-risiko yang lebih buruk. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan.

Referensi:
Harvard Health. Diakses pada 2019. Recognizing and managing delirium
Diperbaruit pada 26 Agustus 2019