• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Delirium

Delirium

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
delirium

Pengertian Delirium

Delirium adalah kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif. Pengidap mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Kondisi mental ini dapat memburuk atau terjadi secara tiba-tiba selama satu hingga dua hari. 

Orang yang alami kondisi ini dapat merasa bingung, atau bahkan lebih dari biasanya. Jika pengidap masalah ini tidak segera mendapatkan penanganan, orang-orang di sekitarnya bisa merasa kesusahan, terutama saat penyebabnya tidak diketahui. 

 

Faktor Risiko Delirium

Perlu diketahui jika setiap kondisi yang membutuhkan perawatan intensif atau setelah operasi, risiko untuk alami delirium dapat meningkat. Faktanya, masalah ini lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua.

Nah, berikut adalah beberapa faktor risiko yang memicu delirium:

  • Memiliki kelainan pada otak, seperti demensia, stroke, atau penyakit Parkinson.
  • Berusia lanjut atau di atas usia 65 tahun.
  • Memiliki riwayat mengidap delirium sebelumnya.
  • Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran.
  • Mengidap kombinasi beberapa penyakit.

Penyebab Delirium

Delirium terjadi ketika pengiriman dan penerimaan sinyal di otak terganggu. Gangguan ini kemungkinan besar disebabkan oleh kombinasi faktor yang dapat membuat otak rentan alami masalah ini serta pemicu terjadinya kerusakan pada aktivitas otak.

Delirium juga mungkin memiliki penyebab tunggal atau bahkan lebih, seperti kombinasi dari kondisi medis tertentu. Bahkan, terkadang ada saja penyebab yang dapat diidentifikasi.

Beberapa penyebab delirium antara lain:

  • Konsumsi obat-obatan tertentu atau keracunan obat, seperti obat pereda nyeri, obat tidur, anti-alergi (antihistamin), obat asma, kortikosteroid, obat untuk kejang, obat penyakit Parkinson, serta obat untuk gangguan mood.
  • Kecanduan alkohol dan gejala putus alkohol.
  • Keracunan, misalnya sianida atau karbon monoksida.
  • Operasi atau prosedur medis lainnya yang melibatkan pembiusan.
  • Penyakit kronis atau berat, seperti gagal ginjal.
  • Malnutrisi.
  • Dehidrasi.
  • Gangguan tidur atau gangguan emosi.
  • Gangguan elektrolit, seperti hiponatremia.
  • Demam akibat infeksi akut, khususnya pada anak.
  • Infeksi pada organ yang menyebar ke seluruh tubuh.
  • Kadar gula dalam darah yang rendah (hipoglikemia).
  • Penyakit cerebrovascular, seperti stroke.
  • Perubahan lingkungan atau perpindahan ruangan.

 

Gejala Delirium

Gejala delirium sering kali tidak khas. Pengidap akan menunjukkan gejala perubahan kondisi mental dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Beberapa gejala tersebut, antara lain:

  • Penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya, seperti mudah teralihkan oleh hal yang tidak penting, sulit fokus pada suatu topik pembicaraan, dan sering melamun.
  • Kemampuan berpikir yang buruk (gangguan kognitif), seperti buruknya daya ingat terutama untuk jangka pendek, disorientasi, kesulitan berbicara atau mengingat kata-kata, bicara bertele-tele, serta kesulitan dalam memahami pembicaraan, membaca, dan menulis.
  • Gangguan emosional, seperti gelisah, takut atau paranoid, depresi, mudah tersinggung, apatis, perubahan mood mendadak, dan perubahan kepribadian.
  • Terjadi perubahan perilaku, seperti gelisah dan menjadi lebih agresif, senang berhalusinasi, menjadi penutup atau pendiam, pergerakan menjadi lambat serta terganggunya kebiasaan tidur.

Delirium dibagi menjadi beberapa jenis tergantung pada gejala yang ditunjukkan pengidap, yaitu:

  • Delirium hiperaktif. Pengidap terlihat gelisah, sering kali mengalami perubahan mood, atau berhalusinasi.
  • Delirium hipoaktif. Pengidap terlihat tidak aktif atau mengurangi aktivitas gerak, lesu, mengantuk, atau tampak linglung.
  • Delirium campuran. Pengidap sering menunjukkan perubahan gejala dari delirium hiperaktif ke delirium hipoaktif atau sebaliknya.

 

Diagnosis Delirium

Dokter akan mendiagnosis penyebab delirium dengan melakukan wawancara medis dengan keluarga pengidap yang memahami perjalanan gejala yang dialami pengidap, melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis, serta memeriksakan kondisi kejiwaan. Dokter juga mungkin melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan urine atau darah untuk menilai fungsi hati, kadar alkohol tiroid, paparan zat NAPZA, atau alkohol.
  • CT scan, MRI, atau elektroensefalogram (EEG) untuk menilai kondisi otak.
  • Rontgen dada untuk melihat adanya infeksi pada paru.
  • Analisis cairan serebrospinal, untuk mengetahui adanya infeksi otak.

 

Pengobatan Delirium

Delirium diobati terlebih dahulu dengan mengatasi penyebabnya. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki oksigen atau kadar gula rendah perlu diatasi agar delirium tidak terjadi. Jika masalah ini disebabkan oleh infeksi, antibiotik akan diberikan. Dokter akan memastikan semua hal yang menjadi penyebabnya diatasi dengan benar.

Delirium biasanya akan membaik jika penyebabnya ditemukan dan mendapatkan pengobatan yang tepat. Selain itu, lingkungan yang mendukung juga diperlukan agar pengidapnya lebih cepat untuk pulih. Berbagai langkah yang bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat agar masalah ini bisa sembuh, antara lain:

  • Menjaga pengidap agar tidak mengalami kecelakaan selama perawatan karena kesadarannya yang menurun.
  • Mencegah komplikasi yang dapat timbul selanjutnya, seperti gangguan buang air besar, buang air kecil, atau imobilisasi.
  • Berbicara dengan tenang dengan kalimat yang jelas di tiap percakapan.
  • Mendukung dengan cara memperlihatkan benda-benda yang dikenalnya dari rumah, seperti foto.
  • Memastikan semua alat bersih dan berfungsi dengan benar.
  • Membantu untuk mengembangkan rutinitas tidur yang baik.
  • Mendukung pengidap delirium untuk tetap aktif.

 

Pencegahan Delirium

Pendekatan yang paling berhasil untuk mencegah delirium adalah dengan mengatasi berbagai faktor risiko yang dapat menjadi pemicunya. Salah satunya adalah lingkungan rumah sakit jika pengidapnya harus dirawat di rumah sakit. Ada beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mencegah delirium terjadi, yaitu:

  • Perhatikan kondisi kesehatan seseorang, terutama orang lanjut usia dan anak-anak.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Rutin kontrol ke dokter jika memiliki riwayat penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, atau gagal ginjal.
  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang serta cukupi kebutuhan cairan tubuh.
  • Miliki pola hidup sehat dengan rutin berolahraga serta istirahat yang cukup.
  • Atasi infeksi dengan segera mencari pertolongan dokter.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala-gejala tersebut. Penanganan sejak dini dapat menghindarkan dari risiko-risiko yang lebih buruk. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc.

Dengan aplikasi Halodoc, segala kebutuhan yang berhubungan dengan kesehatan bisa didapatkan hanya dengan penggunaan smartphone. Maka dari itu, unduh aplikasinya sekarang juga!

Referensi:
Harvard Health. Diakses pada 2022. Recognizing and managing delirium.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Delirium.
Alzheimer’s Society. Diakses pada 2022. Delirium.

Diperbarui pada 4 Maret 2022