• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Dermatitis Atopik

Dermatitis Atopik

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Dermatitis Atopik

Pengertian Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik merupakan salah satu jenis dermatitis (eksim) yang terjadi akibat adanya peradangan pada kulit. Kondisi ini bisa disertai dengan kulit yang memerah, kering, dan pecah-pecah. Peradangan biasanya berlangsung lama, bahkan hingga bertahun-tahun.

 

Faktor Risiko

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena dermatitis atopik, yaitu:

  • Riwayat pribadi atau keluarga terhadap eksim, alergi, hay fever, atau asma.
  • Mengalami dermatitis kontak yang biasanya dialami oleh pekerja medis.
  • Berjenis kelamin perempuan.

Sementara itu, faktor-faktor yang meningkatkan risiko pada anak-anak meliputi:

  • Tinggal di area perkotaan.
  • Sering dititipkan di tempat penitipan anak.
  • Memiliki gangguan hiperaktif (ADHD).

Penyebab Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik terjadi akibat interaksi multifaktorial, yaitu faktor genetik (keturunan), lingkungan, gangguan fungsi sawar (pelindung) kulit, faktor imunologi, dan infeksi.

 

Gejala Dermatitis Atopik

Setiap pengidap dapat merasakan gejala yang berbeda. Pada balita, gejala dermatitis atopik berupa kulit bersisik, memerah, dan berkerak di area pipi, kulit kepala, tangan, dan kaki. Sedangkan pada anak-anak dan orang dewasa, gejala eksim atopik yang sering muncul adalah ruam merah dan terasa sangat gatal di area belakang leher, lutut, dan siku.

Selain gejala tersebut, pengidap juga dapat merasakan gejala lain, seperti:

  • Ruam yang menonjol dan mengeluarkan cairan.
  • Kulit kering dan bersisik.
  • Kulit di telapak tangan atau area bawah mata mengkerut atau kusut.
  • Kulit di sekitar mata lebih gelap.
  • Kulit pecah-pecah, terkelupas, hingga mengeluarkan darah.

Rasa gatal yang muncul lebih buruk saat malam hari dan jika digaruk, kulit akan menjadi lebih tebal, timbul bopeng atau berlubang, dan menggelap. Terus-menerus menggaruk area kulit yang bermasalah pun dapat memicu infeksi.

 

Diagnosis Dermatitis Atopik

Proses diagnosis pada dermatitis atopik dapat dilakukan dokter lewat pengumpulan informasi. Dokter akan menanyakan beberapa hal, seperti riwayat medis dan kebiasaan menggaruk (pruritus).

 

Komplikasi Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik bisa menyebabkan beberapa komplikasi, di antaranya adalah: 

  • Asma dan Demam

Lebih dari separuh anak kecil dengan dermatitis atopik mengalami asma dan demam pada usia 13 tahun.

  • Gatal Kronis dan Kulit Bersisik

Kondisi kulit yang disebut neurodermatitis (lichen simplex chronicus) dimulai dengan bercak kulit yang gatal. Ketika menggaruk area tersebut hanya akan membuatnya semakin gatal. Kondisi ini dapat menyebabkan kulit yang terkena menjadi berubah warna, tebal dan kasar.

  • Infeksi Kulit

Goresan berulang yang merusak kulit dapat menyebabkan luka terbuka dan retak. Ini meningkatkan risiko infeksi dari bakteri dan virus, termasuk virus herpes simpleks.

  • Dermatitis Tangan Iritan

Terutama memengaruhi orang-orang yang pekerjaannya mengharuskan tangan mereka sering basah dan terkena sabun, deterjen, dan desinfektan yang keras.

  • Dermatitis Kontak Alergi

Kondisi ini umum terjadi pada orang dengan dermatitis atopik.

  • Masalah Tidur

Siklus gatal-garuk dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk.

Pengobatan Dermatitis Atopik

Pengobatan dermatitis atopik dilakukan untuk mengurangi tanda dan gejala penyakit serta mencegah kekambuhan di kemudian hari. Bagaimana perawatan kulit pada dermatitis atopik?

Perawatan saat Mandi

  • Mandi 1–2x sehari dengan menggunakan air hangat kuku (suhu 36–37 derajat Celcius).
  • Lama mandi kira-kira 10–15 menit.
  • Menggunakan sabun yang mengandung pelembab, pH 5,5–6, tidak mengandung pewarna dan pewangi.
  • Mencegah bahan iritan saat mandi, seperti sabun antiseptik

Perawatan setelah Mandi

  • Setelah mandi (dalam waktu 3 menit setelah mandi), segera oleskan pelembap keseluruh kulit kecuali kulit kepala.
  • Cara aplikasi: menggunakan tangan dan dioleskan tipis di seluruh permukaan kulit kecuali kulit kepala. Apabila kulit terkena air atau bahan lain dalam waktu kurang dari 5 menit setelah pengolesan, prosedur diulang kembali.

Perawatan Kulit Lainnya

  • Memakai pakaian yang ringan, lembut, halus, dan menyerap keringat
  • Mencegah bahan iritan, seperti deterjen, sabun cair pencuci piring, dan desinfektan saat mencuci pakaian bayi.
  • Menghindari faktor pencetus alergen, seperti tungau debu rumah, binatang peliharaan, dan serbuk bunga.
  • Menjaga suhu ruangan tempat bayi berada agar tidak ekstrem, misalnya terlau panas atau terlalu dingin.

Pencegahan Dermatitis Atopik

Lakukan beberapa hal ini untuk mencegah dermatitis atopik kambuh. Salah satu yang utama adalah dengan menghindari faktor pencetus. Jika pencetus alergi adalah debu, maka hindari debu. Jika pencetusnya berupa susu, hindari semua makanan dan minuman yang mengandung susu. Melakukan beberapa hal berikut juga dapat membantu:

  • Bersihkan secara berkala perlengkapan tidur. Ganti seprai dan sarung bantal guling minimal 2 minggu sekali.
  • Gunakan selimut saat tidur, khususnya jika tidak tahan dengan udara dingin.
  • Bersihkan rumah secara rutin.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Keluarga atau kerabat harus segera periksa ke dokter jika mengalami gejala-gejala berikut:

  • Sulit tidur karena rasa gatal memburuk di malam hari.
  • Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.
  • Kulit terasa sakit.
  • Kulit terlihat terinfeksi misalnya dengan muncul garis-garis merah, nanah, dan keropeng.
  • Perawatan rumahan yang sudah dilakukan tidak membantu meringankan gejala.
  • Mata atau pandangan terganggu.

Informasi selengkapnya mengenai dermatitis atopik bisa kamu dapatkan lewat aplikasi Halodoc. Lewat Halodoc, kamu juga bisa mengecek kebutuhan obat dan vitamin. Tanpa perlu antre, pesanan akan diantar dalam waktu kurang dari satu jam. Praktis kan?

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Atopic Dermatitis (Eczema).
WebMD. Diakses pada 2022. Eczema (Atopic Dermatitis).