• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Dermatitis Herpetiformis

Dermatitis Herpetiformis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Dermatitis Herpetiformis

Pengertian Dermatitis Herpetiformis

Dermatitis herpetiformis umum dikenal dengan sebutan penyakit Duhring, penyakit Celiac atau ruam gluten. Penyakit kulit kronis ini memicu munculnya benjolan, lecet, dan gatal. Penyebab utamanya adalah kepekaan terhadap gluten. Gluten ditemukan dalam makanan, seperti gandum, rye dan barley.

Dari mereka yang didiagnosis dengan penyakit Celiac, 10-25 persen pengidap juga mengalami dermatitis herpetiformis, tetapi tidak memiliki gejala pencernaan yang menyertai penyakit Celiac. Namun, hampir semua pasien dengan dermatitis herpetiformis memiliki penyakit Celiac. 

Dermatitis herpetiformis terkadang juga disebut sebagai manifestasi kulit dari penyakit Celiac. Pasalnya, sejumlah gejala pengidap dermatitis herpetiformis yang dialami, seperti diare, kelelahan, penurunan berat badan, dan ketidaknyamanan pada perut adalah gejala penyakit Celiac.

Gejala Dermatitis Herpetiformis

Penyakit autoimun ini dapat menyebabkan gangguan pada kulit, mulut, dan gastrointestinal yang berhubungan dengan sensitivitas gluten. Berikut ini beberapa gejala yang dialami oleh pengidap:

  • Gangguan pada Kulit

Gangguan pada kulit yang muncul seperti rasa gatal berlebihan dan lesi kulit berwarna merah yang muncul berkelompok. Lesi umumnya muncul pada area siku, lutut, bokong, dan kulit kepala pengidap. Lesi jarang muncul di area wajah dan selangkangan.

  • Gangguan pada Mulut 

Gangguan pada mulut ditandai dengan cacat email gigi. Terkadang ditemukan lekukan horizontal, lubang, atau perubahan warna. Pengidap jarang mengembangkan ulserasi mulut atau sariawan.

  • Gangguan pada Gastrointestinal

Gangguan pada gastrointestinal ditandai dengan peradangan dan kerusakan pada usus kecil. Selain itu, gangguan pada pencernaan lainnya dapat ditandai dengan perut kembung, kram, nyeri, diare, atau konstipasi.

Penyebab Dermatitis Herpetiformis

Pasien dengan dermatitis herpetiformis memiliki reaksi autoimun ketika mereka mengonsumsi gluten. Sistem kekebalan diproduksi ketika gluten dicerna. Antibodi (IgA) yang diproduksi kemudian disimpan dalam kulit. Hal tersebut yang memicu gatal, benjolan merah, dan lecet pada pengidap.

Selain itu, genetika juga berperan dalam memicu munculnya sejumlah gejala. Sebanyak 5 persen pengidap berasal dari riwayat keluarga dengan kondisi yang sama. Gen yang terkait erat dengan dermatitis herpetiformis adalah HLA-DQ2 dan HLA-DQ8.

Meskipun dokter masih belum sepenuhnya memahami penyebab dermatitis herpetiformis, faktor genetika dan gaya hidup cenderung berperan. Gejala penyakit akan berkurang secara signifikan pada seseorang yang menghindari gluten dalam menu makanannya.

Gluten sendiri merupakan protein dalam biji-bijian yang termasuk gandum dan gandum hitam. Contoh makanan yang mengandung gluten, meliputi:

  • Roti.
  • Kue kering.
  • Mie.
  • Semacam spageti.
  • Sereal.
  • Makanan yang dipanggang.

Faktor Risiko 

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi kulit ini. Namun, penyakit ini cenderung terjadi pada orang-orang dengan:

  • Memiliki anggota keluarga mengidap penyakit Celiac atau dermatitis herpes.
  • Mengidap diabetes tipe 1.
  • Mengidap sindrom down atau sindrom turner.
  • Mengidap penyakit kelenjar tiroid.
  • Mengidap sindrom sjogren.
  • Mengidap kolitis.

Diagnosis 

Setelah melakukan pemeriksaan benjolan dan lepuh, dokter mungkin akan melakukan biopsi kulit dan tes darah untuk memastikan diagnosis. Tes akan membantu menentukan apakah pengidap mengalami dermatitis herpetiformis atau kelainan kulit yang berbeda. Berikut ini prosedur yang dilakukan:

  • Biopsi kulit. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil satu atau dua sampel kulit untuk memeriksa adanya penyakit.
  • Tes darah. Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa adanya dua antibodi yang biasa ditemukan pada penderita penyakit Celiac, yaitu anti-endomysial dan anti-jaringan transglutaminase.

Pengobatan 

Pengobatan yang dilakukan hanya sebatas untuk membantu mengatasi gejala berupa ruam kulit dan gatal-gatal. Obat akan dikonsumsi pengidap dalam waktu 1-3 hari. Untuk menunjang kesembuhan, dokter akan merekomendasikan krim kortikosteroid topikal untuk membantu mengatasi rasa gatal.

Jika tes menunjukkan bahwa kamu mengidap penyakit Celiac, dokter akan menyarankan kamu untuk berhenti total mengonsumsi sejumlah makanan yang mengandung gluten. Kamu juga disarankan untuk berhenti mengonsumsi garam, karena dapat memperparah gejala.

Pencegahan Dermatitis Herpetiformis

Sejauh ini, tidak ada cara khusus untuk mencegah penyakit. Namun, perubahan gaya hidup seperti diet gluten dapat mengurangi potensi munculnya kembali infeksi kulit atau gangguan gastrointestinal di kemudian hari. Jika tidak mengidap penyakit Celiac, kamu tidak perlu menghindari gluten.

Sebaliknya, kamu harus menghindari semua makanan yang mengandung gluten jika mengidap penyakit Celiac. Hal tersebut menjadi salah satu cara efektif dalam membantu mengelola penyakit Celiac dan dermatitis herpetiformis yang kamu alami.

Kapan Harus ke Dokter?

Disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami sejumlah gejala yang disebutkan. Selain menghindari gluten, kamu disarankan untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat untuk menghindari penyakit. 

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi suplemen penunjang kesehatan yang dibutuhkan tubuh. Download Halodoc segera dan cek kebutuhan suplemen di Toko Kesehatan pada aplikasi tersebut, ya! 

Referensi:

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2022. Dermatitis Herpetiformis.

WebMD. Diakses pada 2022. Dermatitis Herpetiformis.

Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Dermatitis Herpetiformis.

Rare Disease. Diakses pada 2022. Dermatitis Herpetiformis.