• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Dermatitis Seboroik

Dermatitis Seboroik

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Dermatitis Seboroik

Pengertian Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik, atau yang juga umum disebut sebagai psoriasis seboroik atau eksim seboroik atau cradle cap pada bayi, adalah penyakit kulit yang umumnya mengenai kulit kepala dan area tubuh yang berminyak, seperti punggung, wajah, dahi, ketiak, pangkal paha, serta dada bagian atas. Pada kulit kepala, penyakit ini menyebabkan kulit berwarna merah, berketombe, dan bersisik.

 

Gejala Dermatitis Seboroik

Beberapa gejala dermatitis seboroik, antara lain:

  • Kulit terasa gatal atau seperti terbakar.
  • Kulit kepala berwarna merah dan berketombe.
  • Kelupasan kulit atau ketombe yang terjadi di kumis, jenggot, atau alis.
  • Kelopak mata berkerak atau berwarna kemerahan (blefaritis).
  • Kulit bersisik berwarna putih atau kuning, yang terjadi di area kulit yang berminyak selain kulit kepala, seperti wajah, ketiak, telinga, dan dada.

 

Penyebab Dermatitis Seboroik

Hingga saat ini, penyebab pasti dermatitis seboroik masih belum diketahui. Namun, penyakit ini diduga berkaitan dengan jamur Malassezia furfur dan peradangan yang terkait dengan psoriasis.

 

Faktor Risiko Dermatitis Seboroik

Beberapa faktor risiko yang dimiliki seseorang sehingga lebih mudah menderita dermatitis seboroik, antara lain:

  • Jenis kulit berminyak.
  • Bayi baru lahir.
  • Orang dewasa, terutama wanita, berusia 30-60 tahun.
  • Gagal jantung.
  • Obat-obatan tertentu.
  • Penyakit kejiwaan dan gangguan saraf, seperti depresi dan penyakit Parkinson.
  • Kebiasaan menggaruk kulit wajah.
  • Penyakit yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS, kanker, penerima transplantasi organ tubuh, dan pankreatitis alkoholik.
  • Penyakit endokrin yang dapat menyebabkan obesitas, seperti diabetes.
  • Cuaca dingin dan kering.
  • Stres.
  • Faktor genetik.

 

Diagnosis Dermatitis Seboroik

Dokter akan mendiagnosis dermatitis seboroik dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti biopsi atau pemeriksaan kelupasan sel kulit untuk memastikan dermatitis seboroik.

 

Pengobatan Dermatitis Seboroik

Beberapa hal yang dianjurkan dokter untuk mengatasi dermatitis seboroik, antara lain:

  • Mengoleskan kulit dengan krim khusus sebanyak 1-2 kali dalam sehari yang berfungsi untuk melawan bakteri .
  • Menggunakan sampo antijamur sebanyak 2-3 kali seminggu.
  • Losion atau krim  yang menekan sistem kekebalan tubuh.
  • Terapi sinar.
  • Kepala bayi dengan cradle cap dapat dibersihkan setiap hari menggunakan sampo bayi, setelah itu bersihkan sisa-sisa kelupasan kulit menggunakan sikat halus.

 

Pencegahan Dermatitis Seboroik

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dermatitis seboroik, antara lain:

  • Hindari rangsangan gesekan, terutama ketika menggunakan sabun dan handuk.
  • Hindari menggunakan sabun yang beraroma menyengat karena diduga mengandung alkohol.
  • Gunakan jenis sabun yang memiliki kadar minyak tinggi.
  • Batasi makanan yang dapat memicu rasa gatal, seperti makanan yang kaya protein.
  • Mandi dengan air hangat dengan suhu yang cenderung ke dingin.
  • Hindari menggosok kulit menggunakan alkohol.
  • Hindari kontak atau sentuhan langsung dengan benda atau objek yang dapat menyebabkan alergi.
  • Gunakan krim pelembap sesering mungkin.
  • Atasi gatal dengan menghindari garukan untuk menghindari eksema dan infeksi sekunder.

Pada anak-anak, dapat dilakukan:

  • Alihkan perhatian anak ketika hendak menggaruk
  • Hindari kondisi yang terlalu hangat atau panas.
  • Kenakan sarung tangan pada anak ketika tidur.
  • Jaga kuku anak dalam kondisi selalu pendek.

 

Kapan Harus ke Dokter?
Segera hubungi dokter jika mengalami tanda dan gejala di atas untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat.
Agar lebih mudah, kamu bisa langsung melakukan pemeriksaan di rumah sakit tanpa harus antri.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019.  Seborrheic Dermatitis Diseases and Conditions. 

Diperbarui pada 26 November 2019