• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Dermatitis Seboroik

Dermatitis Seboroik

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Dermatitis Seboroik

Pengertian Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit yang umumnya mengenai kulit kepala dan area tubuh yang berminyak, seperti punggung, wajah, dahi, ketiak, pangkal paha, serta dada bagian atas. Pada kulit kepala, penyakit ini menyebabkan kulit berwarna merah, berketombe, dan bersisik. Penyakit ini disebut juga sebagai psoriasis seboroik atau eksim seboroik atau cradle cap pada bayi.

Gangguan kulit ini mungkin terlihat seperti psoriasis, eksim, atau reaksi alergi. Perlu ketahui juga jika dermatitis seboroik terkadang bisa hilang tanpa pengobatan. Meski begitu, gangguan ini dapat menjadi kondisi yang bisa muncul seumur hidup. Pengobatan dilakukan agar masalah ini tidak mudah untuk kambuh.

Gejala Dermatitis Seboroik

Gejala dermatitis seboroik dapat berbeda-beda, seperti pada bayi dan orang dewasa. Perlu ketahui jika bayi dengan usia 3 bulan dan lebih muda lebih rentan alami cradle cap. Meski dapat hilang sebelum usianya satu tahun, kekambuhan bisa terjadi saat anak memasuki masa pubertas.

Beberapa gejalanya yang dapat terjadi pada bayi tersebut adalah sisik kuning atau cokelat berkerak pada kulit kepala. Banyak orangtua mungkin salah mengira dermatitis seboroik sebagai ruam popok. Maka dari itu, pastikan untuk memeriksakan kulit kepala anak jika dirasa ada sisik atau berwarna merah.

Lalu, untuk orang dewasa gejalanya bisa berbeda dari dermatitis seboroik yang terjadi pada bayi. Beberapa gejala dermatitis seboroik, antara lain:

  • Kulit terasa gatal atau seperti terbakar.
  • Kulit kepala berwarna merah dan berketombe.
  • Kelupasan kulit atau ketombe yang terjadi di kumis, jenggot, atau alis.
  • Kelopak mata berkerak atau berwarna kemerahan (blefaritis).
  • Kulit bersisik berwarna putih atau kuning, yang terjadi di area kulit yang berminyak selain kulit kepala, seperti wajah, ketiak, telinga, dan dada.

 

Penyebab Dermatitis Seboroik

Hingga saat ini, penyebab pasti dermatitis seboroik masih belum diketahui. Namun, penyakit ini diduga berkaitan dengan jamur Malassezia furfur dan peradangan yang terkait dengan psoriasis. Reaksi inflamasi dari jamur ini dapat hidup di permukaan kulit. Saat jamur ini semakin besar, sistem kekebalan bereaksi berlebihan, sehingga menimbulkan respons peradangan yang menyebabkan perubahan pada kulit.

 

Faktor Risiko Dermatitis Seboroik

Beberapa faktor risiko yang dimiliki seseorang sehingga lebih mudah mengidap dermatitis seboroik, antara lain:

  • Jenis kulit berminyak.
  • Bayi baru lahir.
  • Orang dewasa, terutama wanita, berusia 30-60 tahun.
  • Gagal jantung.
  • Obat-obatan tertentu.
  • Penyakit kejiwaan dan gangguan saraf, seperti depresi dan penyakit Parkinson.
  • Kebiasaan menggaruk kulit wajah.
  • Penyakit yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS, kanker, penerima transplantasi organ tubuh, dan pankreatitis alkoholik.
  • Penyakit endokrin yang dapat menyebabkan obesitas, seperti diabetes.
  • Cuaca dingin dan kering.
  • Stres.
  • Faktor genetik.

 

Diagnosis Dermatitis Seboroik

Dokter akan mendiagnosis dermatitis seboroik dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti biopsi atau pemeriksaan kelupasan sel kulit untuk memastikan dermatitis seboroik. Dokter kulit juga perlu mengesampingkan kondisi lain yang bisa memengaruhi kulit, seperti psoriasis, rosacea, reaksi alergi, dan lupus eritematosus sistemik.

 

Pengobatan Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik terkadang bisa hilang dengan sendirinya. Namun, gangguan ini bisa menjadi masalah seumur hidup. Cara mengontrolnya adalah dengan melakukan perawatan kulit. Lalu, ada beberapa hal yang dianjurkan dokter untuk mengatasi dermatitis seboroik, antara lain:

  • Mengoleskan kulit dengan krim khusus sebanyak 1-2 kali dalam sehari yang berfungsi untuk melawan bakteri .
  • Menggunakan sampo antijamur sebanyak 2-3 kali seminggu.
  • Losion atau krim yang menekan sistem kekebalan tubuh.
  • Terapi sinar.
  • Kepala bayi dengan cradle cap dapat dibersihkan setiap hari menggunakan sampo bayi, setelah itu bersihkan sisa-sisa kelupasan kulit menggunakan sikat halus.

 

Pencegahan Dermatitis Seboroik

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dermatitis seboroik, antara lain:

  • Hindari rangsangan gesekan, terutama ketika menggunakan sabun dan handuk.
  • Hindari menggunakan sabun yang beraroma menyengat karena diduga mengandung alkohol.
  • Gunakan jenis sabun yang memiliki kadar minyak tinggi.
  • Batasi makanan yang dapat memicu rasa gatal, seperti makanan yang kaya protein.
  • Mandi dengan air hangat dengan suhu yang cenderung ke dingin.
  • Hindari menggosok kulit menggunakan alkohol.
  • Hindari kontak atau sentuhan langsung dengan benda atau objek yang dapat menyebabkan alergi.
  • Gunakan krim pelembap sesering mungkin.
  • Atasi gatal dengan menghindari garukan untuk menghindari eksim dan infeksi sekunder.

Pada anak-anak, dapat dilakukan:

  • Alihkan perhatian anak ketika hendak menggaruk
  • Hindari kondisi yang terlalu hangat atau panas.
  • Kenakan sarung tangan pada anak ketika tidur.
  • Jaga kuku anak dalam kondisi selalu pendek.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika mengalami tanda dan gejala tersebut untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat. Agar lebih mudah, kamu bisa langsung melakukan pemesanan untuk pemeriksaan di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc tanpa ribet. Cukup dengan download aplikasi Halodoc, nikmati kemudahannya sekarang juga!

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Seborrheic Dermatitis Diseases and Conditions. 
Web MD. Diakses pada 2022. Seborrheic Dermatitis.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Seborrheic Dermatitis.
National Eczema Association. Diakses pada 2022. Seborrheic Dermatitis.

Diperbarui pada 11 Maret 2022