Disentri

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Disentri

Disentri adalah peradangan usus yang bisa menyebabkan diare disertai darah atau lendir. Saat diare, frekuensi buang air besar akan meningkat, dengan konsistensi feses yang lembek atau cair. atau cair. Disentri terbagi jadi dua jenis, yaitu:

  • Disentri basiler atau shigellosis, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Shigella.

  • Disentri amuba atau amoebiasis yang disebabkan oleh infeksi Entamoeba histolytica.

Baca juga: Jangan Salah, Ini Bedanya Disentri dan Diare

 

Faktor Risiko Disentri

Beberapa faktor risiko disentri, yaitu:

  • Kebersihan diri kurang, seperti tidak mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar.

  • Benda yang terkontaminasi parasit atau bakteri penyebab disentri, yang masuk ke dalam mulut seseorang.

  • Makanan dan air yang terkontaminasi kotoran manusia.

  • Daerah dengan ketersediaan air bersih yang tidak memadai.

  • Lingkungan dengan tempat pembuangan limbah yang tidak tertata dengan saksama.

  • Penggunaan pupuk untuk tanaman yang berasal dari kotoran manusia.

 

Penyebab Disentri

  • Disentri basiler disebabkan oleh infeksi bakteri shigella (paling umum ditemui). Namun demikian, bakteri Campylobacter, E. coli, dan Salmonella, juga dapat menyebabkan disentri basiler.

  • Sedangkan disentri amuba, disebabkan oleh infeksi parasit bersel satu, yaitu Entamoeba histolytica. Umumnya, daerah dengan sanitasi yang buruk merupakan tempat dimana amuba sering ditemui. Komplikasi pada organ hati, yang berupa abses hati bisa disebabkan karena disentri amuba.

 

Gejala Disentri

Gejala umum disentri, antara lain:

  • Diare disertai darah atau lendir;

  • Demam;

  • Mual;

  • Muntah; dan

  • Kram dan nyeri perut.

Gejala dapat timbul 1-7 hari setelah penderita terinfeksi dan berlangsung selama 3-7 hari, pada disentri basiler. Untuk penderita disentri amuba, gejala dapat timbul 10 hari sejak pengidap terinfeksi dan dapat disertai dengan gejala mengigil, hilang nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri saat buang air besar, serta perdarahan pada dubur.

Baca juga: Selain Antibiotik, Ini 4 Cara Obati Disentri

 

Diagnosis Disentri

Diagnosis disentri dilakukan dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan sampel feses pengidap, agar penyebab disentri diketahui.

  • Pemeriksaan sampel darah dan USG perut, jika didapatkan komplikasi disentri amuba berupa abses hati.

  • Pemeriksaan kolonoskopi, untuk mengetahui kondisi usus besar penderita.

 

Komplikasi Disentri

Beberapa komplikasi yang diakibatkan oleh disentri, yaitu:

  • Sindrom hemolitik uremik, akibat bakteri Shigella dysenteriae menghasilkan toxin yang merusak sel darah merah.

  • Infeksi darah, yang umumnya dialami penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, seperti HIV/AIDS atau kanker.

  • Kejang, merupakan komplikasi yang jarang dialami penderita.

  • Post infectious arthritis, akibat infeksi bakteri Shigella flexneri, yang gejalanya dapat dirasakan beberapa bulan hingga tahun setelah mengalami disentri, meliputi iritasi mata, nyeri sendi, dan rasa nyeri saat buang air kecil.

  • Abses hati, yang disebabkan oleh disentri amuba dan dapat menyebar hingga ke paru-paru dan otak.

 

Pengobatan Disentri

Dokter akan memberikan beberapa terapi untuk mengatasi disentri, sebagai berikut:

  • Terapi menggunakan cairan baik oral berupa oralit, maupun intravena berupa infus. Terapi ini bertujuan untuk mencegah penderita mengalami dehidrasi karena diare.

  • Obat anti-nyeri seperti paracetamol, untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan yang dirasakan penderita.

  • Obat untuk meredakan kram perut dan diare, seperti bismuth subsalisilat.

  • Obat antibiotik ciprofloxacin untuk disentri basiler dan metronidazole untuk disentri amuba, sesuai petunjuk dokter.

 

Pencegahan Disentri

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah disentri, yaitu:

  • Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun, terutama sebelum makan, memasak, menyiapkan makanan, dan setelah buang air besar, serta mengganti popok bayi.

  • Hindari kontak langsung dengan pengidap disentri.

  • Hindari penggunaan handuk yang sama dengan pengidap disentri.

  • Gunakan air panas untuk mencuci pakaian pengidap disentri.

  • Hindari tertelan air ketika berenang di fasilitas umum.

  • Selalu bersihkan toilet dengan disinfektan setiap selesai digunakan.

  • Hindari memakan buah-buahan yang dikupas oleh orang lain.

  • Selalu mengonsumsi air yang telah dimasak hingga mendidih dan air di botol yang masih tertutup rapat.

  • Hindari es batu yang dijual sembarangan oleh karena kemungkinan terkontaminasi kuman.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Disentri Bisa Sebabkan Komplikasi

 

Kapan Harus ke Dokter?

Hubungi dokter bila mengalami gejala-gejala disentri parah, seperti :

  • Diare disertai darah atau diare yang cukup parah;

  • Sakit saat buang air besar;

  • Muntah berulang-ulang;

  • Demam tinggi;

  • Penurunan berat badan secara drastis; dan

  • Memunculkan gejala dehidrasi, seperti merasa sangat kehausan, pusing, jantung berdebar.

Tanpa harus antri, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit melalui Halodoc guna mendapatkan diagnosis yang tepat.

Referensi:
NHS.uk (Diakses pada 2019). Dysentery
Diperbarui pada 15 Agustus 2019