• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Donor Sperma

Donor Sperma

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Donor Sperma

Donor sperma adalah prosedur saat seorang pria menyumbangkan air mani, atau cairan yang mengandung sperma yang dilepaskan saat ejakulasi, untuk membantu seseorang atau pasangan untuk hamil.

Sperma yang disumbangkan dapat disuntikkan ke dalam organ reproduksi wanita (inseminasi intrauterin) atau digunakan untuk membuahi sel telur yang matang di laboratorium (fertilisasi in vitro atau bayi tabung). Penggunaan sperma yang disumbangkan dikenal sebagai reproduksi pihak ketiga.

Seorang pria yang memberikan sumbangan sperma dapat diketahui atau anonim oleh penerima. Sementara sumbangan sperma yang diberikan kepada penerima yang dikenal disebut sumbangan terarah.

Sebelum seorang pria dapat mendonorkan sperma, ia harus menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisi medis dan faktor risiko lainnya. Jadi, dapat dipastikan tidak akan ada risiko kesehatan yang terkait dengan donasi sperma. Namun, penting juga untuk memahami kemungkinan masalah emosional, psikologis, dan hukum dari donasi sperma.

Mengapa Melakukan Donor Sperma?

Donasi sperma dilakukan untuk membantu individu atau pasangan untuk memiliki keturunan. Kamu dapat memilih untuk memberikan sumbangan sperma untuk membantu mereka yang tidak dapat hamil, seperti wanita yang tidak memiliki pasangan pria atau pasangan yang mengalami infertilitas pria.

Jika seorang pria menyumbangkan air mani ke bank sperma, kemungkinan ia akan dibayar untuk setiap donasi yang lolos dari proses penyaringan bank sperma. Pembayaran dimaksudkan untuk memberi  kompensasi atas waktu dan pengeluaran terkait lainnya. Jumlahnya biasanya cukup rendah sehingga uang bukanlah tujuan utama dalam prosedur ini. 

Bagaimana Persiapan dan Prosedur Menjalani Donor Sperma?

Ada banyak sekali persiapan dan prosedur yang akan dijalani seorang pria yang ingin mendonorkan sperma mereka.

Jika seorang seorang pria mempertimbangkan untuk mendonorkan spermanya, pastikan ia memahami dampak jangka panjang dari keputusan yang ia buat ini. 

Jika ia memberikan sumbangan anonim, pertimbangkan hal berikut:

  • Apakah ia siap menjadi ayah biologis dari seorang anak atau banyak anak yang tidak akan pernah ia temui?
  • Bagaimana jika anak yang dikandung dengan bantuan sumbangan sperma ingin bertemu dengan ayah kandungnya suatu hari nanti?
  • Akankah ia memberi tahu keluarga saat ini atau di masa depan tentang keputusannya untuk menyumbangkan sperma?
  • Jika ia memberikan donasi sperma kepada seseorang yang ia kenal, pertimbangkan untuk menyewa pengacara untuk menyusun kontrak yang mendefinisikan hak dan kewajiban finansial dan orang tua.

Pemeriksaan Kesehatan

U.S. Food and Drug Administration (FDA) mewajibkan pemeriksaan kesehatan dasar untuk penyakit menular dan faktor risiko tertentu sebelum seorang pria dapat menjadi donor sperma. Beberapa negara juga meminta pemeriksaan tambahan lainnya.

American Society for Reproductive Medicine merekomendasikan agar pria yang ingin mendonorkan sperma , termasuk mereka yang diketahui penerimanya untuk menyelesaikan pemeriksaan ini:

  • Usia. Sebagian besar bank sperma mengharuskan pendonor berusia antara 18 dan 39 tahun. Beberapa bank sperma menetapkan batas atas usia 34 tahun.
  • Pemeriksaan Fisik. Pemeriksaan akan mencakup pengambilan sampel darah dan urine  untuk menguji penyakit menular, seperti HIV. Jika seseorang menjadi pendonor sperma biasa, ia harus menjalani pemeriksaan fisik setiap enam bulan saat memberikan donasi sperma. Ia juga akan diminta untuk melaporkan setiap perubahan dalam kesehatan.
  • Tes Sperma. Ia harus memberikan beberapa sampel air mani. Sebelum memberikan setiap sampel, ia kemungkinan akan diminta untuk tidak ejakulasi, baik melalui seks atau masturbasi, setidaknya selama 48 hingga 72 jam. Sampel akan dianalisa kuantitas, kualitas dan pergerakannya.
  • Tes Genetik. Sampel darah akan dianalisis untuk melihat apakah ia pembawa kondisi genetik apa pun. Tanyakan kepada bank sperma individu tes mana yang mereka lakukan, karena beberapa bank melakukan pengujian yang lebih intensif daripada yang lain.
  • Riwayat Kesehatan Keluarga. Seorang pria harus memberikan rincian tentang riwayat kesehatan termasuk kesehatan mental setidaknya dua generasi sebelumnya dari keluarganya. Riwayat yang menunjukkan adanya penyakit keturunan membuat ia tidak bisa mendonorkan sperma.
  • Evaluasi Psikologis. Seorang pria akan ditanya apakah ia khawatir tentang informasi pribadi yang akan dibagikan dengan anak kandung atau tentang kontak di masa mendatang dengan mereka. Jika seorang pria mendonorkan sperma kepada seseorang yang dikenal, kemungkinan besar ia akan diminta untuk berbicara tentang hubungannya dengan penerimanya. Jika ia memiliki pasangan, konseling juga berguna untuknya.
  • Riwayat Pribadi dan Seksual. Seorang pria harus memberikan riwayat terperinci tentang aktivitas seksual, penggunaan narkoba, dan informasi pribadi lainnya untuk menunjukkan apakah ia memiliki faktor risiko untuk mengembangkan penyakit menular, seperti HIV. Ia juga akan diminta untuk membagikan informasi terperinci tentang kebiasaan, pendidikan, hobi, dan minat pribadi. Ia juga diminta untuk memberikan gambar atau video diri atau rekaman audio suara.

Jika hasil tes positif untuk kondisi medis apa pun selama proses pemeriksaan, ia akan diberi tahu dan dirujuk ke perawatan atau konseling. Jika ia lulus proses penyaringan, ia akan diminta untuk menandatangani formulir persetujuan, yang kemungkinan akan menyatakan bahwa ia menyangkal memiliki faktor risiko untuk infeksi menular seksual atau kondisi genetik. Penting untuk mendiskusikan apakah ia terbuka untuk dihubungi dari anak mana pun yang dikandung dengan bantuan spermanya.

Prosedur Pelaksanaan 

Sebelum donor sperma, seorang pria kemungkinan akan diminta lagi untuk tidak ejakulasi, baik melalui seks atau masturbasi, setidaknya selama 2–3 hari. Donor sperma biasanya dilakukan di bank sperma. Ia  akan memberikan sampel air mani dalam cangkir steril melalui masturbasi di kamar pribadi.

Kemudian, sampel akan dibekukan (cryopreserved) dan disimpan di karantina setidaknya selama enam bulan. Kemudian ia akan diuji lagi untuk penyakit menular, seperti HIV.

Jika semua hasil tes negatif, sampel beku akan dicairkan dan kuantitas, kualitas dan pergerakan sperma akan dievaluasi kembali. Sampel sperma dari beberapa pria lebih rentan terhadap kerusakan selama proses pembekuan daripada yang lain. Kerusakan yang disebabkan oleh proses pembekuan juga dapat berbeda antar sampel dari donor yang sama.

Jika sperma memenuhi standar kualitas, ia akan dipilih sebagai donor. Namun, beberapa bank sperma juga akan membatasi jumlah kehamilan yang akan terjadi nantinya. 

Namun, jika hasil tes positif untuk kondisi medis apa pun, ia akan diberi tahu dan dirujuk ke perawatan dan konseling.

Itulah berbagai fakta yang wajib diketahui mengenai donor sperma. Sayangnya donor sperma adalah hal yang tidak diperbolehkan di Indonesia, sehingga tidak ada bank sperma di Indonesia.

Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 serta PP tentang Kesehatan Reproduksi Nomor 41 Tahun 2014 menyebutkan bahwa di Indonesia, inseminasi maupun bayi tabung hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah.

Nah, jika seorang pria ingin meningkatkan kualitas sperma mereka, ada baiknya untuk cek kebutuhan medis di Halodoc. Ia bisa membeli berbagai suplemen atau vitamin yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tetap baik secara keseluruhan agar spermanya juga bisa tetap sehat. Pesan obat dan vitamin di Halodoc juga mudah dan pesanan kamu bisa tiba kurang dari satu jam. Tunggu apa lagi, yuk download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
Columbia University Department of Obstetrics and Gynecology. Diakses pada 2022. Donor Sperm.
Fortis Healthcare. Diakses pada 2022. Sperm Donation.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Sperm Donation.

Diperbarui pada 16 Maret 2022.