• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Gagal Jantung Kongestif

Gagal Jantung Kongestif

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif adalah kondisi saat jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrisi.  Namun gagal jantung bukan berarti jantung berhenti bekerja. Sebaliknya, jantung bekerja secara kurang efisien dari biasanya. Karena berbagai kemungkinan penyebab, darah bergerak melalui jantung dan tubuh pada kecepatan yang lebih lambat, dan tekanan di jantung meningkat. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa cukup oksigen dan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tubuh. 

Penyebab Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif disebabkan oleh banyak kondisi yang merusak otot jantung, antara lain:

  1. Penyakit Arteri Koroner

Penyakit arteri koroner yang memasok darah dan oksigen ke jantung, menyebabkan penurunan aliran darah ke otot jantung. Jika arteri tersumbat atau sangat sempit, maka jantung akan kekurangan oksigen dan nutrisi. 

  1. Serangan Jantung

Serangan jantung terjadi ketika arteri koroner tiba-tiba tersumbat, sehingga menghentikan aliran darah ke otot jantung. Serangan jantung akan merusak otot jantung dan menghasilkan area bekas luka yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 

  1. Kardiomiopati

Kerusakan otot jantung dari penyebab selain arteri atau masalah aliran darah, seperti dari infeksi atau alkohol atau penyalahgunaan obat.

  1. Kondisi yang membuat Jantung Bekerja Terlalu Keras

Kondisi ini termasuk:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Penyakit katup.
  • Penyakit tiroid.
  • Penyakit ginjal.
  • Diabetes.
  • Cacat jantung sejak lahir.

Selain itu, gagal jantung dapat terjadi ketika beberapa penyakit atau kondisi hadir sekaligus.

Faktor Risiko Gagal Jantung Kongestif

Faktor risiko dari gagal jantung dapat meningkat akibat beberapa hal, seperti:

  • Kebiasaan yang tidak sehat, seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
  • Konsumsi garam berlebih.
  • Kurang olahraga atau obesitas (yang menyertai berbagai penyakit koroner).
  • Ketidakpatuhan pada pengobatan atau terapi bagi masalah jantung ringan.

Gejala Gagal Jantung Kongestif

Gejala awal gagal jantung kongestif mungkin tidak terlalu terlihat. Berikut beberapa tanda awal yang bisa segera didiskusikan pada dokter:

  • Kelebihan cairan di jaringan tubuh, seperti pergelangan kaki, kaki, tungkai, atau perut.
  • Batuk atau mengi.
  • Sesak napas.
  • Penambahan berat badan yang tidak dapat dikaitkan dengan hal lain.
  • Kelelahan umum.
  • Peningkatan denyut jantung.
  • Kurang nafsu makan atau mual.
  • Merasa bingung atau disorientasi.

Selain gejala di atas, pada pengidap gagal jantung kongestif, hampir selalu ditemukan:

  • Gejala ganggian pada paru yang bisa berupa: dyspnea, orthopnea, dan paroxysmal nocturnal dyspnea.
  • Gejala sistemik berupa: lemah, cepat lelah, oliguria, nokturia, mual, muntah, asites, hepatomegali, dan edema perifer.
  • Gejala susunan saraf pusat berupa: insomnia, sakit kepala, mimpi buruk sampai delirium.

Diagnosis Gagal Jantung Kongestif

Dengan memperhatikan setiap gejala yang muncul dan dari pemeriksaan fisik yang dilakukan, seorang dokter sudah dapat mencurigai bahwa seseorang memiliki kondisi ini. Namun, untuk memastikan hal itu, maka diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut:

  • EKG atau rekam jantung yang dapat mendeteksi kelistrikan jantung, pembesaran jantung, dan otot-otot jantung.
  • Rontgen Dada: Dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan dapat menunjukkan dilatasi/hipertrofi bilik atau perubahan pembuluh darah mencerminkan peningkatan tekanan pulmonalis.
  • Kateterisasi Jantung: Digunakan untuk mengukur tekanan di dalam ruang jantung. Tekanan abnormal merupakan sebuah pertanda dan membantu membedakan gagal jantung kanan atau kiri, stenosis atau insufisiensi, juga mengkaji potensi arteri koroner.
  • Pemeriksaan Elektrolit: Untuk mendeteksi perubahan elektrolit dalam tubuh akan terlihat perubahan karena adanya perpindahan cairan/penurunan fungsi ginjal.

 Pengobatan Gagal Jantung Kongestif 

Pasien dan dokter dapat mempertimbangkan perawatan yang sesuai dengan kondisi. Oleh karena itu, pengobatan bisa berbeda tergantung pada kondisi kesehatan secara keseluruhan dan seberapa jauh kondisi ini telah berkembang.

Gagal jantung kongestif dapat diperbaiki dengan obat atau operasi, seperti penjelasan di atas. Prospek keberhasilan terapi tergantung pada seberapa parah kondisi yang kamu miliki dan apakah ada penyakit lain yang menyertai, seperti diabetes atau hipertensi. 

Semakin dini penyakit ini didiagnosis dan diterapi, maka akan semakin baik pula prospek keberhasilan terapi. Selain itu, rencana perawatan yang tepat tergantung pada stadium dan jenis gagal jantung, kondisi yang mendasari, dan kondisi kesehatan pengidapnya secara individu. 

Berikut ini perawatan yang umumnya direncanakan:

  • Perawatan gaya hidup yang lebih sehat.
  • Obat-obatan, meliputi diuretik, inhibitor aldosteron, ACE inhibitor, glikosida, antikoagulan, obat penenang, dan beta-blocker.
  • Prosedur operasi.

Komplikasi Gagal Jantung Kongestif

Efek samping atau komplikasi dari gagal jantung kongestif, antara lain:

  • Tromboemboli adalah risiko terjadinya bekuan vena (trombosis vena dalam atau deep venous thrombosis dan emboli paru atau EP) dan emboli sistemik tinggi, terutama pada CHF berat.
  • Komplikasi fibrilasi atrium sering terjadi pada CHF yang bisa menyebabkan perburukan dramatis. Hal tersebut merupakan indikasi pemantauan denyut jantung.
  • Kegagalan pompa progresif bisa terjadi karena penggunaan diuretic dengan dosis ditinggikan.
  • Aritmia ventrikel sering dijumpai, bisa menyebabkan sinkop atau sudden cardiac death (25-50 persen kematian CHF).

 Pencegahan Gagal Jantung Kongestif

Lakukanlah beberapa hal berikut ini agar kamu terhindar dari penyakit gagal jantung:

  • Mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, ikan, dan daging. Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti gorengan, mentega, es krim dan daging olahan.
  • Batasi asupan gula dan garam.
  • Batasi konsumsi minuman keras.
  • Jika kamu memiliki tingkat tekanan darah dan kolesterol yang tinggi, segera lakukan penanganan. Kedua kondisi ini bisa meningkatkan risiko terkena gagal jantung.
  • Jaga berat badan pada batasan sehat dan lakukan langkah-langkah penurunan berat badan jika diperlukan.
  • Berhenti merokok jika kamu seorang perokok. Jika kamu bukan perokok, jauhi asap rokok agar tidak menjadi perokok pasif.
  • Lakukan aktivitas atau olahraga yang dapat membuat jantung sehat, seperti bersepeda atau berjalan kaki, minimal dua setengah jam per minggu.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami beberapa pertanda atau gejala tersebut di atas, disarankan untuk mencari bantuan medis secepatnya. Khususnya ketika gejala-gejala tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari. Kamu juga bisa membuat jadwal kunjungan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Congestive Heart Failure (CHF).
Victoria State Government Better Health Channel Australia (2018). Diakses pada 2022. Congestive heart failure (CHF).
American Heart Association AHA. Diakses pada 2022. Types of Heart Failure.
WebMD. Diakses pada 2022. Congestive Heart Failure and Heart Disease
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Congestive Heart Failure: Prevention, Treatment and Research
Diperbarui pada 11 April 2022.