• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Inkontinensia Alvi

Inkontinensia Alvi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Inkontinensia Alvi

Inkontinensia alvi atau inkontinensia tinja adalah suatu kondisi ketika tubuh seseorang tidak dapat mengendalikan buang air besar. Kondisi ini menyebabkan tinja keluar secara tiba-tiba dan tanpa disadari oleh pengidapnya. Inkontinensia tinja dipengaruhi oleh gangguan pada usus bagian akhir, anus (dubur), dan sistem saraf yang tidak berfungsi secara normal. 

Penyebab umum lainnya dari kondisi inkontinensia alvi termasuk diare, sembelit, dan kerusakan otot atau saraf. Kerusakan otot atau saraf ini juga bisa berhubungan dengan penuaan atau melahirkan. 

Penyebab Inkontinensia Alvi

Beberapa penyebab inkontinensia tinja, antara lain:

  • Diare, yang mengakibatkan tinja lebih berair, sehingga memperburuk inkontinensia tinja.
  • Kerusakan saraf pengendali sfingter anus, yang dapat diakibatkan oleh persalinan, peregangan berlebihan saat buang air, atau cedera saraf tulang belakang.
  • Kerusakan sfingter anus, yaitu cincin otot yang terletak di ujung lubang anus, yang dapat diakibatkan oleh episiotomi atau prosedur pembedahan vagina yang dilakukan setelah persalinan normal.
  • Keterbatasan ruang pada rektum untuk menampung kotoran, akibat adanya jaringan parut pada dinding rektum, sehingga fleksibilitas rektum berkurang.
  • Kondisi medis yang menyebabkan kerusakan fungsi saraf, seperti diabetes, multiple sclerosis, stroke, demensia, atau penyakit Alzheimer, sehingga menyebabkan inkontinensia tinja.
  • Konstipasi kronis, yang mengakibatkan kotoran mengeras, sehingga sulit bergerak melewati rektum serta menyebabkan kerusakan saraf dan otot.
  • Penggunaan obat pencahar dalam jangka panjang.
  • Rectal prolapse, yaitu kondisi ketika rektum turun hingga ke anus.
  • Rectocele, yaitu kondisi ketika rektum menonjol ke luar hingga area vagina wanita.
  • Tindakan pembedahan, seperti prosedur bedah pada hemoroid atau kondisi lain yang berkaitan dengan anus atau rektum sehingga berisiko mengakibatkan kerusakan saraf. 

Orang lanjut usia, orang yang lebih tua, dan wanita cenderung memiliki masalah dengan kontrol usus dibandingkan kelompok lain. Sementara itu, anak-anak yang memiliki masalah dengan masalah toilet training atau sembelit, mungkin juga bisa mengalami kondisi ini. 

Rektum, anus, otot panggul, dan sistem saraf harus bekerja sama untuk mengontrol pergerakan usus. Jika ada masalah dengan salah satu dari hal tersebut, maka dapat menyebabkan inkontinensia. Kamu juga harus bisa mengenali dan merespons keinginan untuk buang air besar. 

Banyak orang merasa malu memiliki masalah inkontinensia alvi dan mungkin tidak melaporkannya pada dokter. Namun kondisi ini bisa diobati. Ada beberapa perawatan yang tepat dapat memulihkan kondisi ini. Latihan tertentu yang bertujuan membuat otot anus dan panggul lebih kuat juga dapat membantu usus bekerja dengan baik.

Faktor Risiko Inkontinensia Alvi

Beberapa faktor risiko inkontinensia tinja, antara lain:

  • Orang lanjut usia di atas 65 tahun.
  • Wanita yang menjalani metode kelahiran normal. 
  • Kerusakan saraf, seperti orang yang mengidap diabetes lama, multiple sclerosis, atau trauma punggung akibat cedera atau operasi. Kelompok ini lebih mungkin mengalami inkontinensia tinja. Karena kondisi ini dapat merusak saraf yang membantu kontrol buang air besar.
  • Mengidap demensia dan pengidap Alzheimer stadium akhir. 
  • Memiliki cacat secara fisik akan membuat seseorang sulit untuk ke toilet tepat waktu. Cedera yang menyebabkan cacat fisik juga dapat menyebabkan kerusakan saraf dubur, yang menyebabkan inkontinensia tinja. 

Gejala Inkontinensia Alvi

Gejala yang dirasakan pengidapnya tergantung pada jenis inkontinensia tinja, yaitu:

  • Inkontinensia mendesak (urge incontinence), yang ditandai dengan dorongan tiba-tiba untuk buang air besar dan sulit untuk dikendalikan.
  • Inkontinensia tinja pasif, yang ditandai dengan kotoran keluar tanpa disadari atau tanpa dorongan untuk buang air, serta dapat keluar ketika pengidap buang angin.

Beberapa gejala lain yang juga dapat dirasakan pengidap, antara lain:

  • Anus terasa gatal atau mengalami iritasi.
  • Diare.
  • Inkontinensia urine.
  • Konstipasi.
  • Nyeri atau kram perut.
  • Perut kembung. 

Diagnosis Inkontinensia Alvi

Dokter akan mendiagnosis inkontinensia tinja dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Kultur tinja, yaitu prosedur pemeriksaan laboratorium melalui sampel tinja, untuk mendeteksi adanya infeksi penyebab diare dan inkontinensia.
  • Barium enema, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan foto Rontgen dan cairan barium untuk memeriksa saluran pencernaan bagian bawah.
  • Elektromiografi (EMG), untuk memeriksa fungsi dan koordinasi otot dan saraf di sekitar anus dan rektum.
  • Kolonoskopi, untuk memeriksa seluruh bagian usus menggunakan selang fleksibel berkamera yang dimasukkan melalui anus.
  • MRI, untuk memperoleh gambar detail kondisi sfingter anus dan otot anus.
  • Fraktografi, yaitu pemeriksaan untuk mengukur banyaknya kotoran yang dapat dikeluarkan tubuh dan mengukur kekuatan rektum dalam menahan kotoran agar tidak merembes.
  • USG anorektal, yaitu pemeriksaan struktur sfingter anus dengan menggunakan instrumen menyerupai tongkat yang dimasukkan ke dalam anus dan rektum. 

Pengobatan Inkontinensia Alvi

Penanganan inkontinensia tinja dapat dilakukan dengan metode non-operasi dan operasi, yaitu dengan:

  • Pengobatan non-operasi, meliputi konsumsi obat-obatan di bawah pengawasan dokter, perubahan pola makan, konsumsi banyak air putih, pengaturan rutinitas buang air besar untuk melatih usus, dan sebagainya.
  • Operasi atau prosedur invasif minimal, yang akan dilakukan jika inkontinensia tidak dapat diobati dengan metode non-operasi.

 Komplikasi Inkontinensia Alvi

Beberapa komplikasi yang dapat diakibatkan oleh inkontinensia tinja, antara lain:

  • Gangguan emosional, akibat rasa malu, frustrasi, dan depresi.
  • Iritasi serta infeksi kulit, akibat kontak berulang dengan tinja. 

Pencegahan Inkontinensia Alvi

Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Berolahraga secara teratur.
  • Menggunakan pakaian dalam berbahan katun untuk mencegah iritasi.
  • Menghindari mengejan saat buang air besar.
  • Menghindari penyebab diare dengan menjaga kebersihan tangan sebelum dan setelah makan, serta kebersihan makanan yang dikonsumsi.
  • Mengonsumsi makanan tinggi serat dan memperbanyak minum cairan untuk mengurangi risiko konstipasi. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami beberapa gejala inkontinensia alvi, maka jangan malu untuk segera bertanya pada dokter mengenai penanganannya. Kamu juga bisa bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Fecal (Bowel) Incontinence.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Fecal incontinence.
WebMD. Diakses pada 2022. Bowel Incontinence.
Diperbarui pada 11 Mei 2022.