Inkontinensia Urine

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine merupakan kondisi hilangnya kontrol kandung kemih, sehingga pengidap bisa mengeluarkan urine tanpa disadari. Bukan hanya memalukan, tetapi inkontinensia urine juga merupakan tanda kondisi kesehatan tertentu.

Baca juga: Ashanty Sering Ngompol, Ini Penjelasan Medisnya

 

Faktor Risiko Inkontinensia Urine

Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang mengalami inkontinensia urine semakin meningkat. Selain itu, ada juga faktor lain yang bisa memicu terjadinya kondisi tersebut, yaitu konsumsi obat tertentu, seperti obat darah tinggi, obat anti-nyeri, dan beberapa golongan obat penenang. Kondisi fisiologis yang menurun juga beberapa penyakit seperti pembesaran prostat, infeksi saluran kemih dapat menjadi faktor risiko terjadinya inkontinensia urin.

Dibanding pria, wanita lebih rentan mengalami inkontinensia urine karena memiliki saluran kemih lebih pendek. Sedangkan pria yang mengidap pembesaran prostat lebih berisiko mengalami inkontinensia urine.

 

Penyebab Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh kondisi yang terkait saluran kemih bagian bawah maupun kondisi yang tidak terkait saluran kemih bagian bawah. Jika terkait saluran kemih bagian bawah, kondisi ini lebih diakibatkan karena aktivitas otot dinding kandung kemih yang berlebihan. Hal tersebut bisa dipengaruhi oleh penyakit saraf, sumbatan di saluran kemih, batu di kandung kemih atau pun kanker kandung kemih. Namun, inkontinensia urine juga dapat terjadi meski saluran kemih normal. Kondisi tersebut biasanya terjadi pada lanjut usia dan terkait dengan kondisi mobilitas juga kognitif. 

 

Gejala Inkontinensia Urine

Berdasarkan gejalanya, inkontinensia urine bisa dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Inkontinensia Stres. Urine bocor keluar di saat terjadi tekanan di kandung kemih, misalnya saat batuk, bersin, atau tertawa.

  • Inkontinensia Urge. Pengidap memiliki keinginan yang kuat untuk tiba-tiba buang air kecil diikuti dengan keluarnya urine yang tidak disengaja (mengompol). Pengidap bisa buang air kecil hingga lebih dari 8 kali dalam sehari, termasuk di malam hari.

  • Inkontinensia Overflow. Pengidap sering mengompol dalam jumlah urine yang sedikit-sedikit karena kandung kemih tidak sepenuhnya kosong.

Baca juga: Sering Buang Air Kecil Tengah Malam, Ini Masalah Kesehatannya

 

Diagnosis Inkontinensia Urine

Dokter akan melakukan pemeriksaan terkait kondisi inkontinensia urine, tipe, waktu saat terjadi, obat yang sedang dikonsumsi, gejala lainnya untuk menilai kemungkinan penyebab inkontinensia urine.

Pada pemeriksaan fisik, dokter mengidentifikasi adanya gangguan lain yang menyertai, pemeriksaan kandung kemih dan panggul, kondisi saraf, juga pemeriksaan colok dubur jika perlu (misalnya untuk deteksi pembesaran  prostat pada laki-laki lanjut usia).

Beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa disarankan di antaranya pemeriksaan air kencing, sistogram, USG, pemeriksaan urodinamik, sistoskopi.

Baca juga: Jenis Penyakit yang Dideteksi oleh Pemeriksaan Uroflowmetri

 

Komplikasi Inkontinensia Urine

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat inkontinensia urine kronis, antara lain:

  • Masalah kulit, seperti ruam, infeksi kulit dan luka.

  • Infeksi saluran kemih. Inkontinensia bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih berulang.

  • Mengganggu kehidupan sosial. Inkontinensia urine merupakan masalah yang memalukan, sehingga bisa memengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, dan hubungan pribadi kamu.

 

Pengobatan dan Efek Samping Inkontinensia Urine

Menentukan penyebab, jenis, dan tingkat keparahan inkontinensia urine sangat penting, agar dokter bisa memberikan pengobatan yang tepat. Pengobatan inkontinensia urine meliputi:

  1. Terapi perilaku untuk mengurangi inkontinensia urine dengan edukasi, pemantauan kebiasaan berkemih, penyesuaian asupan cairan dan kafein,  penurunan berat badan untuk wanita yang kelebihan berat badan, penggunaan alat bantu (misalnya, tempat berkemih di samping tempat tidur), dan berbagai jenis pelatihan kandung kemih dan saluran uretra (misalnya, meningkatkan jarak waktu berkemih dan latihan otot panggul).

  2. Terapi obat untuk merelaksasikan kandung kemih. Obat yang digunakan merupakan obat golongan antikolinergik yang dapat memiliki efek samping diantaranya mulut kering, sulit BAB, penglihatan buram dan rasa seperti kebingungan.

  3. Pada beberapa kasus dapat dilakukan tindakan berupa pemasangan kateter.

  4. Pembedahan dapat dilakukan terutama pada kasus inkontinensia urine karena sumbatan di saluran kemih atau pemasangan sfingter buatan (otot berbentuk cincin untuk mencegah aliran urine dari kandung kemih ke uretra).

 

Pencegahan Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine di antaranya dapat dicegah dengan:

  • Menjaga berat badan tetap ideal.

  • Latihan otot panggul ( senam kegel).

  • Membatasi mengonsumsi minuman yang bersifat diuretic, seperti teh dan kopi.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika gejala inkontinensia urine sudah mengganggu kehidupan sosial atau menyebabkan ketidaknyamanan (rasa sakit, demam, iritasi kulit karena air kencing), segera periksa ke dokter untuk dapat ditangani dengan tepat.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Urinary incontinence - Symptoms and causes.
Medical News Today. Diakses pada 2019. Urinary incontinence: Treatment, causes, types, and symptoms.

Diperbarui pada 11 September 2019