Kanker Nasofaring

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring adalah keganasan yang terjadi pada bagian hidung dan bagian atas saluran pernapasan. Stadium keparahan ditentukan berdasarkan luas area tumor, kelenjar getah bening yang terkena, dan penyebaran ke bagian tubuh lainnya.  

 

Gejala Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring jarang menimbulkan gejala awal. Namun secara umum, kanker nasofaring menyebabkan mimisan, sumbatan hidung, keluarnya cairan dari hidung, nyeri wajah, sakit kepala, gangguan penglihatan, wajah mati rasa, benjolan di leher, gangguan pendengaran konduktif, telinga berdenging, dan penurunan berat badan.

 

Penyebab Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring disebabkan oleh Epstein-barr (EBV), yaitu virus DNA yang menyebabkan infeksi akut dan infeksi laten di limfosit (salah satu jenis sel darah putih). Faktor genetik juga diduga menjadi penyebab kanker nasofaring. Risiko meningkat jika ada keluarga dengan riwayat kanker nasofaring. Selain itu,  perubahan genetik pada beberapa kromosom (seperti mutasi) juga terkait dengan kejadian kanker nasofaring.

 

Faktor Risiko Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring lebih sering terjadi pada laki-laki, orang berusia 60-69 tahun, dan orang Asia. Kasus kanker nasofaring banyak ditemukan di Cina Selatan, Asia Tenggara, Afrika Utara,  dan Alaska Eskimo di Hong Kong (dekat Cina selatan). Faktor lain yang meningkatkan risiko kanker nasofaring adalah jarang mengonsumsi makanan yang mengandung serat dan karoten, kebiasaan merokok, sering minum alkohol, dan sering mengonsumsi makanan yang mengandung nitrosamine.

 

Diagnosis Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring dilakukan dengan penilaian faktor risiko, gejala, dan pemeriksaan fisik awal. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memastikan diagnosis. Berikut jenis pemeriksaan untuk diagnosis kanker nasofaring:

  • Visualisasi langsung nasofaring dengan endoskopi. Pada saat endoskopi, dilakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan) dari area yang abnormal dan pemeriksaan darah (terutama  serologi IgA EBV).
  • Pemeriksaan fine needle aspiration (mengambil contoh sel dari benjolan dengan menggunakan jarum suntik) jika ada benjolan di leher.
  • Tes pemindaian, seperti CT scan dan MRI dilakukan untuk mengevaluasi tingkat keparahan penyakit.
  • Foto Rontgen dada, scan tulang, dan USG dilakukan untuk menentukan apakah ada penyebaran kanker ke area tersebut.  

 

Pengobatan dan Efek Samping Kanker Nasofaring

Pengobatan tergantung penyebaran kanker. Kanker nasofaring diobati dengan radiasi, dapat dikombinasikan dengan kemoterapi jika kanker berulang atau ada sisa dapat dilakukan pembedahan. Efek samping radioterapi umumnya adalah xerostomia (mulut kering), osteonekrosis (kematian sel tulang), mukositis (peradangan membran mukosa saluran pencernaan), kerusakan gigi, fibrosis (penebalan atau pembentukan luka) pada jaringan lunak, dan disfungsi saraf kranial.

Risiko pembedahan meliputi risiko infeksi dan perdarahan. Efek samping kemoterapi antara lain kelelahan, rambut rontok, mudah memar dan berdarah, infeksi, anemia, mual dan muntah, nafsu makan berubah, sembelit, diare, luka dan nyeri saat menelan, mati rasa, kesemutan, nyeri, perubahan kulit dan kuku seperti kulit kering dan perubahan warna, perubahan berat badan, perubahan libido dan fungsi seksual, serta masalah kesuburan.

 

Pencegahan Kanker Nasofaring

Berhenti merokok dan minum alkohol dapat mengurangi risiko terjadinya kanker nasofaring. Di masa depan, diupayakan adanya vaksin virus EBV untuk mencegah penyakit ini.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala yang disebut sebaiknya periksa ke dokter untuk memastikan diagnosis. Dokter spesialis yang bisa terkait antara lain dokter THT dan dokter spesialis bedah onkologi. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu di sini.