• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Kanker Ovarium

Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
kanker-ovarium-halodoc

Kanker ovarium adalah kanker yang tumbuh dan berkembang pada ovarium atau indung telur, yaitu dua organ yang berada di sisi kanan dan kiri rahim. Deteksi awal kanker sangat perlu dilakukan sebab pengobatan bekerja paling baik pada fase ini. 

Kondisi ini sering menyebabkan tanda dan gejala, jadi penting untuk memperhatikan segala perubahan yang terjadi pada tubuh. 

Penyebab Kanker Ovarium

Hingga kini, tidak jelas apa yang dapat menyebabkan kanker ovarium. Meski begitu, kanker ini dimulai ketika sel-sel di dalam atau di dekat ovarium mengalami perubahan (mutasi) dalam DNA mereka. DNA sel berisi instruksi yang memberi tahu sel apa yang harus dilakukan. 

Perubahan ini kemudian memberitahu sel untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat sehingga menciptakan massa (tumor) sel kanker. Sel-sel kanker kemudian terus hidup ketika sel-sel sehat akan mati. 

Mereka dapat menyerang jaringan di dekatnya dan memutuskan tumor awal untuk menyebar (bermetastasis) ke bagian lain dari tubuh. Ada pun jenis kanker ovarium berdasarkan tipenya, yaitu:

  • Kanker Ovarium Epitel. Jenis ini adalah yang paling umum dan memcakup karsinoma serosa dan karsinoma musin.
  • Stroma. Tumor langka ini biasanya didiagnosis pada tahap lebih awal daripada jenis lainnya.
  • Tumor Sel Germinal. Tipe yang satu ini termasuk langka dan cenderung terjadi pada usia yang lebih muda.

Faktor Risiko Kanker Ovarium

Ada pun sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, seperti:

  • Lanjut usia. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar kanker didiagnosis pada orang dewasa yang lebih tua.
  • Perubahan gen yang diwariskan. Sebagian kecil dari kanker ovarium disebabkan oleh perubahan gen yang diwarisi orang tua.
  • Riwayat keluarga dengan kanker ovarium. Jika kamu memiliki kerabat darah yang telah didiagnosis mengidap kanker ovarium, kamu lebih berisiko mengalami kondisi ini.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Terapi penggantian hormon pasca menopause untuk mengontrol tanda dan gejala menopause.
  • Endometriosis.
  • Usia saat menstruasi dimulai dan berakhir. Mulai menstruasi pada usia dini atau mulai menopause pada usia lanjut, atau keduanya, dapat meningkatkan risiko kanker.
  • Belum pernah hamil. Wanita yang belum pernah hamil lebih berisiko mengidap kanker ovarium.

Gejala Kanker Ovarium

Pada stadium awal, kanker ovarium jarang menimbulkan gejala. Kalaupun ada, gejala-gejalanya menyerupai konstipasi atau gejala pada iritasi usus. Oleh sebab itu, kanker ini biasanya baru terdeteksi ketika kanker sudah menyebar dalam tubuh.

Nah, beberapa gejala yang umumnya dialami oleh pengidap,  meliputi:

  • Perut selalu terasa kembung.
  • Pembengkakan pada perut.
  • Sakit perut.
  • Penurunan berat badan.
  • Cepat kenyang.
  • Mual.
  • Perubahan pada kebiasaan buang air besar, misalnya konstipasi (sulit buang air besar).
  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat.
  • Sakit saat berhubungan intim.

Diagnosis Kanker Ovarium

Dokter perlu meninjau gejala, riwayat kesehatan keluarga, dan hasil pemeriksaan fisik. Kemudian, pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Jenis tes yang dapat dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan Panggul. Selama pemeriksaan panggul, dokter perlu memasukkan jari-jari  ke dalam vagina dan  menekan perut  dengan tangan untuk merasakan (meraba) organ panggul secara bersamaan. Dokter juga secara visual memeriksa alat kelamin luar, vagina, dan leher rahim.
  • Pencitraan. Tes, seperti USG atau CT scan perut dan panggul dapat membantu menentukan ukuran, bentuk dan struktur ovarium.
  • Tes Darah. Termasuk di antaranya adalah tes fungsi organ yang dapat membantu menentukan kesehatan secara keseluruhan.
  • Prosedur Tes Genetik. Dokter dapat melakukan pengujian sampel darah untuk mencari perubahan gen yang meningkatkan risiko. 

Pengobatan Kanker Ovarium

Penanganan kanker ovarium bisa berbeda-beda pada setiap kasus. Sebab, pilihan pengobatannya ditentukan melalui stadium kanker, kondisi kesehatan, dan keinginan pengidap untuk memiliki keturunan. Penanganan utamanya adalah melalui operasi, kemoterapi, ataupun radioterapi.

  • Operasi

Prosedur operasi biasanya meliputi pengangkatan kedua ovarium, tuba falopi, rahim, dan  omentum (jaringan lemak dalam perut). Operasi ini juga bisa melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening pada panggul dan rongga perut untuk mencegah dan mencari tahu jika ada penyebaran kanker. Dengan pengangkatan kedua ovarium dan rahim, pengidap tidak lagi dapat memiliki keturunan

Namun, lain halnya dengan kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium dini. Pengidapnya mungkin hanya akan menjalani operasi pengangkatan salah satu ovarium dan tuba falopi, sehingga kemungkinan untuk memiliki keturunan masih ada.

  • Kemoterapi

Kemoterapi dapat dijadwalkan setelah operasi dan ini dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Selama menjalani kemoterapi, dokter akan memantau perkembangan pengidap secara rutin guna memastikan keefektifan obat dan respons tubuh terhadap obat.

Prosedur ini juga dapat diberikan sebelum operasi pada pengidap stadium lanjut dengan tujuan mengecilkan tumor, sehingga memudahkan prosedur pengangkatan.

Setiap pengobatan berisiko menimbulkan efek samping, begitu pula dengan kemoterapi. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah melakukan proses kemoterapi di antaranya tidak nafsu makan, mual, muntah, lemas, rambut rontok, dan meningkatnya risiko infeksi.

  • Radioterapi

Di samping operasi dan kemoterapi, radioterapi merupakan tindakan lain yang bisa menjadi alternatif. Dalam radioterapi, sel-sel kanker dibunuh menggunakan radiasi dari sinar X.

Sama seperti kemoterapi, radioterapi dapat diberikan baik setelah maupun sebelum operasi. Efek sampingnya juga serupa dengan kemoterapi, terutama terjadinya kerontokan rambut.

Komplikasi Kanker Ovarium

Sejumlah risiko komplikasi kanker ovarium meliputi:

  • Peningkatan risiko infeksi akibat kerusakan sel darah putih.
  • Mudah mengalami memar atau pendarahan akibat kerusakan trombosit.
  • Menopause dini.
  • Kehilangan kesuburan.
  • Leukimia karena sumsum tulang rusak akibat pengobatan kemoterapi.
  • Kerusakan ginjal permanen.
  • Sakit saraf.
  • Gangguan pendengaran.
  • Perforasi.

Pencegahan Kanker Ovarium

Seseorang bisa melakukan beberapa hal-hal berikut sebagai tindakan pencegahan kanker ovarium :

  • Memiliki anak lebih dari 1, penggunaan kontrasepsi pil minimal 1, pengikatan saluran tuba, dan histerektomi (pengangkatan rahim).
  • Konsumsi sayuran, vitamin A, dan vitamin C dalam jumlah yang cukup.
  • Melakukan pemeriksaan berkala. Pemeriksaan panggul rutin per tahun dapat digunakan untuk mendeteksi dini kanker ovarium yang tidak memiliki sensitivitas yang tinggi.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami satupun tanda atau gejala yang disebutkan di atas segera periksakan diri ke dokter dengan dokter. Kamu  bisa langsung membuat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc supaya lebih praktis. Jangan tunda sebelum kanker semakin menyebar, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
National Health Services. Diakses pada 2022. Ovarian cancer.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Ovarian cancer.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Basic Information About Ovarian Cancer.
American Cancer Society. Diakses pada 2022. Ovarian Cancer.
Diperbarui pada 13 Mei 2022.