• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Katarak

Katarak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
katarak-halodoc

Pengertian Katarak

Katarak adalah suatu penyakit ketika lensa mata menjadi keruh dan berawan. Pada umumnya, katarak berkembang perlahan dan awalnya tidak terasa mengganggu. Namun, lama-kelamaan, katarak akan mengganggu penglihatan dan membuat pengidap merasa seperti melihat jendela berkabut, sulit menyetir, membaca, serta melakukan aktivitas sehari-hari. Penyakit mata ini merupakan penyebab kebutaan utama di dunia yang dapat diobati.

 

Penyebab Katarak

Penyebab katarak yang paling umum ditemui adalah akibat proses penuaan atau trauma yang menyebabkan perubahan pada jaringan mata. Lensa mata sebagian besar terdiri dari air dan protein. Dengan bertambahnya usia, lensa menjadi semakin tebal dan tidak fleksibel. 

Hal tersebut menyebabkan gumpalan protein dan mengurangi cahaya yang masuk ke retina, sebuah lapisan yang sensitif terhadap cahaya yang terletak di belakang dalam mata. Kondisi tersebut pada akhirnya menyebabkan pandangan kabur dan tidak tajam. Perubahan lensa diawali dengan warna kuning kecoklatan ringan, tetapi semakin memburuk seiring dengan bertambahnya waktu.

Beberapa kelainan genetik bawaan juga bisa menyebabkan masalah kesehatan lain yang bisa meningkatkan risiko katarak. Selain itu, katarak juga bisa disebabkan oleh kondisi mata lain, operasi mata sebelumnya, atau kondisi medis seperti diabetes. Penggunaan obat steroid jangka panjang juga bisa menyebabkan penyakit mata tersebut berkembang.

Faktor Risiko Katarak

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko katarak, antara lain:

  • Penuaan. Penuaan adalah penyebab tersering dari kekeruhan lensa atau katarak.
  • Riwayat trauma. Lensa mata yang pernah mengalami trauma, seperti masuknya serpihan material tajam ke mata, terbentur bola, kembang api, dapat membuat katarak timbul lebih cepat.
  • Infeksi saat kehamilan. Jika ibu saat hamil mengidap infeksi, khususnya rubella, dapat menjadi penyebab utama terjadinya katarak kongenital pada anak yang dilahirkan. Katarak kongenital dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata anak.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka waktu lama, seperti obat kortikosteroid dan amiodaron, dapat memicu katarak.
  • Pengidap penyakit tertentu. Pengidap diabetes melitus, hipertensi, hipokalemia, dan dermatitis atopik, dapat berkaitan dengan timbulnya katarak di kemudian hari.
  • Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
  • Paparan sinar matahari yang lama pada mata.
  • Paparan toksin atau racun.
  • Riwayat keluarga yang mengidap katarak.
  • Riwayat operasi pada mata.

Gejala Katarak

Pengidapnya bisa mengalami beberapa gejala, contohnya seperti: 

  • Pandangan kabur seperti berkabut.
  • Melihat lingkaran di sekeliling cahaya.
  • Pandangan ganda.
  • Penurunan penglihatan pada malam hari.
  • Rasa silau saat melihat lampu mobil, matahari, atau lampu.
  • Sering mengganti ukuran kacamata.
  • Warna di sekitar terlihat memudar.

 

Diagnosis Katarak

Dokter akan mendiagnosis katarak dengan meninjau riwayat kesehatan dan gejala kamu, serta melakukan pemeriksaan mata yang menyeluruh, meliputi:

  • Pemeriksaan lapang pandang. 
  • Tes ketajaman penglihatan.
  • Pemeriksaan dengan menggunakan alat yang diarahkan dari samping mata, guna memperlihatkan kekeruhan pada lensa mata (shadow test). 

Pemeriksaan tambahan lain yang juga dapat dilakukan untuk mendiagnosis katarak, antara lain:

  • Pemeriksaan dengan alat slit lamp, yang memungkinkan dokter mata untuk melihat struktur di bagian depan mata kamu.
  • Pemeriksaan oftalmoskopi daerah retina, jika dicurigai adanya kelainan pada berbagai organ lain dalam mata.
  • Tonometri aplanasi. Tes ini mengukur tekanan cairan di mata.

Pengobatan Katarak

Jika katarak tidak terlalu mengganggu, kamu mungkin hanya perlu mengenakan kacamata baru untuk membantu kamu melihat lebih baik.

Jika katarak menyebabkan penglihatan semakin memburuk dan sulit menjalani aktivitas sehari-hari, prosedur operasi merupakan pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah mata tersebut. 

Operasi katarak pada umumnya aman dan tidak membutuhkan rawat inap. Ada dua jenis operasi katarak, yaitu:

  • Small incision cataract surgery (phacoemulsification). Operasi ini dilakukan dengan melakukan insisi kecil pada tepi kornea. Selanjutnya, dokter akan menyinarkan gelombang ultrasound untuk menghancurkan lensa lalu diambil menggunakan alat penghisap.
  • Extracapsular surgery. Operasi ini membutuhkan insisi yang lebih besar untuk mengeluarkan inti lensa yang berkabut. Selanjutnya, sisa lensa dikeluarkan dengan menggunakan alat penghisap.

Pada proses kedua jenis operasi tersebut, lensa buatan yang disebut juga lensa intraokular dimasukan untuk menggantikan lensa yang asli. Operasi ini membutuhkan waktu sekitar satu jam dan tanpa rasa nyeri. Dokter umumnya menggunakan obat tetes mata untuk membuat mata menjadi baal dan pengidap tetap sadar selama menjalani operasi.

Komplikasi Katarak

Dalam kebanyakan kasus, katarak akan terus memburuk dari waktu ke waktu yang menyebabkan penglihatan semakin menurun. Hal itu bisa menyebabkan pengidap sulit mengemudi, bahkan membahayakan keselamatan, begitu juga dengan kualitas hidup pengidap secara keseluruhan. 

Bila tidak diobati dalam waktu yang lama, tidak jarang katarak bisa menyebabkan kebutaan total. Katarak yang tidak diobati juga dapat menjadi “hyper-mature”, suatu kondisi yang membuatnya lebih sulit dihilangkan dan lebih mungkin menyebabkan komplikasi operasi katarak.

Operasi katarak biasanya aman dan jarang menyebabkan komplikasi. Namun, bukan tidak mungkin komplikasi akibat operasi katarak bisa terjadi, antara lain:

  • Peradangan mata. Komplikasi ini biasanya terjadi ketika pengidap memiliki katarak yang besar atau tebal.
  • Sensitivitas cahaya. Ketika kondisi ini berlanjut, hal itu bisa disebabkan karena kekeringan atau peradangan.
  • Fotopsia, atau melihat kilatan cahaya atau floaters. Kondisi ini disebabkan ketika gel di dalam mata terpisah dari retina. Fotopsia umum terjadi dan biasanya bisa menghilang dalam beberapa bulan.
  • Edema makula. Hal ini disebabkan oleh penumpukan cairan di makula, bagian tengah retina di bagian belakang mata.
  • Ptosis, atau kelopak mata turun. Komplikasi ini bisa terjadi akibat trauma operasi.
  • Dislokasi lensa intraokular. Ini terjadi jika implan lensa (intraokular) baru tidak terpasang dengan benar di kantong kapsuler mata, yang menahannya di tempatnya atau dislokasi.
  • Retina robek atau terlepas. Ini lebih mungkin terjadi pada pengidap yang lebih muda, dan merupakan akibat dari retina yang menarik diri dari bagian belakang mata.
  • Posterior Capsule Opacification (PCO) atau katarak kedua, bisa terjadi karena operasi katarak mengangkat bagian depan lensa tetapi membiarkan bagian belakang tetap pada tempatnya.

Pencegahan Katarak

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah katarak, antara lain:

  • Memeriksakan mata secara teratur pada dokter spesialis mata.
  • Melindungi mata dari benturan dan cahaya matahari yang terlalu lama, dengan menggunakan kacamata yang melindungi dari sinar ultraviolet baik UVA dan UVB.
  • Kelola masalah kesehatan lain, seperti diabetes yang bisa meningkatkan risiko katarak.
  • Membatasi kebiasaan menyetir di malam hari.
  • Memperbaiki pencahayaan di rumah.
  • Menggunakan kaca pembesar saat membaca.
  • Berhenti merokok dan kurangi konsumsi alkohol
  • Terapkan pola makan dengan memperbanyak buah-buahan dan sayuran.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika timbul beberapa gejala katarak di atas yang semakin mengganggu atau semakin memburuk, sehingga pengidap merasakan nyeri pada mata atau kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. 

Kamu juga bisa cek kebutuhan obat dan vitamin untuk mata melalui aplikasi Halodoc. Download Halodoc sekarang juga di Apps Store dan Google Play untuk memudahkan kamu mendapatkan solusi kesehatan terlengkap.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Cataracts.
All About Vision. Diakses pada 2022. What Happens If Cataracts Are Left Untreated?
AARP. Diakses pada 2022. Possible Side Effects and Complications After Cataract Surgery