• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Leukopenia
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Leukopenia

Leukopenia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
LeukopeniaLeukopenia

Pengertian Leukopenia  

Leukopenia merupakan kondisi yang terjadi ketika seseorang memiliki kadar darah putih yang rendah. Padahal, sel darah putih atau leukosit adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Selain itu, leukosit juga berperan penting dalam melawan penyakit atau infeksi pada tubuh. Di sisi lain, seseorang dapat dikatakan mengalami leukopenia dalam situasi yang berbeda. 

Meski begitu, definisi rendahnya sel darah putih dapat bervariasi pada setiap orang. Sebab, orang dewasa yang memiliki jumlah sel darah putih kurang dari 4.000 mikroliter, sudah dianggap mengalami leukopenia.  Sementara itu, pada anak-anak, ambang batas kadar darah tersebut akan bervariasi sesuai usia.

Penyebab Leukopenia 

Perlu diketahui bahwa sel darah putih atau leukosit berasal dari sel induk di sumsum tulang. Maka dari itu, sejumlah kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi sel darah atau sumsum tulang, dapat menyebabkan leukopenia. Berikut adalah beberapa contoh kondisi tersebut: 

  • Kondisi autoimun, seperti rheumatoid arthritis, lupus, dan penyakit Sjögren. 
  • Kanker, seperti limfoma Hodgkin, leukemia, dan myelofibrosis. 
  • Adanya infeksi virus, seperti influenza, HIV, dan hepatitis. 
  • Mengidap penyakit radang usus (IBD). 
  • Granulomatosis dengan polyangiitis, yang merupakan kondisi penyebab peradangan pada pembuluh darah. 
  • Mengalami kekurangan asupan nutrisi tertentu, seperti folat, tembaga, atau vitamin B12. 

Kondisi seperti splenomegali (limpa yang membesar) juga dapat menyebabkan leukosit rendah. Hal ini lantaran organ limpa juga berperan penting dalam produksi sel darah putih. Bahkan, perawatan medis tertentu juga dapat menyebabkan leukopenia. Misalnya seperti kemoterapi, terapi radiasi, hingga transplantasi sumsum tulang. 

Tak hanya itu, beberapa obat juga dapat mempengaruhi jumlah sel darah putih seseorang dan dapat menyebabkan leukopenia. Mulai dari quinidine, cephalosporin, aminopyrine, hingga obat phenothiazine. 

Faktor Risiko Leukopenia 

Siapa pun yang memiliki kondisi yang dapat menyebabkan leukopenia, berisiko mengalami gangguan kesehatan ini. Karena itu, penting untuk secara rutin menjalani tes darah, guna mendeteksi gangguan medis ini sedari dini. Sebab, leukopenia biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas atau spesifik. 

Gejala Leukopenia 

Seseorang mungkin tidak secara langsung menyadari atau melihat gejala yang timbul dari leukopenia. Namun, jika jumlah sel darah putih pengidapnya sudah sangat rendah, pengidap leukopenia mungkin memiliki tanda-tanda infeksi, seperti: 

  • Demam 38 derajat celsius atau lebih. 
  • Merasakan panas dingin dan mudah berkeringat. 
  • Mengalami sakit tenggorokan. 
  • Mengalami batuk atau sesak napas. 
  • Adanya pembengkakan, kemerahan, atau nyeri pada beberapa area tubuh. 
  • Jika mengalami luka, lukanya akan mengeluarkan nanah. 
  • Munculnya sariawan atau bercak putih di mulut. 
  • Merasakan rasa sakit, ketika sedang buang air kecil. 
  • Mudah lelah. 

Diagnosis Leukopenia 

Untuk mendiagnosis leukopenia, dokter akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan fisik dan bertanya mengenai riwayat kesehatan pengidap leukopenia. Mereka akan bertanya kepada pengidap leukosit rendah tentang:

  • Gejala apa yang dialami. 
  • Kapan gejala yang dirasakan mulai terasa. 
  • Adanya riwayat pribadi atau keluarga yang memiliki gangguan autoimun, kanker darah, atau kanker sumsum tulang. 
  • Jenis obat apa yang saat ini sedang dikonsumsi. 
  • Kebiasaan gaya hidup yang dijalani. 

Kemudian, dokter akan melakukan hitung darah lengkap atau complete blood count test (CBC) sebagai tes pertama yang digunakan untuk mendiagnosis leukopenia. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas kadar sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit dalam darah.

CBC dapat menunjukkan bahwa tingkat keseluruhan sel darah putih seseorang rendah. Namun, dokter juga mungkin akan melakukan CBC dengan diferensial untuk hasil yang lebih detail. Diferensial dapat memecah tingkat berbagai jenis sel darah putih, yang dapat membantu menentukan jenis sel darah putih tertentu yang rendah.

Setelah jumlah WBC dianggap rendah, dokter akan melakukan tes lain untuk membantu menentukan penyebab kondisi. Beberapa contoh termasuk:

  • Tes untuk infeksi virus seperti HIV atau hepatitis. 
  • Pemeriksaan kultur darah,  untuk mendeteksi infeksi bakteri atau jamur. 
  • Tes darah untuk kondisi autoimun, seperti tes untuk peradangan seperti protein C-reaktif atau tingkat sedimentasi eritrosit (ESR). Selain itu, tes untuk autoantibodi seperti faktor rheumatoid atau antibodi antinuklear (ANA) juga dapat dilakukan. 
  • Tes sumsum tulang, yang dapat dikumpulkan menggunakan aspirasi, biopsi, atau keduanya. 

Pengobatan Leukopenia 

Pengobatan untuk leukopenia akan bervariasi, karena tergantung pada penyebab kondisi tersebut. Sebagai contoh, jika leukosit rendah disebabkan oleh infeksi bakteri, maka pengidapnya akan diberikan antibiotik untuk melawan infeksi tersebut. Pada kasus lain, jika leukopenia disebabkan oleh kanker dan sedang menjalani kemoterapi, maka pengobatannya perlu dihentikan sampai sel darah putih pada tubuhnya kembali pulih. 

Komplikasi Leukopenia 

Sebagai kondisi yang memengaruhi sel darah putih, leukopenia dapat memicu beberapa komplikasi serius, jika tidak ditangani, seperti: 

  • Perlu menunda pengobatan kanker karena infeksi ringan. 
  • Infeksi yang mengancam jiwa, termasuk septikemia, yang merupakan infeksi aliran darah yang serius. 
  • Meningkatkan risiko sepsis, yaitu respon tubuh yang mengancam jiwa terhadap infeksi darah. 
  • Risiko infeksi berulang atau berkepanjangan. 

Pencegahan Leukopenia 

Leukopenia sebenarnya tidak dapat dicegah, tetapi setiap orang dapat melakukan beberapa tindakan sebagai upaya pencegahan infeksi. Khususnya ketika jumlah sel darah putih pada tubuh rendah. Berikut adalah beberapa upaya yang perlu dilakukan:

  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang. 
  • Menghindari konsumsi makanan mentah atau yang kurang matang. 
  • Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun untuk mengurangi risiko infeksi. 
  • Mencuci bersih makanan seperti sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi. 
  • Rutin memeriksakan kondisi kesehatan. 
  • Menghindari luka atau sayatan pada tubuh. 
  • Memastikan cukup istirahat setiap harinya. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu merasakan beberapa gejala leukopenia yang tak kunjung membaik, segeralah periksakan kondisimu ke dokter. Penanganan yang dilakukan sedari dini tentunya dapat meminimalkan risiko terjadinya komplikasi serius. 

Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji rumah sakit untuk memeriksakan kondisi. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi: 
Healthline. Diakses pada 2022. Leukopenia. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Low white blood cell count. 
Medical News Today. Diakses pada 2022. What is leukopenia?