Meningitis

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Meningitis

Meningitis adalah kondisi di mana terjadi peradangan atau inflamasi pada selaput otak (meningen). Umumnya, penyebab utama meningitis adalah virus, jamur, bakteri, serta penyebab lain, seperti reaksi imunologi, penyakit sistematik, lupus, dan juga keganasan.

Baca juga: Awas, Pengidap Meningitis Rentan Terkena Abses Otak

 

Penyebab dan Faktor Risiko Meningitis

Penyebab meningitis secara umum adalah bakteri dan virus. Untuk meningitis purulenta sendiri paling sering disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus, dan Haemophilus influenzae sedangkan penyebab utama meningitis serosa adalah Mycobacterium tuberculosis dan virus. Bakteri Pneumococcus adalah salah satu penyebab meningitis terparah.

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan penyakit ini adalah lingkungan dengan kebersihan yang buruk dan padat serta terjadi kontak atau hidup serumah dengan pengidap infeksi saluran pernapasan. Risiko penularan meningitis Meningococcus meningkat pada lingkungan yang padat, seperti asrama atau perkemahan.

 

Gejala Meningitis

Meningitis umumnya menunjukan beragam gejala, seperti sakit kepala, kaku kuduk, hingga demam. Sementara itu, gejala yang timbul pada bagian neurologis umumnya menunjukan gejala kejang, gangguan sensorik, dan juga gangguan perilaku pada pengidap. Saat mengidap meningitis, pengidap juga bisa mengalami penurunan kesadaran sebagai salah satu gejala yang muncul. Edema otak juga bisa terjadi pada pengidap meningitis, jika hal tersebut dibiarkan bisa menyebabkan herniasi otak.

 

Diagnosis Meningitis

Gold standard untuk diagnosis meningitis adalah pemeriksaan sampel cairan serebrospinal melalui lumbal pungsi (LP), sebelum diberikan terapi. Sebelum prosedur LP bisa dilakukan, pemeriksaan MRI, dan CT scan harus dilakukan terlebih dahulu. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada massa yang menekan pada otak.

Baca juga: Vaksinasi pada Bayi, Cara agar Mencegah Infeksi Meningitis

 

Pengobatan Meningitis

Pengobatan diberikan sesuai dengan penyebab dan etiologi. Meningitis viral umumnya self-limiting. Maka diberikan terapi sintomatik, seperti analgetik, antipiretik, hidrasi, dan istirahat. Jika disebabkan oleh HSV dapat diberikan asiklovir (10 mg/kg) selama 14 hari. Terapi kortikosteroid juga direkomendasikan untuk mengurangi inflamasi.

 

Pencegahan Meningitis

Salah satu langkah pencegahan yang bisa dilakukan adalah memberikan imunisasi meningitis pada bayi agar kekebalan tubuh dapat terbentuk. Vaksin yang dapat diberikan, seperti Haemophilus influenzae type b (Hib), Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7), Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV), Meningococcal conjugate vaccine (MCV4), dan MMR (Measles dan Rubella). Imunisasi Hib Conjugate vaccine (HbOC atau PRP-OMP) dimulai sejak usia 2 bulan.

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan mengurangi kontak langsung dengan pengidap dan mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan perumahan dan di lingkungan, seperti barak, sekolah, tenda, dan kapal. Selain itu, penerapan gaya hidup sehat harus dilakukan seperti rajin cuci tangan. Cuci tangan dapat menghambat penyebaran virus, jamur, dan juga bakteri yang menyebabkan meningitis.

Tidak berbagi makanan dan minuman kepada orang lain juga seharusnya dilakukan. Selain dari berbagi makanan atau minuman, pemakaian barang yang bersifat personal, misalnya bertukar sisir, alat makan, contohnya sendok, sikat gigi, juga seharusnya tidak dilakukan.

Baca juga: Selain Meningitis, Ini Jenis Infeksi Otak yang Perlu Diketahui

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jangan sepelekan gejala dari penyakit radang selaput otak. Segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih mendalam. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu melalui Halodoc.

 

Referensi:
Mayo Clinic (Diakses pada 2019). Meningitis
Diperbarui pada 21 Agustus 2019