Molluscum Contagiosum

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Molluscum Contagiosum

Moluskum kontagiosum adalah infeksi yang disebabkan oleh virus pox. Infeksi yang disebabkan oleh virus ini bersifat lokal dan kronis, namun jinak. Infeksi ini ditandai munculnya gangguan lesi ringan pada kulit yang dapat muncul pada bagian tubuh manapun. Moluskum kontagiosum biasanya sembuh dalam waktu 6-12 bulan tanpa terbentuknya jaringan parut, namun bisa bertahan hingga 4 tahun sebelum menghilang secara sempurna.

 

Gejala Molluscum Contagiosum

Lesi pada moluskum kontagiosum dikenal sebagai moluska, merupakan lesi berbentuk kubah yang timbul pada kulit. Lesi ini dapat berwarna putih, merah muda atau serupa dengan warna kulit, dan disertai dengan adanya lesung atau lubang pada bagian tengahnya. Lesi moluska ini umumnya berukuran kecil dengan diameter sekitar 2 hingga 5 milimeter.

Moluska sering memiliki penampakan yang berkilau dengan konsistensi halus dan padat. Lesi pada moluskum kontagiosum ini dapat menjadi gatal, nyeri, merah, dan/atau membengkak. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, lesi moluska ini dapat muncul pada seluruh bagian tubuh, yakni pada wajah, leher, lengan, kaki, perut daerah kemaluan, yang timbul baik sendiri-sendiri maupun secara bersamaan. Meski begitu, moluska jarang ditemukan pada telapak tangan atau kaki.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Molluscum Contagiosum

Virus pox penyebab terjadinya penyakit moluskum kontagiosum menyebar secara langsung dari orang ke orang melalui kontak fisik atau melalui fomit (benda mati yang dapat dikendarai oleh virus).

Virus ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya karena bersentuhan atau karena pasien menggaruk lesi yang ada dan menyentuh bagian tubuh lainnya. Penyebaran ini disebut dengan autoinokulasi. Bercukur merupakan salah satu aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya autoinokulasi.

Moluskum kontagiosum adalah penyakit umum pada masa kanak-kanak, namun dapat terjadi pada dewasa muda dan orang dewasa yang sehat, khususnya yang ditularkan secara seksual atau karena adanya keterlibatan dengan olahraga yang melibatkan banyak kontak fisik. Moluskum kontagiosum juga dapat terjadi saat sistem pertahanan tubuh menurun, misalnya pada pasien dengan HIV/AIDS atau pasien yang mendapatkan terapi imunosupresif.

 

Diagnosis Molluscum Contagiosum

Diagnosis moluskum kontagiosum dapat ditegakkan melalui anamnesis dan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan status lokalis dimana penampakan dan karakteristik lesi diamati secara detail. Jika dibutuhkan, dapat diperiksakan pemeriksaan histologi menggunakan mikroskop untuk membantu mengkonfirmasi diagnosis.



Penanganan Molluscum Contagiosum

Moluskum kontagiosum merupakan infeksi yang bersifat self-limiting atau dapat sembuh sendiri pada orang sehat, sehingga pengobatan tidak diperlukan. Namun, masalah-masalah seperti terlihatnya lesi secara estetika dan untuk mencegah transmisi, pengobatan dapat dilakukan. Pengobatan juga direkomendasikan bila lesi melibatkan daerah kemaluan (misalnya pada sekitar penis, vagina, dan lubang anus).  Beberapa penanganan moluskum kontagiosum yaitu sebagai berikut:

  • Pembuangan secara fisik. Hal ini merupakan penanganan yang cepat namun membutuhkan keterampilan tenaga kesehatan profesional. Pembuangan secara fisik ini juga mungkin memerlukan pembiusan lokal dan dapat mengakibatkan nyeri pasca prosedur, iritasi, dan pembentukan jaringan parut. Melakukan pembuangan secara fisik sendiri sangat tidak disarankan karena dapat menyebabkan komplikasi infeksi sekunder, atau malah menyebabkan autoinokulasi. Pembuangan lesi secara fisik dapat dilakukan dengan:
    • Krioterapi (membekukan lesi dengan nitrogen cair)
    • Kuretase (menusuk pusat dan mengikis sekitarnya)
    • Terapi laser
  • Terapi oral. Pembuangan yang lebih berangsur dapat dilakukan dengan terapi oral. Pilihan ini dipilih pada pasien anak karena lebih tidak sakit dan dapat diberikan di rumah. Obat yang digunakan adalah cimetidine, namun respon masing-masing pasien berbeda, dan biasa lebih tidak efektif untuk lesi di wajah,
  • Terapi topikal dengan podophyllotoxin krim (0.5%). Terapi ini tidak ditujukan untuk ibu hamil karena dapat membahayakan janin.
  • Terapi pada pasien dengan sistem pertahanan tubuh rendah lebih rumit karena biasanya pasien tidak berespon baik dengan pengobatan biasa.

 

Pencegahan Molluscum Contagiosum

Pencegahan yang perlu diketahui oleh pasien adalah dengan menghindari kontak fisik dengan pasien yang terinfeksi virus penyebab moluskum kontagiosum. Selain itu, diperlukan adanya kedisiplinan dalam menjaga kebersihan, khususnya dalam menerapkan cara cuci tangan yang baik dan benar.

Berhati-hati dalam penggunaan barang di tempat umum, serta dalam berolahraga dapat membantu mencegah timbulnya penyakit ini. Sebaiknya, kamu tidak menggunakan barang pribadi, seperti handuk, pakaian, secara bersamaan

 

Kapan Harus ke Dokter?

Ketika kamu mengalami gejala yang menjadi indikasi terkena infeksi virus pox, segera temui dokter untuk mendapatkan pengobatan yang lebih cepat dan tepat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kamu dapat melakukan janji temu dengan dokter di rumah sakit yang terbaik menurut kamu di sini.