Neuritis Optik

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Neuritis Optik

Neuritis optik adalah kondisi mata ketika lapisan mielin pada saraf optik meradang. Jika terjadi gangguan atau mielin tidak ada, sinyal visual tidak dapat terkirim dengan baik menuju otak. Akibatnya, pengidap akan mengalami gangguan pada penglihatannya, seperti pandangan mata kabur atau buram. Kondisi ini dapat menyerang satu atau kedua mata.

Neuritis optik bisa terjadi pada siapa saja, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Namun, kelainan ini paling sering ditemukan pada wanita usia antara 20 hingga 40 tahun.

Baca juga: Benarkah Wanita Lebih Rentan Alami Neuritis Optik? 

 

Faktor Risiko Neuritis Optik

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap neuritis optik, antara lain:

  • Jenis kelamin, biasanya wanita lebih banyak terserang penyakit ini

  • Usia, orang yang berusia sekitar 20-40 tahun lebih berpotensi untuk terjadinya kelainan ini

  • Mutasi genetik, terjadinya mutasi genetik pada seseorang meningkatkan risiko untuk mengalami kelainan neuritis optik.

 

Penyebab Neuritis Optik

Neuritis optik dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, seperti:

  • Bakteri atau infeksi virus, dan penyakit terkait (termasuk TBC, penyakit Lyme, hepatitis B, HIV, herpes zoster, ensefalitis, sinusitis, dan banyak lainnya)

  • Arteritis kranial, atau radang selaput arteri pada tengkorak.

  • Diabetes.

  • Sarkoidosis.

  • Sengatan Lebah.

  • Lupus sistemik.

  • Vaskulitis.

  • Efek samping obat tertentu, seperti etambutol (yaitu obat yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis).

  • Racun seperti timbal, kina, arsenik, dan metil alkohol.

  • Terapi radiasi.

  • Neuropati optik turunan.

  • Kekurangan vitamin B12.

 

Gejala Neuritis Optik

Gejala utama dari neuritis optik meliputi:

  • Penglihatan kabur.

  • Hilangnya penglihatan, lebih sering hanya pada satu mata, tetapi terkadang keduanya.

  • Sakit mata, terutama ketika mata bergerak.

  • Buta warna.

  • Penglihatan kabur.

  • Kehilangan kontras visual atau penglihatan kurang jelas.

  • Menurunnya kecerahan penglihatan.

  • Kedipan.

 

Diagnosis Neuritis Optik

Diagnosis terhadap kelainan neuritis optik dapat dilakukan melalui pemeriksaan mata rutin, serta tes reaksi pupil terhadap cahaya. Selain oftalmoskopi juga dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk memeriksa struktur di belakang mata, termasuk optik dan saraf.

Beberapa tes penunjang diperlukan untuk mendiagnosis kelainan ini, di antaranya:

  • Tes darah, untuk memeriksa kemungkinan adanya neuromielitis optik pada kasus neuritis optik yang berat. Hal ini diketahui dengan mendeteksi antibodi terkait.

  • MRI untuk menentukan area kerusakan pada otak.

  • Optical coherence tomography (OCT) dilakukan untuk memeriksa ketebalan serabut saraf retina yang umumnya lebih tipis dalam kasus pengidap neuritis optik.

  • Tes visual evoked response untuk menilai kecepatan konduksi elektrik dari saraf optik, karena pada kasus neuritis optik biasanya melambat.

 

Pengobatan Neuritis Optik

Pengobatan neuritis optik bergantung pada pemeriksaan tiap pengidap. Untuk kasus dengan penyebab yang jelas, pengobatan ditentukan oleh penyebab utamanya. Contohnya, jika neuritis optik disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, maka pengidap akan diberikan obat anti-bakteri atau antivirus. Jika pengidap terserang kondisi ini akibat kekurangan vitamin B12, suplemen nutrisi akan diresepkan. Di sisi lain, jika tidak ada penyebab yang jelas, pengidap biasanya diberikan obat dosis tinggi berdasarkan steroid untuk lebih cepat merangsang penyembuhan.

Pengobatan ini juga efektif untuk mencegah sklerosis ganda pada pengidap. Namun, obat ini harus dikonsumsi dengan hati-hati, karena dapat menyebabkan beberapa efek samping. Di antaranya adalah osteoporosis atau peningkatan kerentanan terhadap infeksi, karena efek dari steroid pada sistem kekebalan tubuh.

Jika gejalanya parah, tidak merespons obat steroid, atau pengidap tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi steroid, dokter mungkin meresepkan IVIG, yaitu obat khusus yang terbuat dari darah yang diambil dari pengidap. Pengobatan ini membutuhkan biaya yang mahal dan tidak terjamin efektif, tetapi dapat digunakan sebagai pilihan terakhir jika pengobatan lainnya gagal.

Jika pengidap mengalami kehilangan penglihatan, pada beberapa kasus, penglihatan biasanya bisa  dipulihkan dalam waktu sekitar 2 minggu sampai 3 bulan. Risiko kehilangan penglihatan permanen cukup kecil, karena sekitar 90 persen penglihatan pengidap sembuh pada bulan ke-6. Jika tidak terjadi kehilangan penglihatan, masih terdapat kemungkinan perubahan ketajaman visual permanen.

Baca juga: Jangan Disepelekan, Ketahui Komplikasi Akibat Neuritis Optik

 

Pencegahan Neuritis Optik

Hingga saat ini, langkah pencegahan terhadap kelainan neuritis optik belum ditemukan. Hal ini tentu saja berhubungan dengan beragam penyebab dan faktor risiko yang membuat seseorang dapat mengidap kelainan ini. Namun, risiko neuritis optik bisa dikurangi dengan melakukan pencegahan kerusakan pada mata. Langkah ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi beberapa makanan yang sehat untuk mata, seperti tomat, apel, labu, bayam, jeruk, pepaya, dan kacang pistachio.

Baca juga: Ketahui Perawatan Rumahan untuk Atasi Neuritis Optik 

 

Kapan Harus ke Dokter?

Karena terdapat kemungkinan kebutaan permanen, sebaiknya bila mengalami gejala kondisi mata yang tidak biasa, segera periksakan diri ke dokter. Kebanyakan gejala dapat ditangani oleh dokter umum atau dokter keluarga, karena beberapa masalah mata terkait dengan masalah kesehatan. Dokter umum atau dokter keluarga biasanya akan merujuk kamu ke dokter mata jika kamu telah dipastikan mengidap neuritis optik atau dokter ahli saraf jika diduga terdapat masalah saraf. 

Referensi:

Mayoclinic.org. Diakses pada 2019. Optic neuritis - Symptoms and causes

Diperbarui pada 17 September 2019