Sindrom Kompartemen

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Sindrom Kompartemen

Sindrom kompartemen adalah kondisi yang terjadi akibat meningkatnya tekanan di dalam kompartemen otot, karena perdarahan atau pembengkakan setelah cedera. Cedera akan memicu pembengkakan pada otot dan jaringan di dalam kompartemen tersebut.

 

Faktor Risiko Sindrom Kompartemen

Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami sindrom kompartemen ini apabila sering melakukan aktivitas, seperti berenang, bermain tenis, ataupun berlari. Aktivitas yang intens dan kerap berulang juga dapat meningkatkan risiko. Kaitan antara olahraga dan sindrom kompartemen kronik belum dipahami secara pasti.

Baca juga: Badan Terlalu Lelah Dapat Memicu Terjadinya Nyeri Otot

 

Penyebab Sindrom Kompartemen

Sindrom kompartemen bisa terjadi apabila terdapat perdarahan atau pembengkakan di dalam suatu kompartemen. Hal ini bisa menyebabkan peningkatan tekanan di dalam kompartemen yang dapat menghambat aliran darah. Apabila tidak ditangani, maka kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen, karena sel otot dan sel saraf tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkannya.

Terdapat dua tipe sindrom kompartemen, yakni:

  • Sindrom Kompartemen Akut

Sindrom kompartemen jenis ini umumnya terjadi setelah seseorang mengalami cedera berat. Pada kasus yang lebih jarang, kondisi ini juga dapat terjadi setelah cedera kecil. Sebagai contoh, seseorang dapat mengalami sindrom kompartemen akut setelah mengalami patah tulang, cedera yang merusak lengan atau tungkai, ataupun sebagai akibat dari kerusakan otot yang berat.

  • Sindrom Kompartemen Kronis (Eksersional)

Sindrom kompartemen jenis ini bisa terjadi akibat cedera olahraga, terutama yang melibatkan gerakan repetitif. Hal ini cukup sering terjadi pada mereka di kelompok usia bawah 40 tahun, tetapi sebetulnya dapat dialami pada usia berapa pun.

Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami sindrom kompartemen tipe ini jika ia sering melakukan aktivitas, seperti berenang, bermain tenis, ataupun berlari. Aktivitas yang intens dan kerap berulang juga dapat meningkatkan risiko. Kaitan antara olahraga dan sindrom kompartemen kronik belum dipahami secara pasti.

 

Gejala Sindrom Kompartemen

Pengidap dapat mengalami gejala yang berbeda-beda, tergantung pada keparahan kondisi. Gejala yang biasanya muncul, meliputi:

  • Nyeri hebat, khususnya saat otot digerakkan.

  • Rasa penuh pada otot dan nyeri bila ditekan.

  • Otot bengkak.

  • Kesemutan atau rasa, seperti terbakar.

  • Kram otot saat berolahraga.

  • Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin.

  • Otot terasa lemas dan mati rasa.

Jika gejala seperti di atas kamu rasakan, disarankan untuk segera menemui dokter, terutama setelah terjadi cedera berat.

Baca juga: Mitos atau Fakta Stres Bisa Sebabkan Nyeri Otot

 

Diagnosis Sindrom Kompartemen

Diagnosis sindrom kompartemen bisa ditentukan berdasarkan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang tertentu. Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya tanda dan gejala sindrom kompartemen akut atau kronis.

 

Komplikasi Sindrom Kompartemen

Jika sindrom kompartemen tidak segera ditangani, khususnya pada kasus sindrom kompartemen akut, beberapa komplikasi berikut ini dapat terjadi:

  • Infeksi.

  • Muncul jaringan parut pada otot, sehingga otot menjadi tidak lentur dan berkurang fungsinya.

  • Amputasi.

  • Kerusakan saraf permanen.

  • Rhabdomyolysis.

  • Gagal ginjal.

  • Kematian.

 

Pengobatan Sindrom Kompartemen

Operasi kerap menjadi pilihan utama bagi pengidap sindrom kompartemen akut untuk menghindari komplikasi lanjutan. Tindakan bedah bernama fasciotomy akan dilakukan dengan membuka lapisan pelindung kompartemen otot (fascia) untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang sudah mati jika ditemukan. Luka operasi umumnya akan ditutup beberapa hari setelahnya agar tidak menimbulkan sindrom kompartemen kembali.

Salah satu teknik penutupan luka selain jahitan adalah skin grafting. Melalui teknik ini, dokter akan mengambil kulit sehat dari tubuh pengidap dan menggunakannya untuk menutup luka. Tindakan skin grafting biasa dilakukan jika luka tidak kunjung pulih. Operasi untuk memperbaiki sindrom kompartemen sedapat mungkin dilakukan segera dengan tetap memperhatikan kondisi pengidap.

Bagi pengidap sindrom kompartemen kronis, biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi obat antiinflamasi non-streoid dan melakukan fisioterapi guna meregangkan otot. Selain itu, pengidap juga akan disarankan untuk mengganti jenis olahraga atau mengurangi frekuensi olahraga serta istirahat yang cukup.

 

Pencegahan Sindrom Kompartemen

Untuk sindrom kompartemen akut, diagnosis dan penanganan dini bisa mencegah munculnya komplikasi yang tidak diinginkan. Walaupun belum terdapat cara yang definitif untuk pencegahan gangguan ini.

Pengidap yang menggunakan perban perlu mengamati bila nyeri dan pembengkakan yang terjadi semakin berat meski telah mendapat pengobatan. Oleh karena itu, pengidap harus segera berdiskusi dengan dokter.

Gunakan juga sepatu yang tepat dan mampu meningkatkan fleksibilitas untuk membantu mencegah atau menurunkan derajat keparahan sindrom kompartemen kronis. Membangun ketahanan tubuh secara bertahap bisa dilakukan demi mencegah sindrom kompartemen kronis.

Baca juga: 4 Kebiasaan Sehari-Hari Ini Picu Nyeri Otot

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome.
Web MD. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome.

Diperbarui pada 19 September 2019