Sindrom Mielodisplasia

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Sindrom Mielodisplasia

Sindrom Mielodisplasia atau praleukimia adalah kelainan yang disebabkan oleh sel darah yang terbentuk tidak sempurna alias disfungsional. Praleukimia terjadi saat sumsum tulang mengalami gangguan.

Baca juga: Kelainan Darah

 

Faktor Risiko Sindrom Mielodisplasia

Beirkut ini faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena praleukimia, yaitu:

  • Usia lanjut. Kebanyakan orang dengan sindrom Mielodisplasia merupakan lansia di atas 60 tahun.

  • Perawatan dengan kemoterapi atau radiasi. Sindrom Mielodisplasia dapat muncul apabila menerima kemoterapi atau terapi radiasi, di mana keduanya umum digunakan untuk mengatasi kanker.

  • Paparan terhadap zat kimia. Zat kimia yang terkait dengan sindrom Mielodisplasia, meliputi asap rokok, pestisida, dan zat kimia industrial, seperti benzene.

  • Paparan terhadap logam berat. Timah dan merkuri merupakan logam berat yang berhubungan dengan sindrom Mielodisplasia.

 

Penyebab Sindrom Mielodisplasia

Sindrom Mielodisplasia terjadi saat produksi sel darah terganggu dan tidak terkendali, hal ini menyebabkan sel darah pengidap praleukimia belum matang dan cacat. Bukannya terbentuk dengan normal, saat masuk ke dalam aliran darah sel akan mati dalam sumsum tulang.

Lama-lama, jumlah sel yang belum matang dan cacat mulai meningkat lebih banyak daripada sel darah yang sehat. Hal ini dapat menyebabkan masalah, seperti anemia, infeksi, dan perdarahan berlebih.

Dokter menggolongkan Sindrom Mielodisplasia menjadi dua kategori berdasarkan penyebabnya, yaitu:

  • Sindrom Mielodisplasia tanpa penyebab yang diketahui. Disebut de novo myelodysplastic syndromes, karena dokter tidak mengetahui penyebabnya. De novo myelodysplastic syndromes, biasanya lebih mudah diatasi dibandingkan dengan sindrom Mielodisplasia dengan penyebab yang diketahui.

  • Sindrom Mielodisplasia disebabkan oleh zat kimia dan radiasi. Sindrom Mielodisplasia yang terjadi sebagai respons terhadap perawatan kanker, seperti kemoterapi dan radiasi atau paparan zat kimia disebut sindrom Mielodisplasia sekunder. Sindrom Mielodisplasia sering kali lebih sulit ditangani.

 

Gejala Sindrom Mielodisplasia

Pada tahap awal, sindrom Mielodisplasia jarang menunjukkan tanda atau gejala. Ketika gejala muncul, biasanya dapat berupa:

  • Pucat karena anemia;

  • Infeksi yang sering terjadi akibat jumlah sel darah putih matang yang rendah;

  • Mudah memar atau berdarah karena rendahnya jumlah trombosit;

  • Kelelahan;

  • Sesak napas; dan

  • Bintik merah di bawah kulit akibat perdarahan.

 

Diagnosis Sindrom Mielodisplasia

Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki praleukimia, dokter akan menanyakan tentang gejala atau riwayat penyakit lain. Dokter juga mungkin menempuh langkah-langkah berikut:

  • Melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat kemungkinan lain dari gejala.

  • Mengambil sampel darah untuk menghitung berbagai tipe sel.

  • Mengambil sampel sumsum tulang untuk analisis. Dokter akan memasukkan jarum khusus ke dalam tulang pinggul atau tulang dada untuk mengambil sampel

  • Analisis genetik terhadap sel dari sumsum tulang

Baca juga: Benarkah Penyakit Kelainan Darah Dipengaruhi Genetik?

 

Pengobatan Sindrom Mielodisplasia

Pengobatan terhadap sindrom Mielodisplasia difokuskan untuk menghambat perkembangan kondisi ini, mengurangi gejalanya, serta mencegah perdarahan dan infeksi. Dokter akan melakukan beberapa bentuk pengobatan yang meliputi:

  • Obat-obatan. Bertujuan untuk menghancurkan sel-sel darah yang tidak berkembang dengan menghentikan pertumbuhannya. Obat-obatan dapat berbentuk tablet atau injeksi. Contoh obat yang digunakan untuk menghambat perkembangan sindrom Mielodisplasia adalah lenalidomide, azacitidine, ataupun decitabine.

  • Injeksi faktor pertumbuhan sel darah. Untuk meningkatkan sel darah merah sehat dan mempertahankan nilai Hb normal dapat digunakan erythropoietin (EPO), seperti epoetin alfa. Untuk meningkatkan sel darah putih, pemberian G-CSF, misalnya filgrastim, hanya diberikan pada kasus tertentu. Sedangkan pemberian faktor pertumbuhan terhadap trombosit, seperti eltrombopag malah dapat meningkatkan jumlah sel darah yang tidak matang, sehingga tidak digunakan pada kasus sindrom Mielodisplasia.

  • Transfusi darah. Transfusi sel darah merah merupakan terapi pendukung yang digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah dan mempertahankan nilai Hb normal. Sedangkan transfusi trombosit, hanya dilakukan untuk menghentikan perdarahan bila terjadi perdarahan.

  • Terapi pengikat besi. Terapi ini dilakukan karena terlalu sering melakukan tranfusi bisa menyebabkan kadar zat besi dalam tubuh terlalu tinggi.

  • Antibiotik. Untuk mengatasi infeksi jika jumlah sel darah putih rendah.

  • Kemoterapi kombinasi. Kemoterapi kombinasi dilakukan bila terdapat peningkatan jumlah sel muda yang tidak matang atau sindrom Mielodisplasia yang berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah).

  • Transplantasi sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang disarankan kepada pengidap yang berusia 55 tahun ke bawah dan memiliki sindrom Mielodisplasia yang tidak terkontrol. Perlu diingat, sindrom Mielodisplasia banyak dialami oleh pengidap berusia 60 tahun ke atas, sehingga transplantasi sumsum tulang jarang dilakukan pada penyakit sindrom Mielodisplasia.

Komplikasi dari sindrom mielodisplasia, meliputi:

  • Anemia;

  • Perdarahan sulit berhenti akibat rendahnya trombosit (trombositopenia);

  • Sering mengalami infeksi akibat rendahnya sel darah putih matang; dan

  • Berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah).

 

Pencegahan Sindrom Mielodisplasia

Belum diketahui secara pasti bagaimana mencegah sindrom Mielodisplasia, tetapi berhenti merokok, serta mengikuti prosedur kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di lingkungan kerja, seperti menggunakan alat pelindung diri (APD), dapat mengurangi risiko terpapar bahan kimia yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya sindrom Mielodisplasia.

Pengidap sindrom Mielodisplasia cenderung sering mengalami infeksi akibat jumlah sel darah putih matang yang rendah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi:

  • Cuci tangan. Lakukan hal ini sebelum makan atau mempersiapkan makanan. Bawalah selalu pembersih tangan beralkohol sebagai pengganti air dan sabun.

  • Hati-hati dengan makanan. Hindari makanan mentah, dan masak makanan hingga betul-betul matang. Hindari buah dan sayuran yang tidak bisa dikupas, dan cuci semua produk yang ingin dikonsumsi sebelum dikupas kulitnya.

  • Hindari orang yang sedang sakit. Hindari kontak langsung dengan siapa pun yang sedang sakit, baik anggota keluarga maupun rekan kerja.

Baca juga: 4 Jenis Kelainan Darah yang Pengaruhi Sel Darah Putih

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit sesuai domisilimu melalui Halodoc.

Referensi:
NHS.uk (Diakses pada 2019). Myelodysplastic syndrome (myelodysplasia)
WebMD.com (Diakses pada 2019). Types of Blood Cancer
Diperbarahui pada 12 Agustus 2019